Penulis: Jocobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM– Menolak Punah & Pesta Babi: Saat kamera membongkar hal terlarang, Saat keamanan menjadi pagar Informasi.
Dua karya dokumenter dari rumah produksi Watchdoc, garapan jurnalis investigasi Dandhy Dwi Laksono, kini jadi pembicaraan panas se-Indonesia: Menolak Punah dan Pesta Babi.
Keduanya sama-sama membongkar realitas yang selama ini tersembunyi, tapi nasibnya berbeda: satu jadi peringatan nyata soal nyawa dan lingkungan, satu lagi dilarang keras, dibubarkan paksa oleh aparat keamanan di banyak kota.
Inilah bedah lengkap makna, isi, alasan larangan, dan apa yang sedang terjadi di Indonesia hari ini.
Bagian 1: Menolak Punah
Film ini rilis awal April 2026, langsung bikin kaget publik karena membongkar bahaya yang kita pakai setiap hari tapi tak pernah sadar: mikroplastik dari pakaian kita sendiri.
Isi & Pesan Utama
– Meneliti bahwa pakaian berbahan poliester, nilon, sintetis — yang dipakai 70% warga Indonesia — saat dicuci, melepaskan ribuan butiran plastik sangat halus, masuk ke sungai, laut, lalu kembali ke tubuh manusia lewat air, makanan, bahkan udara.
– Hasil riset bersama Universitas Airlangga: mikroplastik sudah ditemukan di darah, air ketuban ibu hamil, air susu, hingga cairan sperma. Bisa masuk organ dalam, memicu penyakit kronis, gangguan hormon, dan risiko kanker jangka panjang.
– Judul Menolak Punah bermakna ganda: alam menolak musnah meski terus dicemari, dan manusia harus menolak punah akibat ulah sendiri. Ini bukan isu lingkungan saja, tapi isu nyawa, kesehatan nasional, dan masa depan generasi.
Respon & Posisi
Film ini TIDAK DILARANG, malah diputar luas, didiskusikan di kampus, instansi, dan viral di medsos.
Pemerintah bahkan mulai merespons: Kementerian Lingkungan Hidup berjanji kaji aturan pembatasan bahan sintetis. Alasannya: isu ini umum, ilmiah, tidak menyentuh isu politik atau kedaulatan wilayah, jadi aman dibahas.
Intinya: Ini adalah cermin betapa besar bahaya yang kita ciptakan sendiri, dan betapa rapuhnya hidup kita di depan kemajuan industri yang tak terkontrol.
Bagian 2: Pesta Babi, Dianggap Berbahaya.
Berbeda tajam. Pesta Babi jadi film paling kontroversial tahun ini. Sejak rilis akhir April, pemutarannya dibubarkan paksa di Universitas Mataram, Ternate, hingga beberapa kota lain, atas alasan: mengganggu keamanan, berpotensi memicu konflik SARA, dan mendiskreditkan negara/pemerintah.
Apa isi sebenarnya? Kenapa dilarang?
Film ini menyusuri Papua Selatan, wilayah yang jadi lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) perkebunan tebu raksasa untuk bahan bakar bioetanol.
Judulnya diambil dari tradisi sakral Pesta Bakar Babi: upacara syukur, perdamaian, dan ikatan persaudaraan adat. Tapi di sini maknanya dibalik — jadi simbol pesta besar penguasaan tanah, pengerukan kekayaan alam, dan penderitaan rakyat adat.
Poin-poin keras yang bikin tak nyaman banyak pihak:
1. Perampasan Tanah Ulayat: Hutan adat seluas ribuan hektar dibabat, sungai tercemar, warga dipaksa pindah, padahal tanah itu hak leluhur ribuan tahun. Semua atas nama pembangunan, ekonomi, dan ketahanan pangan negara.
2. Aparat Jadi Pengawal Investasi: Ditemukan bukti, militer & kepolisian dikerahkan bukan untuk melindungi warga, tapi menjaga keamanan proyek korporasi. Siapa yang protes ditangkap, dituduh separatis, atau diintimidasi.
3. Penjajahan Gaya Baru: Dandhy Laksono menyebut ini kolonialisme modern: bukan pakai senjata, tapi pakai hukum, kebijakan, dan anggaran negara untuk mengambil kekayaan, lalu warga asli jadi orang asing di tanah sendiri.
4. Realitas Papua yang Jarang Terdengar: Menunjukkan wajah lain Papua: bukan sekadar wisata atau konflik senjata, tapi perjuangan mempertahankan jati diri, budaya, dan hak hidup yang makin sempit.
Alasan Dilarang
Di Unram, Wakil Rektor bilang: “Kurang pantas, bisa memicu ketersinggungan”. Di Ternate, Dandim bilang: “Banyak yang nilai provokatif, rawan SARA, mengganggu kondusivitas”.
Analisisnya:
Film ini membongkar rahasia terbuka: bahwa di balik megahnya proyek negara, ada penderitaan nyata, ada ketidakadilan, ada pelanggaran hak asasi manusia.
Ini menyentuh inti kekuasaan, kebijakan pusat, dan cara negara mengelola wilayah. Kalau ditonton luas, bisa mengubah cara pandang rakyat Indonesia soal apa itu pembangunan, apa itu kedaulatan, dan siapa yang sebenarnya diuntungkan.
Inilah alasan utama kenapa harus dilarang: karena kebenaran itu sering dianggap berbahaya bagi kekuasaan.
Padahal, film ini tidak mengajarkan pemberontakan, tapi hanya merekam kesaksian warga, data lapangan, dan fakta di lokasi.
Ketika Dua Bertemu
Kedua film ini sama-sama berani, jujur, berbasis data, tapi nasibnya beda jauh. Ini menggambarkan kondisi kebebasan berekspresi dan informasi di Indonesia saat ini:
1. Isu Lingkungan vs Isu Politik-Wilayah: Masalah lingkungan, kesehatan, pencemaran — masih boleh dibahas, dianggap “aman”. Tapi begitu menyentuh wilayah, kebijakan negara, peran aparat, atau kedaulatan — langsung dianggap sensitif, berbahaya, harus ditutup.
2. Apa yang Kita Boleh Tahu vs Apa yang Disembunyikan: Kita boleh tahu bahaya plastik di darah kita, tapi dilarang tahu apa yang sebenarnya terjadi di tanah Papua, di balik pagar proyek besar negara. Ini pertanyaan besar: Negara apa yang takut pada fakta? Negara apa yang takut rakyatnya tahu kebenaran?
3. Simbol Perlawanan: Larangan itu justru bikin Pesta Babi makin dicari, makin ditonton diam-diam, makin viral. Seperti kata pepatah: “Semakin dilarang, semakin terang kebenarannya”. Larangan itu sendiri sudah jadi bukti kuat bahwa isi film itu punya bobot, punya kebenaran yang tak ingin dilihat banyak mata .
Kesimpulan:
Menolak Punah mengingatkan kita: Alam sedang bicara, sedang sakit, dan kita semua terancam.
Pesta Babi mengingatkan kita: Ada saudara kita di timur sana, sedang berjuang mempertahankan apa yang seharusnya milik mereka, dan suara mereka ditutup rapat.
Dua film ini bukan sekadar tontonan. Ini adalah cermin bangsa. Apakah kita mau jadi bangsa yang berani menghadapi masalahnya, atau bangsa yang lebih suka menutup mata dan telinga?
Dan yang paling penting: Siapa yang berhak memutuskan apa yang boleh kita tonton, apa yang boleh kita ketahui? Jawabannya ada di kita semua. **











