Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM– Meski merupakan organisasi internasional, model sosial kaum Carbonari adalah rejim-rejim konstitusional Inggeris dan Amerika Serikat. Dilihat dari tujuannya, mereka merupakan kaum nasionalis. Mereka tidak pernah menarik dukungan massa.
Tetapi mereka memperlihatkan bahwa konspirasi masyarakat kelas menengah yang tengah bangkit melawan rejim-rejim lama Eropa dapat memaksakan lahirnya konsesi pemerintahan revolusioner, jika tentara tidak setia lagi. Pola konspirasi berhasil ditetapkan agar bisa ditiru.
Dalam revolusi 1830, ketika dukungan nampaknya bakal bermunculan di Paris, Belgia, Polandia, Spanyol serta berbagai bagian Jerman, Italia dan Swiss, masyarakat-masyarakat rahasia tidak lagi menjadi kelompok-kelompok konspirator yang terpisah.
Siapapun yang berkomplot untuk memperoleh konsesi bagi masyarakat kelas menengah menemukan diri mau tidak mau, menjadi pemimpin agitasi kaum nasionalis.
Mereka pun menjadi pemimpin rakyat, khususnya di daerah-daerah luas yang menggunakan satu bahasa yang dipecah-belah dalam berbagai kerajaan kota kecil seperti di Jerman dan Italia, atau pada tempat banyak kelompok bahasa yang berbeda sama-sama dipaksa bergabung dalam persekutuan yang senantiasa gelisah, seperti dalam Kekaisaran Austro-Hongaria.
Revolusi 1830 berdampak pada terciptanya satu negara Eropa baru, Belgia serta munculnya sejumlah konstitusi liberial di Benua itu.
Barangkali dampak pascarevolusi terpenting adalah pemisahan kaum moderat di negara-negara tertentu seperti Perancis, yang dipisahkan dari kaum radikal. Setelah masyarakat kelas menengah sebuah kota, negara atau kekaisaran memperoleh jatah dari kekuasaan legislatif maka ia memperlihat upaya besar untuk menindas masyarakat radikal sebagaimana dilakukan oleh rejim aristokrat.
Pada tahun 1848, ketika revoluasi berkembang luas di seluruh Eropa bagai wabah hingga nyaris tidak ada ibukota bebas dari kekerasan massal dan nyaris tidak ada negara tertindas yang tidak berhasil melancarkan revolusi, maka berbagai tujuan sosial para pemimpin nasional yang tengah bermunculan menjadi sangat jelas.
Siapapun yang berkomplot demi sebuah konstitusi dicurigai oleh komplotan yang memperjuangkan separatisme, namun keduanya justru takut kepada komplotan yang melakukan revolusi sosial.
Dalam situasi anarkis dan berbahaya itu, rejim-rejim otoritarian kerapkali berhasil mendapatkan kembali kekuasaan, karena mereka hadir sebagai satu-satunya kekuatan stabilitas yang dikenal orang.
Sedikitnya dua revolusi biasanya cenderung radikal. Pertama menggulingkan rejim yang mapan, dan kedua memutuskan kelompok-kelompok revolusioner yang bakal menguasai kelompok-kelompok lain kemudian membentuk pemerintahan baru.
Akibat tidak adanya perpaduan utuh dari Revolusi Juli di Paris pada tahun 1830, kelas menengah pun kembali berkuasa.
Awalnya mereka didukung oleh kelompok perkotaan yang marah dan dijaga secara baik oleh Lafayete dan Barisan Nasional. Monarki terpelihara baik oleh seorang raja dari dinasti Orlean yang konstitusional, Louis- Philippe.
Meski terjadi dua kerusuhan di antara para penenun dari Lyon dan kota-kota lainnya, mereka pun dibasmi oleh pasukan kerajaan.
Pada tahun 1832, kerusuhan warga Paris bercelana pendek ditindas cepat dengan kerugian sedikitnya 800 orang tewas dan luka-luka. Hal yang sama juga terjadi dua tahun kemudian, ketika puluhan pemrotes meninggal dalam barikade-barikade manusia.
Pahlawan dari berbagai kerusuhan baru ini, Auguste Blanqui berhasil dipenjara. Tetapi pada tahun 1837, pengikutnya bersatu padu dalam sebuah konspirasi menentang pemerintahan, dengan pertimbangan mereka telah mendapat dukungan dari massa pekerja Perancis, walau sedikit sekali pengamanan mereka lakukan untuk aksi tersebut.
Komplotan mereka pun berakhir sia-sia. Blanqui sendiripun sebetulnya sangat bodoh karena membagi-bagikan para kerabatnya konspirator yang tergabung dalam Societe de Saisons ke dalam kelompok Bulanan, Mingguan dan Harian dibawa pimpinan komite empat Musim.
Nyaris satu abad kemudian, kerusuhan ini terinspirasi oleh novel fantasi terbaik karya G.K. Chesterton, penulis novel mengerikan yang anarkis, The Man Who Was Thursday: A Nightmare (Lelaki bernama Kamis; sebuah mimpi buruk).
Sekitar 1.200 konspirator yang menamakan diri sesuai kalender itu memang berupaya menjarah Hotel de Ville di Paris, Mei 1839, namun gagal menggerakkan warga Paris yang bersantai jalan kaki pagi hari Miggu untuk bergabung bersama mereka.
Mereka pun mudah ditangkap dengan sedikit upaya bertahan. Mereka pun tidak mampu meruntuhkan aristokrasi orang-orang kaya baru yang kini memerintah masyarakat.
‘Dengan berada dalam lembaga sosial, kanker macam apakah mereka dalam tubuh manusia.,’ kumandang manifesto para pengikut Blanqui.
‘Syarat pertama untuk kembali sehat adalah dengan menyingkirkan kankernya.’ Namun perjalanan itu kembali kepada Teror dan perputaran kereta-kereta kotoran bermuatan para aristokrat menuju gulotin pun ditunda hingga kerusuhan selanjutnya. (Bersambung).











