Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

Menurut Bank Dunia, Kemiskinan RI Lebih Buruk dari Timor Leste

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Indonesia mencatatkan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income countries) lainnya.

Berdasarkan laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2026 dari Bank Dunia, sebesar 64,2% penduduk Indonesia pada 2026 diproyeksikan hidup di bawah garis kemiskinan USD 8,30 per kapita per hari berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 2021.

Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ke-4 tertinggi dari 11 negara di kawasan ASEAN dan kelompok negara berkembang (peers) yang menjadi pembanding. Tingkat kemiskinan Indonesia tercatat berada di bawah Timor-Leste (71,7%), India (70,7%), dan Laos (68,6%).

Tingginya angka kemiskinan versi Bank Dunia disebabkan oleh perbedaan acuan batas pengeluaran harian. Bank Dunia mengklasifikasikan garis kemiskinan berdasarkan status pendapatan negara: Kemiskinan Ekstrem (USD 2,15 PPP/hari): Digunakan untuk negara berpendapatan rendah. Di Indonesia, angka ini telah berhasil ditekan hingga di bawah 1%.

Lower-Middle Income (USD 3,65 PPP/hari): Standar untuk negara berkembang kelas bawah, di mana angka kemiskinan Indonesia berada di kisaran 16–19%.

Upper-Middle Income (USD 8,30 PPP/hari): Standar yang berlaku setelah Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas. Angka USD 8,30 PPP setara dengan pengeluaran sekitar Rp35.000–Rp40.000 per orang per hari.

Sebaliknya, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) dengan acuan Garis Kemiskinan sekitar Rp580.000–Rp600.000 per kapita per bulan (sekitar Rp19.000–Rp20.000 per hari). Perbedaan metode ini menjelaskan mengapa tingkat kemiskinan versi BPS berada di kisaran single digit (sekitar 8,5%–9%), sementara versi Bank Dunia mencapai 64,2%.

Tinggi proporsi penduduk di bawah batas USD 8,30 PPP mengindikasikan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia berada pada kelompok aspiring middle class (menuju kelas menengah) dan kelompok rentan. Mereka tidak tergolong miskin secara ekstrem, tetapi sangat rawan jatuh miskin jika terjadi guncangan ekonomi seperti inflasi bahan pangan, PHK, atau biaya kesehatan mendadak.

Meski tantangan struktur ekonomi masih besar, Bank Dunia memproyeksikan tingkat kemiskinan Indonesia terus melandai secara konsisten dalam tiga tahun ke depan.

Penurunan bertahap ini didorong oleh stabilitas makroekonomi, perluasan cakupan perlindungan sosial (bansos), serta pemulihan penyerapan tenaga kerja pascapandemi.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Minibus Angkut 14 Suporter PSS Sleman Laka di Tol Saradan, 4 Orang Tewas

19 Oktober 2026 - 07:55 WIB

Arab Saudi Umumkan Perpanjangan Masa Penutupan Bandara King Khalid

19 Oktober 2026 - 00:25 WIB

Mundur Dua Tahun, Sertifikasi Halal Oktober 2028

18 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Kemenhub Perketat Pengawasan Kendaraan ODOL di Tanjung Perak

18 Oktober 2026 - 19:38 WIB

Bupati Warsubi Punya Target Ringin Contong Carnival Masuk KEN

18 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Prajurit TMMD 130 di Jombang Pun Turun ke Sawah Bantu Petani Panen Cabe Warga Klitih

18 Oktober 2026 - 18:22 WIB

Jenazah M Afen Nur Rohman Tertahan di Polandia, belum Bisa Dibawa Pulang ke Jombang

18 Oktober 2026 - 10:50 WIB

Kerjasama dengan ITS, Eri Cahyadi Siapkan Sistem Peringatan Dini untuk Sesar Kendeng dan Banjir Rob

18 Oktober 2026 - 09:42 WIB

G Arjuno – Ringgit Terbakar Hebat, 182 Tim SAR Gabungan Selamatkan 110 Pendaki yang Terkepung Api

18 Oktober 2026 - 03:29 WIB

Trending di Nasional