Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG COM— Kaisar Manchu terakhir menggadaikan Tiongkok dan membiarkannya diperas oleh kapitalisme Barat.
Guna menentang kekuasaan asing, maka muncul berbagai pemberontakan masyarakat Tiongkok terakhir, para Boxer, yang sebaliknya dikenal sebagai “Tinju Harmoni Orang Benar (The Fists of Righteous Harmony).
Seperti Islam, pengaruh mereka terletak pada keyakinan mereka terhadap fatalisme, yang mengatakan bahwa semua pejuang itu kebal senjata,
“Meriam tidak mampu melukai manusia”, mereka diberitahu, “air tidak dapat menenggelamkan orang.” Slogan xenophia mereka adalah “Lindungi negeri kita, usirlah orang asing dan bunuh orang-orang Kristen.”
Para Boxer mendapat dukungan penuh komplotan Ratu Dowager ketika mengepung Kawasan Kedutaan Peking pada 1900 yang memaksa pasukan ekspedisi Eropa membebaskan para duta besar dan staf mereka yang terjebak.
Dinasti Chi’ing hidup segan dan mati tak enggan hingga 1911, hingga akhirnya dibabat oleh Triads dan Partai Republiknya Sun Yat Sen yang sadar bahwa bangsa Amerika dan Prancis sudah mengetahui cara untuk menggunakan gerakan rahasia dengan sel-selnya yang tersebar untuk menggulingkan pemerintahan.
Dia akhirnya mengakui Triads di Cina seperti Republik Irlandia mengakui IRA, yang bertindak sebagai kelompok propaganda dan pengumpul dana-dana asing.
Bagi para Freemason Eropa, Triad nampak sangat mirip organisasi serta ritualnya dengan milik mereka. Sumpah inisiasi kebun persik mereka menggambarkan semua misteri dari Mesir, yang diklaim kaum Freemason sebagai warisannya.
Jika Triad modern berkembang menjadi tempat pelindung Eropa dan Amerika, maka mereka justru memecah-belah kelompoknya dalam sel-sel seperti dilakukan Mafia di luar negeri.
Ketika Jepang menginvasi Cina pada 1930-an, Triad mengalihkan alasan keberadaan mereka dari institusi politik menjadi kriminal, khususnya seiring dengan emigrasi banyak koloni Cina berpindah ke Amerika Serikat dan Inggris.
Ketika itulah, kata “Triad” hanya berarti kelompok gangster yang hidup karena perdagangan ganja dan pelacuran atau yang paling jelek lagi. Metodenya untuk bertahan hidup adalah meneror kawasan Pecinan, tempat dia tinggal.
Dia hidup makmur karena menyiksa dan membunuh orang. Dengan demikian, sebuah gerakan politik nasional berkembang menjadi bibit kerusuhan.
Bangsa Eropa, yang menghadapi ancaman pertama atas kekaisaran Asia mereka dari kebangkitan kembali Jepang, menyebut bahaya ini sebagai “Bahaya Kuning”.
Bangsa Jepang dengan masyarakat samurainya di bawah pimpinan Kaisar mereka mengalahkan armada Rusia dan kerapkali menyerang Korea dan Manchuria pada 1904 dan 1905 sehingga menyulut revolusi kaum Bolshevik di dalam negeri untuk menentang Tsar.
Revolusi itu tidak mungkin sepenuhnya ditaklukan. Kampanye Korea diliput penulis sosialis Amerka, Jack London. Ketika membalas surat isterinya dia menulis:
“Saya sudah mengkotbahkan adanya Bahaya Ekonomi Kuning, sehingga saya mau mengkotbahkan Bahaya Kuning Militan.” Dengan cara apapun, Asia memang akan memberontak terhadap imperialisme Eropa. (Bersambung)











