Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (56): Tak Usah Dibunuh, agar Bayar Pajak

badge-check


					Ilustrasi. Foto: Priyo Suwarno Perbesar

Ilustrasi. Foto: Priyo Suwarno

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

SWARAJOMBANG.COM— Kaum Thug berdampak negatif namun sangat menentukan dampak politiknya. Ketika menyaksikan huru-hara aksi anarki di India, Inggris lantas dengan mudah menemukan prinsip mereka “memecah-belah kemudian memerintah” termasuk menggunakan pasukan negara bagian kecil untuk menaklukan huruhara negara bagian lain.

Para petani kerapkali menyambut Inggris sebagai satu-satunya jaminan keadilan mereka karena kaum Thug memang membantu meningkatkan perasaan tidak aman serta ketakutan umum di anak benua itu.

Upaya Sleeman dan para asistennya melenyapkan kultus pembununuhan menjadi bukti tertulis paling jelas yang dapat dimiliki para petani.

Untuk pertama kalinya, dalam sejarah India, penduduk desa menyaksikan adanya kemungkinan mengadakan perjalanan yang aman, dijamin oleh pasukan dan polisi yang tidak membahayakan.

Memang dalam masyarakat yang didominasi oleh kasta, tambahan kasta para penakluk lain nyaris tidak menjadi masalah.

Yang menjadi masalah adalah pembangunan pemerintah pusat yang kuat, yang mampu mengakhiri pemerasan dan pembunuhan yang dilancarkan para penguasa lokal serta kelompok-kelompok bandit.

Dengan demikian kaum Thug sebetulnya mendambakan kematian mereka sendiri. Fatalisme dan agama memungkinkan mereka bertindak atas dorongan untuk melakukan pembunuhan dan bunuh diri dengan cara yang tidak diizinkan orang-orang beradab di luar suasana perang.

Ketika kekuatan mereka merosot, mereka nyaris mengharapkan penindasan mereka sendiri, seperti dilakukan banyak masyarakat rahasia ketika menyadari kemunduran budaya mereka.

Ku Klux Klan misalnya, dalam bentuknya yang ketiga dan paling rusak merasa bersalah atas cacat cela citra mereka ketika beraksi kucing-kucingan dengan mata-mata pemerintah seperti dialami kaum Thug pada masa kemunduran mereka.

Meski demikian, Ku Klux Klan selalu merupakan bentuk gerakan perlawanan kawasan selatan Amerika Serikat terhadap Amerika Serikat Utara, sementara baru akhir-akhir ini saja kaum Thug dikaitakan dengan nasionalisme India.

Dalam sebuah suratnya yang menarik, John Master, yang menggunakan kaum Thuggee sebagai tema novelnya, “Kaum Penipu” (The Deceivers), mengisahkan masa sepuluh tahan aksi pencekikan leher para korban di kawasaan Gwalior setelah India merdeka.

“Aksi itu lebih daripada aksi penculikan. Pada waktu bersama, ada sejumlah pembunuhan dengan atau tanpa perampokan. Ada seorang tipe tokoh Robin Hood tunggal, yang jelas-jelas dibantu oleh para penduduk desa, sebagian kaena takut dan sebagian karena sejumlah klaim demi kepentingannya atau berkat dia untuk menjadi seorang anggota Thug modern…berpikir bakal menjadi pembunuh atau perampok patriotik India.

Meski Masters memperlihatkan bahwa komunikasi modern mencegah kebangkitan kembali kultus ini, namun seiring kebangkitan nasionalisme di India, para bandit pun bersatu menggunakan kaum Thug sebagai pembenaran atas kejahatan mereka.

“Sangat penting bagi kaum Thuggee untuk bertumbuh kembang sehingga para pria seharusnya melakukan perjalanan-perjalanan selama enam bulan melewati tanah-tanah yang terjangkit kolera, kobra, sungai-sungai banjir dan bandit-bandit umumnya.

Dengan demikian, ketika para pelancong tidak kembali pulang ke rumah, tidak seorangpun mencemaskannya selama dua tahun, karena terlampau terlambat untuk menemukannya sehingga ular kobra pun dipersalahkan lagi.”

Kaum Thug di India hanya dapat hidup dalam huru-hara serta sikap tidak mau tahu masyarakatnya.

Inggris menindas mereka jauh lebih efektif lewat jalur kereta api dan telegrap ketimbang dengan simpulan tali yang mereka gunakan melawan musuh-musuh mereka.

Sebuah negara industri modern tidak dapat bertoleransi terhadap ancaman apaun bagi para turis atau jalur-jalur komunikasinya.

Kaum Thug modern yang efisien seperti Mafia Amerika atau Costa Nostra, melihat jauh lebih menguntungkan menguasai beberapa jalur komunikasi ketimbang menjarahnya.

Di atas semuanya itu, jauh lebih mudah merampok pelancong dengan memaksanya membayar uang jasa pelayanan yang diperlukannya ketimbang mencekiknya demi mendapatkan dompetnya.

Anda hanya bisa mencekik orang satu kali, padahal anda mungkin saja bisa memaksanya membayar pajak seumur hidupnya. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dua Wanita Guru SDN 2 Cempoko Sragen Luka Ringan, Tertimpa Plafon Ruang yang Ambrol

9 Oktober 2026 - 07:26 WIB

Pasukan Damkar Jombang Jibaku di Karobelah, Padamkan Kebakaran Usaha Sol Sepatu

8 Oktober 2026 - 22:02 WIB

Polisi Pamekasan Bidik Khairul Kalam, Korlap Massa Palengaan yang Merobohkan Bangunan Calon Gerai Indomart

8 Oktober 2026 - 21:22 WIB

Perpres Ojol Resmi Rilis, Kemenhub Kantongi Aturan Tarif Angkutan Orang

8 Oktober 2026 - 20:37 WIB

Pasar Motor September 2026 Menggeliat, Terjual 654.343 Unit!

8 Oktober 2026 - 20:23 WIB

Imbas Dugaan Pelanggaran Etik, Pelapor Minta Sembilan Hakim MK Diberhentikan Tetap

8 Oktober 2026 - 20:00 WIB

KPK Jadwal Ulang Panggil Nusron Wajid, Kasus OTT Buka Blokir SHM PT Sumarecon

7 Oktober 2026 - 21:34 WIB

Mendunia Sidang Penolakan Gugatan Ijazah Wapres Gibran

7 Oktober 2026 - 21:22 WIB

Jatim Peringkat Tiga Impostor Content: Modus Baru Penipuan Digital

7 Oktober 2026 - 20:58 WIB

Trending di Nasional