Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (31): Masyarakat Nasionalis Dibentuk Seperti Militer

badge-check


					Menelisik Akar Terorisme (31): Masyarakat Nasionalis Dibentuk Seperti Militer Perbesar

Penulis: Jacobus E. Lato   |  Editor: Hadi S. Purwanto

SWARAJOMBANG.COM— Peraturan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat atau kelompok minoritas yang diterapkan penjajah, merupakan kondisi paling umum yang cenderung membangkitkan adanya masyarakat rahasia kaum nasionalis.

Perlawanan terhadap peraturan semacam ini biasanya berawal dari pembentukan masyarakat budaya yang terbuka, yang dibentuk sebagai kelompok para pemimpin mayoritas masyarakat tertindas.

Kelompok ini berkembang berdasarkan pertimbangan budaya seiring dengan tuntutan reformasi terhadap kekuasaan yang sedang bercokol.

Ketika semua itu ditentang, kelompok pun terpecah belah menjadi kelompok moderat atau ekstremis atau bekerja di bawah tanah.

Pada titik inilah, masyarakat rahasia kaum nasionalis terbentuk. Tujuannya adalah melakukan kerusuhan. Organisasinya yang bergaya militer kerap mengandalkan revolusi massa masyarakat perkotaan.

Sejarahwan Inggris, Sir Lewis Namier, dalam pengamatannya yang sangat mengagumkan seputar penyebab revolusi Eropa tahun 1848, menemukan bahwa kaum revolusioner merupakan intelektual kelas menengah paling eksklusif yang mendapat keuntungan dari kerusuhan-kerusuhan massal; yang justru banyak muncul di kawasan kumuh padat di ibukota-ibukota.

Revolusi Prancis menentukan pola pemberontakan perkotaan. Di ibukota Prancis, perusuh berkomplot naik ke puncak kekuasaan namun kemudian digulingkan.

Paris bergerak, bangsa bergerak pun. Teror sebelum masa pemerintahan Napoleon Bonaparte membuktikan bahwa sekelompok kecil pria nekad, seperti kaum Jacobin dapat merebut kekuasaan, bertahan beberapa saat berkat penggunaan para agen mereka serta orang yang dilatih secara militer guna membasmi kelompok oposisi dalam dan luar negeri.

Bagaimanapun, “Konspirasi Orang-Orang Semartabat”, kegagalan Babeuf meraih kekuasaan pada 1796 justru memperkenalkan era revolusi para profesional – dari orang-orang seperti Filippo Buonarroti dan Aguste Blanqui.

Orang-orang ini, yang menyukai revolusi, persiapan dan ritusnya, membentuk sebuah masyarakat rahasia kecil sebagai sarana perjuangan nasionalisme mereka.

Kebijakan revolusi perkotaan sangat jelas. Bertujuan membentuk kelompok militan, menciptakan rasa tidak aman lewat aktivitas teroris dan menggunakan dukungan perwira pasukan simpatisan yang progresif.

Menunggu hingga masa paceklik atau malaise membuat kelompok masyarakat perkotaan gelisah kemudian melancarkan kerusuhan. Merebut titik-titik strategis kota seperti parlemen, istana dan kantor-kantor surat kabar.

Mengumumkan kelompok revolusionernya menjadi pemerintahan sementara, sambil menekan upaya kontrarevolusi apapun. Yang indah dari metode ini adalah ia membutuhkan beberapa militan dan jika ada, sedikit dukungan masyarakat. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sasar Toko Emas, Pria Bersenjata Api Laras Panjang Jarah Perhiasan Rp350 Juta

18 Juli 2026 - 22:44 WIB

Terdapat Luka Tembak di Kepala, Bos Otomotif Tewas di Kamar Hotel St Regis Jaksel

18 Juli 2026 - 22:10 WIB

50 Karyawan SGS Unjuk Rasa di Depan Disnaker Jombang: PHK Tipu-tipu

17 Juli 2026 - 21:07 WIB

Landas Pacu Bandara Juanda Direvitalisasi Agar Pesawat Jumbo Bisa Mendarat

17 Juli 2026 - 20:25 WIB

Rektor ITS: Tak Boleh Mahasiswa Mundur karena Biaya

17 Juli 2026 - 20:00 WIB

Beban Rp124 Miliar tapi Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong, Wibisono: Patut Diduga Langgar Tiga Undang Undang Sekaligus!

17 Juli 2026 - 14:55 WIB

Kosmak Ungkap Dugaan Jaringan Bisnis Besar di Bawah Kendali Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 - 11:27 WIB

Piala Dunia FIFA bukan Sekadar Hiburan, Hasil Survei Kadin-TVRI: Punya Efek Ekonomi Langsung Rp5 Triliun

17 Juli 2026 - 10:25 WIB

Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong: Uang Rp124 Miliar Milik 300 Anggota tak Bisa Dicairkan

17 Juli 2026 - 05:32 WIB

Trending di Nasional