Menu

Mode Gelap

Headline

Calon Cobek Terbesar di Indonesia untuk Festival Rujak Uleg 2026 Hari Jadi 733 Surabaya

badge-check


					Inilah cobek rakasa yang dipesan khusus dari perajin cobek di Tulungagung, untuk acara Festival Rujak Uleg 2026, peringatan hari jadi kota Surabaya ke-733. Fito: ist Perbesar

Inilah cobek rakasa yang dipesan khusus dari perajin cobek di Tulungagung, untuk acara Festival Rujak Uleg 2026, peringatan hari jadi kota Surabaya ke-733. Fito: ist

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, SURABAYA— Di tengah riuh rendah persiapan perayaan Hari Jadi Kota Surabaya ke-733, ada satu benda yang kini berdiri gagah di tengah arena Surabaya Expo Center, Jalan Kusuma Bangsa.

Bukan bangunan, bukan panggung, melainkan sepotong batu andesit raksasa yang dibentuk menyerupai cobek, benda dapur paling akrab bagi warga Kota Pahlawan.

Ini dia Cobek Batu Raksasa, karya dan persiapan istimewa Pemerintah Kota Surabaya untuk memastikan Festival Rujak Uleg 2026 bertajuk Rujak Phoria berjalan megah, berkesan, dan penuh makna budaya.

Spec Cobek

Panjang 3,2 meter, lebar 2,1 meter, kedalaman 45 sentimeter, berat mencapai hampir 2,8 ton. Itu ukuran raksasa cobek utama yang disiapkan khusus. Di sebelahnya, ada satu lagi ukuran sedang, khusus jadi tempat berfoto pengunjung.

Benda megah ini dipesan dan dikerjakan sepenuhnya oleh kelompok pengrajin batu Desa Wajak, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, daerah yang sudah terkenal puluhan tahun sebagai pusat kerajinan cobek batu andesit terbaik di Jawa Timur.

Dikerjakan oleh 12 perajin ahli selama 25 hari penuh — mulai dari pemilihan bongkahan batu utuh dari pegunungan Besuki, pembentukan kasar, pemahatan detail, hingga pemolesan akhir agar permukaannya pas dan aman dipakai.

Total biaya pembuatan dan pengiriman mencapai Rp 128.000.000, diambil dari anggaran Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya.

Ada hal unik lain: ulekan yang dipakai juga ukuran raksasa, panjang 1,8 meter, berat 12 kilogram, dibuat sepasang di tempat yang sama di Tulungagung, senilai tambahan Rp 12 juta. Semuanya dirancang serasi, seimbang, serasi — mencerminkan harmoni budaya Surabaya.

Angka itu meliputi harga bahan baku, upah tenaga ahli, proses pengerjaan rumit, hingga biaya pengangkutan pakai truk gandeng dan alat berat dari Tulungagung langsung ke lokasi pesta.

Batu dipilih kualitas terbaik: padat, kokoh, tidak mudah pecah, dan awet puluhan tahun — persis seperti karakter warga Surabaya: kuat, tahan banting, dan bernilai tinggi.

Bagi warga sini, cobek bukan sekadar alat penumbuk bumbu.

Ia simbol penyatuan. Di dalamnya, cabai, gula, garam, terasi, kacang, dan aneka buah-buahan dicampur, diulek, dipersatukan jadi satu rasa: pedas, manis, asam, gurih, segar — persis seperti Surabaya, kota tempat beragam suku, budaya, dan tradisi hidup berdampingan, menyatu jadi satu identitas kuat.

Herry Purwadi, Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya:

“Kami sengaja buat sebesar ini, pesan khusus ke pengrajin terbaik Tulungagung, dan alokasikan anggaran cukup besar. Bukan cuma supaya megah, tapi supaya pesannya sampai. Rujak Cingur itu makanan kebanggaan, cobek itu jantungnya,” Kata dia.

“Kalau diulek bareng-bareng di cobek raksasa ini, maknanya jadi: Surabaya disatukan, diulek bersama, maju bersama. Tahun ini tema kami Rujak Phoria, menyambut semangat Piala Dunia, jadi kami ingin kemeriahannya juga sebesar semangat persatuan itu. Nilainya mahal, tapi nilainya budaya jauh lebih besar.” — Jumat, 8 Mei 2026

Batu ini tiba di lokasi Rabu malam lalu, diantar pakai truk khusus, ditaruh pakai alat berat. Sejak pagi tadi, sudah ramai warga, pedagang, dan peserta festival yang berhenti, menyentuh permukaannya, berfoto, berdecak kagum. Bau sepat batu masih tercium samar, tanda baru selesai dipoles halus.

Persatuan
Puncak acara nanti malam, Sabtu 9 Mei 2026 pukul 19.00 WIB, cobek raksasa ini jadi pusat perhatian. Walikota Surabaya bersama pejabat, tokoh masyarakat, dan perwakilan warga akan sama-sama memegang ulekan besar, berbaris melingkar, lalu mengulek bumbu rujak raksasa berisi bahan cukup untuk 2.000 porsi.

Hasilnya nanti dibagikan gratis ke ribuan pengunjung yang memadati arena.

Rina Wahyuni, Ketua Tim Kerja Pengembangan Seni & Budaya:
“Kami ingin pengunjung tidak cuma datang, makan, lalu pulang. Tapi membawa pesan: di Surabaya, segala perbedaan kalau disatukan, diolah dengan baik, jadi sesuatu yang enak, nikmat, dan membanggakan. Cobek ini jadi simbol nyata itu. Kami pastikan aman, kuat, dan siap dipakai beramai-ramai.”

Selain cobek utama, panitia juga siapkan 137 cobek ukuran standar untuk lomba rujak uleg antarkelompok, yang diikuti lebih dari 500 peserta dari sekolah, instansi, komunitas, hingga daerah lain seperti Sumenep, Sampang, dan Kediri.

Pesta Kuliner

Festival Rujak Uleg sudah masuk tahun ke-21, jadi agenda wajib Hari Jadi Surabaya. Dulu sederhana, sekarang makin megah, makin berwarna.

Tahun ini ada parade kostum, pertunjukan seni, stan kuliner nusantara, sampai pesta kembang api penutup. Ditargetkan lebih dari 12.000 orang datang, berputar ekonomi lebih dari Rp1,2 miliar.

Namun di balik kemeriahan, Cobek Batu Raksasa tetap jadi jantung cerita. Sebab di situlah semuanya bermula: dari makanan sederhana khas rakyat, diangkat jadi identitas kota, lalu disimbolkan dalam benda besar, kokoh, dan abadi ini.

Pak Slamet (56 tahun), warga Wiyung yang datang sejak sore:
“Dulu saya lihat festival ini mulai kecil saja. Sekarang cobeknya sebesar ini, dipesan jauh dari Tulungagung, biayanya pun tak murah. Bangga sekali. Ini bukan cuma batu, ini bukti kalau budaya kita dijaga, dibesarkan, dibanggakan. Nanti malam saya pasti tunggu momen ngulek bareng, mau lihat langsung.”

Saat matahari mulai tenggelam dan lampu-lampu warna-warni mulai menyala di sekeliling arena, Cobek Batu Raksasa itu berdiri tenang, kokoh menantikan momen puncak nanti malam.

Ia diam, tapi bercerita banyak: tentang Surabaya yang tak pernah lupa akarnya, yang selalu merajut persatuan, dan selalu merayakan hidup dengan penuh semangat — persis seperti rasa rujak yang selalu bikin rindu.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

“Menolak Punah” dan “Pesta Babi”: Antara Kebenaran, Perjuangan dan Larangan!

9 Mei 2026 - 21:46 WIB

Tambah Lagi Insiden Tewas Terjun dari Jembatan Cangar: Kasus Keempat Maret- 8 Mei 2026

9 Mei 2026 - 19:01 WIB

Jakarta-Bogor Kompak Keracunan MBG, Warganet: Nyawa Anak-anak Jadi Taruhan

9 Mei 2026 - 17:14 WIB

Jembatan H Jusuf Hamka Membentang di Sungai Brantas di Jipurafah Plandaan, 24 x 4.5 M Biaya Rp 850 Juta

8 Mei 2026 - 19:50 WIB

208 Ribu Pelanggan Sudah Nikmati Jaringan Gas PGN

8 Mei 2026 - 19:42 WIB

Diskon PBB dan Transportasi Jadi Kado Spesial Warga Surabaya

8 Mei 2026 - 19:32 WIB

Gunung Dukono Maluku Utara Meletus: Warga Jepang dan Cina Tewas, 18 Pendaki Butuh Dievakuasi

8 Mei 2026 - 18:09 WIB

Gunung Dukono, wilayah Maluku Utara, Jumat pagi, 8 Mei 2026. Ternyata sedang ada puluhan wisatawan asing dan domestik sedang berada di puncak. Akibatnya, dua orang tewas dari Cuna dan Jepang. Lima orang luka ringan. Madih ada 18 pendaki butuh bantuan dari BPBD untuk dievakuasi. Foto: instagram@maluku_utara

Beroperasi Sejak 2017, Poltabes Ringkus 14 Sindikat Perjokian Tes Masuk ke Unesa Surabaya

8 Mei 2026 - 16:20 WIB

Catur Adi: Saya Minta Dihukum Mati Saja! Hakim Tipikor Vonis 13 Penjara Dirut Persiba Balikpapan

8 Mei 2026 - 14:49 WIB

Trending di Headline