Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

Alasan Pemerintah Daerah Berlomba-lomba Mencari Pendapatan dari Pajak

badge-check


					Alasan Pemerintah Daerah Berlomba-lomba Mencari Pendapatan dari Pajak Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM– Dr. dr. Andi Sofyan Hasdam Sp.N, Ketua Komite I DPD RI/MPR RI dari Dapil Kalimantan Timur, menyoroti fenomena kenaikan pajak daerah yang belakangan ini ramai diperbincangkan publik.

Ia menyinggung kasus di Kabupaten Pati, di mana Bupati setempat sempat menaikkan pajak bumi dan bangunan (PBB) hingga 250 persen.

Menurutnya, kebijakan itu mencerminkan kondisi sulit yang tengah dihadapi banyak daerah.

“Sahabat semua, jadi kita belajar dari kasus Bupati Pati, dimana beliau menaikkan pajak sebesar 250 persen karena memang daerah sekarang pada kesulitan anggaran,” ujarnya dalam unggahan di Instagram pribadinya sepekan lalu.

Begini Kata Prabowo Subianto Terkait Tuntutan 17+8, Apakah Sesuai Harapan Anda?

Kebijakan tersebut langsung memicu gelombang penolakan besar. Ribuan warga melakukan aksi demonstrasi menentang kenaikan pajak PBB itu. Tekanan publik yang kian memuncak akhirnya membuat Bupati Pati membatalkan kebijakan tersebut.

Andi menjelaskan, sebenarnya tidak hanya Pati yang berencana menaikkan pajak. Beberapa daerah lain juga sempat menyiapkan kebijakan serupa, namun membatalkannya setelah kontroversi di Pati mencuat. Ia menilai langkah itu muncul karena daerah makin terdesak kebutuhan anggaran.

Viral se Indonesia, Kacunk Motor Konten Otomotif dan Poligami Digugat di PN Tulungagung

Situasi semakin rumit ketika pemerintah pusat berencana menurunkan dana transfer ke daerah mulai 2026. “Yang 2025 itu sebesar 86,4 miliar, itu turun menjadi 65 miliar, 24 persen terpotong,” tegasnya.

Kondisi ini dikhawatirkan membuat daerah semakin terjepit, karena dana transfer merupakan tulang punggung anggaran pemerintah daerah.

Ia menambahkan, berbagai kewenangan daerah kini juga banyak yang dialihkan ke pusat. “Coba bayangkan bahwa daerah tambang sudah hilang, lari ke pusat. Kemudian blue economy, masalah kelautan juga sudah bukan urusan kabupaten-kota,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan perlunya pembicaraan khusus agar daerah tidak kehilangan ruang gerak akibat berkurangnya sumber keuangan dan kewenangan.

“Jangan sampai daerah malah tidak bisa ngapa-ngapain lagi karena dananya habis terpotong,” pungkasnya.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Hadapi Petugas Pajak, Ipda Purnomo ‘Belajar Baik’ Rela Matikan Tombol Pendapatan Iklan Youtube

30 September 2026 - 09:19 WIB

Harga Daging Ayam Rp41.750 Per Kg, Telur Rp29.500

29 September 2026 - 21:14 WIB

Rute Baru Hong Kong-Surabaya Dibuka, Kemenpar Bidik Wisman

29 September 2026 - 20:57 WIB

Jatim Revitalisasi Dermaga Bulusan Rp6 Miliar, Urai Macet Ketapang-Gilimanuk

29 September 2026 - 20:35 WIB

Baru Saja Masuk Penjara 2,5 Tahun, Kini Hellyana Wagub Babel Jadi Tersangka Kasus Pidana Ijazah Palsu

29 September 2026 - 17:03 WIB

Sumobito Dua Kali Kebakaran Lahan dalam Seminggu, Wiku Birawa: Kebakaran Lahan 157 Kali Luas 148 Ha

29 September 2026 - 15:03 WIB

Bukan Hanya MBG Saja, Ternyata Ada 172 Dokter PPDS di RSUD Dr Soetomo Alami Keracunan Massal

29 September 2026 - 13:57 WIB

Dedi Mulyadi Minta Polisi Tangani secara Hukum Oknum Guru SMPN di Subang Rekam Rok Siswi

29 September 2026 - 13:16 WIB

Hartono Vs Purwanto di RALB Koperasi Sejahtera Jombang: Anggota Tolak Laporan Pertanggungjawaban Ketua

29 September 2026 - 12:21 WIB

Trending di Nasional