Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Revolusi para professional biasanya menganggap pemerintah sebagai semacam konspirasi orang kaya terhadap rakyat, yang dianggap lugu dan pasif.
Sebagai komplotan yang menunjuk diri bertindak demi kaum miskin, mereka berupaya melengserkan atau menggantikan klik-klik orang kaya.
Usai revolusi, mereka mendidik para pekerja supaya memahami bahwa mereka, para revolusioner, sebagai benar-benar pemimpin mereka.
Blanqui sendiri, menyamakan istilah “diktator kaum proletariat” dalam upayanya membenarkan masa-masa menyusul berhasilnya revolusi, ketika para revolusioner yang ahli, yang meski belum mendapatkan dukungan bangsanya, justru mendikte rakyatnya.
Meski ritus-ritus revolusi kerap menggelikan, masyarakat rahasia kaum nasionalis pada awal abad sembilan mungkin merupakan unsur terpenting perubahan politik.
Pada masa pergolakan, efektivitas ritus ini tak perlu diragukan. Di berbagai negara, khususnya Italia, pusat pembinaan Masonic menjadi sarana kebangkitan politik kelas menengah.
Masyarakat rahasia nasional termasyur di benua Eropa, seperti kaum Carbonari pada awal abad kesembilan, sangat terpengaruhi disusupi oleh kaum Freemason.
Meski mengadopsi banyak ritus persaudaraan yang lebih tua, kaum Carbonari, pada dasarnya merupakan organisasi politik jika dirunut dari masa kekuasaan Napoleon di Italia.
Pusat pembinaan pertama kaum Masonik didirikan di Capua, antara 1802 dan 1810 oleh sekelompok pejabat republik pasukan Prancis yang jengkel terhadap perkembangan Bonapartisme.
Pusat-pusat pembinaan berperan menggerakkan oposisi politik terhadap Perancis dan kepada pers demi jaminan konstitusional; mendapat banyak calon anggota di antara para staf pasukan, tuan tanah dan pejabat.
Kaum Carbonari meminjam nama mereka. Banyak ritus mereka berasal dari masyarakat pembuat arang yang saling bergotong-royong, yang berkembang pesat semenjak Abad Pertengahan kemudian terpengaruh oleh kaum Freemanson.
Upacara inisiasi mereka merupakan perpaduan berbagai ritus tradisional, diikuti siksaan dengan mata tertutup yang dilakukan dekat api di hadapan Salib dan kapak.
Sumpah mereka dibuat mengikuti model sumpah kaum Mason. Dengan tangan ditumpangkan di atas kapak, upacara dimulai dengan sumpah, “Di atas baja ini, instrumen pembalasan dendam para pesumpah palsu secara teliti menjaga rahasia Carbonarisme, baik untuk menulis, memahat dan melukis apapun tentang hal ini, tanpa mendapatkan izin tertulis.
“Saya berjanji untuk membantu para Saudaraku yang Baik ketika diperlukan sejauh kemampuanku serta tidak berupaya dengan cara apapun untuk melawan kehormatan keluarga mereka. Saya setuju dan berharap bahwa jika saya bersumpah palsu, maka badanku boleh dipotong berkeping-keping, kemudian dibakar lalu abu jenazahku dibuang diterbangkan angin agar namaku musnah dari ingatan Para Saudara yang Baik di seluruh dunia.”
Sumpah kaum Carbonari jelas-jelas tidak bertendensi politis, berisi ‘tidak satu katapun tentang tujuan organisasi’ seperti dicatat oleh pemberontak Mazzini ‘dengan rasa heran dan penuh curiga’ ketika dia diinisiasi menjadi anggota masyarakat itu. Tetapi karena kaum Carbonari direkrut dari kalangan kelas menengah yang ambisius, maka mereka menginginkan kemajuan politis bagi tingkat sosial itu.
Tempat-tempat pembinaan mereka tersebar di Perancis hingga Spanyol, dari Italia hingga Yunani, bahkan hingga ke Rusia.
Di manapun mereka merepresentasikan diri sebagai penyebab liberalisme melawan Persekutuan Suci yang memang dibentuk untuk menguasai Eropa menyusul kekalahan Napoleon.
Dalam berbagai rangkaian kerusuhan yang berawal pada tahun 1812, kaum Carbonari memenangkan konstitusi di Spanyol dan beberapa negara bagian Italia serta kemerdekaan bagi bangsa Yunani.
Mereka sangat efektif ketika disatukan dengan para perwira muda mereka—yang terkenal dengan pasukan-pasukan mereka sehingga mampu membakar semangat mereka untuk melakukan pemberontakan.
Bagaimanapun, para penguasa reaksioner Eropa segera menumbangkan pemerintahan-pemerintahan konstitusional baru itu. Dan, seiring dengan gagalnya kudeta terakhir yang diinspirasi oleh kaum Carbonari, marga Descembrist bangkit menentang Tsar Nicholas I dari Rusia pada 1825, sehingga masa jaya masyarakat borjuis semu para Masonik pun berakhir. (Bersambung).











