Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Sebuah alarm bahaya kemanusiaan berskala global baru saja dibunyikan oleh para ilmuwan iklim. Melalui studi pemodelan teranyar yang dirilis oleh lembaga riset Climate Impact Lab (kolaborasi antara Universitas Chicago, UC Berkeley, dan lembaga lainnya), fenomena Super El Niño yang tengah terjadi di bumi saat ini diproyeksikan bakal memicu 451.000 kematian tambahan (excess deaths) akibat sengatan panas ekstrem.
Proyeksi fatal tersebut mencakup periode sembilan bulan, terhitung sejak berkembangnya fenomena ini hingga puncaknya pada Februari 2027.
Berdasarkan laporan bertajuk “451,000 Lives at Risk: Where Action Can Save Lives During a Super El Niño”, para peneliti mengalkulasi bahwa kombinasi antara krisis iklim buatan manusia dan siklus El Niño yang masif akan menaikkan suhu daratan global rata-rata hingga 1,2 derajat Celsius, memicu lonjakan hari-hari dengan panas ekstrem sebesar 44% di atas tahun-tahun normal.
Tragisnya, beban kematian ini tidak tersebar merata. Mayoritas korban jiwa diproyeksikan terkonsentrasi di wilayah berkembang belahan bumi selatan (Global South), terutama negara-negara tropis.
Wilayah-wilayah tersebut dinilai rentan karena keterbatasan akses terhadap fasilitas pendingin ruangan, gangguan ketahanan air bersih, serta sistem layanan kesehatan darurat yang belum sekokoh negara-negara maju.
Dari puluhan ribu wilayah yang dipetakan di seluruh dunia, Indonesia masuk dalam daftar 2 besar negara dengan proyeksi kematian tambahan tertinggi di dunia, tepat di bawah Nigeria.
Selain ancaman kesehatan berupa sengatan panas langsung (heatstroke), Super El Niño juga membawa ancaman krisis turunan yang sangat masif. World Food Programme (WFP) sempat memperingatkan bahwa fenomena iklim ekstrem berdaya rusak tinggi seperti ini rentan mendorong hingga 50 juta orang ke jurang kelaparan akut akibat kegagalan panen sektor agraris serta lonjakan harga pangan global.
“Selama ini kita hanya bisa memprediksi dampak perubahan suhu terhadap komoditas pertanian. Sekarang, melalui pemodelan empiris ini, kita dapat memprediksi dampak terburuknya terhadap manusia, yaitu kematian,” tutur Prof. Michael Greenstone, direktur Energy Policy Institute di Universitas Chicago (EPIC) sekaligus salah satu pendiri Climate Impact Lab.
Greenstone menekankan bahwa rilis data ini sengaja dikeluarkan secara cepat sebelum publikasi penuh jurnal ilmiah selesai, demi memberi waktu bagi pemerintah di negara-negara prioritas utama untuk segera mengaktifkan protokol mitigasi darurat.
Penyelamatan puluhan ribu nyawa masih sangat mungkin dilakukan dengan tindakan taktis di lapangan. Solusi cepat tersebut mencakup pendirian pusat penyejuk publik (cooling centers), penyempurnaan sistem prakiraan cuaca darurat berbasis komunitas, penambahan kapasitas staf medis, serta regulasi ketat mengenai pembatasan jam kerja di luar ruangan bagi para pekerja lapangan selama suhu mencapai titik kritis.***











