Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Karena dikhianati seorang mata-mata polisi dan agen ganda, Nechayev dikirim kembali ke benteng St. Peter dan Paul, guna menghabiskan sebelas tahun terakhir hidupnya dalam penjara yang brutal.
Namun legenda dan pengaruhnyanya begitu besar sehingga dia tetap berupaya melakukan korespondensi dengan Narodnaya Volya, “Kehendak Rakyat, atau Kemerdekaan’, sebuah masyarakat anarkis pimpinan Andrei Zhelyabov, sang pembunuh Tsar Alexander II.
Setelah Tsar dibunuh pada 1881, Nechayev disiksa pelahan secara menyedihkan. Dua tahun kemudian, pada usia tiga puluh lima tahun, dia akhirnya meninggal dunia.
Kisah getir hidupnya bagaimanapun mejadi inspirasi bagi teroris masa datang yang tak terbilang jumlahnya.
Pembunuhan Raskolnikov dalam novel, Crime and Punishment (Kejahatan dan hukuman) menjadikan Nechayev sebagai modelnya, meskipun hal itu ditolak oleh pengarangnya, Dostoevsky.
Seorang novelis Rusia pernah memaklumkan, “Kehendak manusia itu sangat erat dengan ketiadaan, hal yang paling assertif itu sangat dekat dengan yang paling nihil.’
Impian terhadap kerusakan ini meninggalkan sejumlah orang hidup untuk meratapi Rusia mengilhami Albert Camus dalam karyanya The Plaque (Sampar), setelah Perang Dunia II.
‘Di kota-kota, alarm berbunyi sepanjang hari. Kebakaran meledak, kelaparan muncul, semua manusia dan segala hal tengah menuju akhir. Sampar semakin luas bertumbuh-kembang melanda. Di seluruh dunia, hanya beberapa orang yang mampu menyelamatkan diri.
Mereka adalah orang-orang yang murni terpilih, ditakdirkan untuk memulai sebuah ras baru dan hidup baru, guna memperbarui kemurnian bumi.’
The Possessed (Orang Kerasukan) karya Dostoevsky begitu langsung merujuk pada anarkisme dan nihilisme Rusia. Kaum konspirator bertemu dan membunuh seorang mahasiswa bernama Shatov, sebagaimana Nechayev membunuh Ivanov.
Sang pembunuh mendeskripsikan kejahatannya sebagai tindakan yang berasal dari kehendak yang seharusnya berdampak pada aksi bunuh dirinya sendiri, yang bakal mengubah kematian Yesus Kristus bagi manusia kemudian membunuh Allah.
Selain itu, ‘Teror merupakan kutukan bagi manusia, tetapi saya akan memperkuat kehendak saya… Saya akan bunuh diri; itulah, satu-satunya upaya yang bakal menyelamatkan manusia.’
Juga ditekankan pelajaran dari Revolusi Perancis ketika sang teroris Shigalov yang memaklumkan bahwa kesimpulannya berkontradiksi dengan motif awalnya: ‘ Berawal dari kemerdekaan tanpa batas, saya pun mengakhirnya dengan despotisme tanpa batas pula.’
Berawal dari perspektif kaum Marxist kemudian Bolshevik seputar dialektika revolusi, anarkisme yang dikotbahkan Bakhunin dibasmi lewat nasib Nechayev.
Penggunaan strategi pembunuhan yang serampangan tak pernah mampu membangkitkan kerusuhan para pekerja.
Kaum anarkis memang berhasil membunuh Presiden Carnot di Perancis pada 1894, Raja Humbert di Italia enam tahun kemudian dan membunuh Kaiser wanita Austria dan Presiden Amerika Serikat, William McKinley pada 1901, namun pembunuhan segelintir penguasa yang berkuasa tidak pernah membuat kapitalisme jatuh.
Semua korban dapat diganti dengan korban lainnya. Segenap struktur masyarakat harus dihancurleburkan kemudian disatupadukan lagi.
Negara-negara Eropa tidak lenyap tuntas setelah pembunuhan pemimpin mereka seperti kerajaan-kerajaan Arab melakukannya pada masa Kaum Assassin (Pembunuh).
Sebelum dieksekusi pada 1894, seorang anarkis Perancis Emile Henry mengaku ideologinya tidak bakal bisa dihancurkan karena ‘akarnya terlampau dalam, dilahirkan dalam hati masyarakat yang rusak, yang jatuh tercerai-berai. Ideologi anarki merupakan reaksi kejam melawan aturan yang mapan’
Terlepas dari taktik teror rahasia dan sikap fanatik kaum anarkis, nasionalisme terbukti terlampau kuat. Sebaliknya, sebagai suatu kekuatan politik mereka akhirnya dihancurkan.
Supaya berhasil, masyarakat rahasia politik harus berupaya menguasai aturan-aturan yang mapan, bukan menghapuskannya.
Kaum Bolshevik bahkan menggunakan birokrasi Tsar lama karena itulah satu-satunya kelompok yang berpengalaman mengelola mesin negara yang luas.
Lenin mengklaim bahwa para istri pun mampu mengelola pemerintahan, namun ketika dia sendiri mengelola pemerintah, dia pun terpaksa kembali kepada para pejabat-pejabat tua pemerintahan. (Bersambung).











