Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (22): Kaum Papist Memuja Berhala Terkutuk

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist
Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

SWARAJOMBANG.COM-– Berkat kegigihannya, perlawanan kalangan Katolik Irlandia menjadi sangat berarti ketika Pemerintah Inggris atas Irlandia dibedakan oleh sikap keras yang kejam. Buku History of Ireland, karya kontemporer John Mitchel merangkum situasi ini;

Di Irlandia, mereka menemukan diri berhadap-hadapan satu sama lain. Bukan antara dua kelompok sosial tetapi antara dua bangsa.

Satu kelompoknya secara substansial berkuasa atas hidup dan mati kelompok lain. Ketika kami mengatakan bahwa satu dari dua bangsa ini merampas tanah-tanah terbaik dari yang lainnya, di mana ras yang diperas itu kini bergembira ria memanennya sebagai penyewa penuh.

Juga bahwa bangsa yang dominan merasa bersatu membenci yang lain, baik sebagai ‘pemberontak’ yang hanya membutuhkan kesempatan untuk bangkit dan memenggal leher para tuan mereka.

Dan, seperti kaum Papist terikat kepada ‘pemujaan berhala terkutuk’ atas misa suci, kita pun dapat mudah memahami sulitnya ‘masalah tuan tanah dan penyewa’ di Irlandia.

Bangsa Irlandia selalu memperlihatkan bakat untuk membentuk organisasi-organisasi bawah tanah, khususnya di desa atau pada tingkat distrik di perkotaan. Karena itu, para imigran Irlandia di Amerika Sertika berniat menjadikan mesin politik Tammany di New York sebagai model bos politik pedesaan.

Setelah era 1780-an, ketika Revolusi Amerika menjadi contoh berhasilnya penggulingan kekuasaan Inggris, Irlandia utara dan selatan juga mengalami perlawanan terorganisasi yang bertentangan dengan hukum.

Di utara, para pemuda Oak dan Steel bersumpah merahasiakan diri, membunuh ternak, membawa senjata dan membakar rumah-rumah sebagai penolakan atas kewajiban membangun jalan-jalan dan kenaikan harga sewa rumah.

Di selatan, para pemuda kulit putih menyerang para tuan tanah dengan bersenjatakan sabit, tongkat dan pedang. Bagi mereka, teror merupakan taktik korban melawan sang penindas, menjadi satu-satunya cara orang miskin menolak pendudukan tentara.

Kekerasan sporadis memang tidak menghabiskan banyak biaya, namun sangat menakutkan karena dilakukan dengan jebakan dan penyerangan.

Usai Pertempuran Boyne pada 1689, para pejuang perlawanan Irlandia bernama Wild Geese pergi dari negerinya untuk melawan Prancis, sementara puluhan ribuan lainnya berangkat menuju Amerika.

Pembantaian yang dilancarkan Cromwell “Sang Pelindung” di Drogheda serta pasukan Raja William II di Limerick tidak pernah terlupakan. Namun seperti pembunuhan kejam atas 12.000 imigran Skotlandia penganut Protestan di Ulster selama awal pemberontakan Irlandia pada 1641, peristiwa itu pun dilupakan, meski bukan oleh keturunan mereka.

Berjuang demi Prancis, Brigade Irlandia pada Pertempuran Fontenoy pada 745 mengalahkan Duke of Cumberland serta Inggris dengan tuntutan kejam. Mereka berteriak, “Ingat kasus Limmerick!” Cumberland “Sang Pembantai” ketika itu pun ditarik kembali ke Skotlandia untuk membantai Para Highlander di Culloden.

Perlawanannya terhadap bangsa Kel merupakan kemenangan yang brutal. ‘Ada alasan tepat untuk percaya bahwa mereka akan segera dipecah-belah dan dihancurkan,’ balasnya kepada Lord Granville sebelum konflik meledak, dalam sebuah surat yang masih tersimpan dalam kotak pengiriman berwarna hijau di Gedung Royal Archives di Windsor, ‘dan bahwa sebuah kasus contoh kecil akan memperbaiki negeri ini menjadi negara yang benar-benar tenang.’

Kasus contoh kecil itu melibatkan eksekusi militer termasuk memerintahkan Lord Loudon serta kavalerinya untuk ‘mengusir Ternak, menjungkirbalikkan Bajak serta menghancurkan semua barang yang dapat anda miliki sedemikian rupa— seperti terjadi selama Pemberontakan dengan membakar semua rumah anggota Dewan Pemimpin (Houses of the Chiefs) hingga ke utara termasuk Benteng Agustus. Kebijakan bumi hangus ini ternyata masih mencemaskan Cumberland.

Karena itu, dia kemudian menulis lagi surat kepada Duke of Newcasttle, ‘Semua yang baik yang pernah kita lakukan merupakan pertumparan darah kecil-kecilannya, yang hanya melemahkan sifat gila-gilaan, bukan menyembuhkannya.’

Dia pun gemetar ketakutan ‘karena tempat jorok ini mungkin masih menjadi reruntuhan pulau ini dan keluarga kita.’ Tetapi sistem klan kuno dihancurkan oleh benteng jalan serta domba. Para kepala sukunya dibeli lewat kesempatan untuk mengubah tanah klan menjadi milik pribadi.

Bagaimanapun, Revolusi Amerika mengubah kesalahan-kesalahan dan rasa enggan masa lalu dalam pertempuran demi kebebasan.

Hal ini terefleksi dalam perjuangan antara orang-orang pegunungan yang merdeka– terutama orang-orang keturunan Skotlandia dan Irlandia—serta pemilik perkebunan yang sedang naik daun, untuk tetap setia kepada Raja George III serta Inggris. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Perampok Tusuk Korban 22 Kali Gondol Rp76 Juta, 12 Jam Sudah Diringkus Polisi

20 Juni 2026 - 18:17 WIB

Perampokan di Kandangtepus, Polisi Lumajang Meringkus Dua dari Empat Tersangka di Senduro

20 Juni 2026 - 17:31 WIB

Agus Salim dan Anas Burhani Sambut Masa Aksi Aliansi GMNI dan BEM Undar di DPRD Jombang

20 Juni 2026 - 16:27 WIB

Dokter Tifa Dirujuk ke RS Polri Kramat Jati, setelah Ditetapkan sebagai Tersangka Bersama Roy Suryo

20 Juni 2026 - 08:54 WIB

Tak Ada Kenaikan Bunga KPR Subsidi Meski BI-Rate Naik

19 Juni 2026 - 21:37 WIB

PLN Sebut Kendala Pembangkit Terkait Pemadaman di Jawa

19 Juni 2026 - 21:28 WIB

Kereta Ekonomi Diskon 30 Persen Berlaku Mulai Besok

19 Juni 2026 - 21:13 WIB

Prosedur Lelang Proyek di BGN di Bawah SND, Pembela: Klien Saya Sony Sanjaya Selalu Prosedural

19 Juni 2026 - 17:30 WIB

Jombang Terima Bantuan Pengembangan 9 Paket Ayam Petelur Senilai Rp1,48 Miliar

19 Juni 2026 - 13:47 WIB

Trending di Nasional