Penulsi: Enrico Narendra Sadewa | Editor: Priyo Suwarno
SAMARINDA, SWARAJOMBANG.COM– Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Samarinda membakar ban dan berupaya menerobos gerbang Kantor Gubernur Kalimantan Timur saat demo pada Kamis (9/4/2026). Aksi ini menolak audiensi dengan pejabat OPD dan menuntut Gubernur Rudy Mas’ud turun langsung, sebagai protes atas ketimpangan pembangunan provinsi.
Korlap aksi, Taufikuddin (Ketua PC PMII Samarinda), menyatakan massa hanya mau dialog dengan gubernur. “Kami tolak audiensi tertutup. Gubernur harus hadir untuk dengar aspirasi kami,” tegasnya kepada wartawan.
Demo digelar di depan Kantor Gubernur Samarinda sebagai kritik terhadap kebijakan Rudy Mas’ud. Massa soroti isu jalan rusak, distribusi BBM terbatas, pemadaman listrik, krisis air bersih, pengelolaan tambang ilegal, serta lubang tambang dalam yang berbahaya.
PMII ajukan 10 tuntutan:
-
Perbaikan infrastruktur jalan di daerah tertinggal seperti Mahakam Ulu.
-
Pemerataan distribusi BBM, listrik, dan air.
-
Layanan kesehatan serta pendidikan merata.
-
Penegakan hukum lingkungan, khususnya tambang ilegal.
-
Pemenuhan hak tenaga honorer.
Jalannya Aksi
Ratusan mahasiswa hadir dengan spanduk dan orasi. Puncaknya, massa bakar ban di depan gerbang, ciptakan asap hitam pekat. Beberapa peserta coba terobos pagar, tapi dihalau polisi dan Satpol PP. Ketegangan picu tiga mahasiswi pingsan. Aparat awasi ketat sepanjang aksi hingga bubar.
Rudy Mas’ud tak hadir karena sedang di luar Samarinda, kata sumber PMII. Pemprov tawarkan dialog dengan OPD, tapi ditolak. Tuntutan diserahkan simbolis tanpa konfirmasi kebijakan langsung.
Aksi publikasikan aspirasi ke publik dan media, meski tak tembus tuntutan konkret. PMII ancam demo lanjutan jelang aksi massal 21 April 2026 jika pemerataan pembangunan dan anggaran strategis tak ditanggapi serius. **











