Menu

Mode Gelap

Nasional

Tuntut Tak Ada Potongan ADD, Gus Barra tak Muncul Hadapi Aksi Demo Ratusan Kades

badge-check


					Rtusan kepala desa yang teralifiasi dengan Pamong Mojopahit, melakukan aksi unjuk rasa, di kantor Pemkab Mojokerto, Rabu 24 Desember 2o025. Mereka menutut agar tidak diperlakukan pemotongan alokasi dana desa (ADD) pada 2026. Foto: Instagram@aslimojokertocom Perbesar

Rtusan kepala desa yang teralifiasi dengan Pamong Mojopahit, melakukan aksi unjuk rasa, di kantor Pemkab Mojokerto, Rabu 24 Desember 2o025. Mereka menutut agar tidak diperlakukan pemotongan alokasi dana desa (ADD) pada 2026. Foto: Instagram@aslimojokertocom

Penulis: Gandung Kardiyono | Editor: Priyo Suwarno

MOJOKERTO, SWARAJOMBANG.COM – Pemerintah Kabupaten Mojokerto menghadapi tekanan berat akibat pemangkasan signifikan dana transfer ke daerah (TKD) dari pusat sebesar Rp316-341,9 miliar untuk tahun anggaran 2026.

Pemangkasan ini mencakup Dana Alokasi Umum (DAU) Rp176,3 miliar, Dana Bagi Hasil (DBH) Rp85 miliar, dan Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik Rp10,2 miliar, yang berdampak pada penurunan APBD keseluruhan sebesar Rp316,4 miliar.

Kondisi ini memaksa realokasi anggaran prioritas, termasuk penyesuaian Alokasi Dana Desa (ADD) senilai Rp30 miliar dan Dana Desa (DD) Rp42,9 miliar dibandingkan 2025.

Pada 24 Desember 2025, ratusan kepala desa dan perangkat desa dari aliansi Pamong Mojopahit menggelar unjuk rasa di depan Kantor Pemkab Mojokerto, menuntut pengembalian ADD ke level semula serta penerbitan Peraturan Bupati (Perbup) tentang pendapatan tetap (siltap).

Berakhir Buntu
Sekretaris Daerah (Sekda) Teguh Gunarko telah melakukan audiensi awal dengan perwakilan pendemo, dipimpin Koordinator Sunardi (Kades Temon, Kecamatan Trowulan).

Sayangnya, dialog tersebut berakhir tanpa kesepakatan, dengan pendemo memilih walk out dan bersikeras menunggu kehadiran langsung Bupati Muhammad Al Barra (Gus Barra). Hingga berita terakhir, bupati belum hadir di lokasi karena jadwal mendesak terkait pengelolaan krisis anggaran.

Aksi dimulai pagi hari dengan massa mengepung kantor, membentangkan spanduk seperti “Kembalikan ADD seperti semula” dan “Jangan Potong Gaji Kami”.

Pemkab memahami kekhawatiran atas dampak pemangkasan terhadap siltap dan operasional desa, tetapi menekankan bahwa keputusan ini di luar kendali daerah akibat kebijakan pusat.

Situasi Memanas, Polisi Kawal Ketat
Situasi memanas saat pendemo meminta masuk ke pendopo untuk berteduh, yang ditolak polisi demi keamanan. Hal ini memicu saling dorong, dengan satu personel polisi sempat ditarik masuk gerbang.

Sunardi berhasil meredam kericuhan dengan mengimbau massa tetap tenang dari atas mobil komando, sementara polisi memperketat pengawalan.

Pendemo bertahan hingga sore, menolak bubar tanpa audiensi bupati, dan mengancam boikot program Pemkab seperti pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Pemkab berkomitmen mencari solusi berkelanjutan melalui dialog, sambil mengelola keterbatasan anggaran nasional demi kepentingan masyarakat luas.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Polda Jatim Musnahkan 22 Ton Kokain

4 Mei 2026 - 21:04 WIB

Kades Ditemukan Tewas Duduk di Sofa Leher Terlilit Selang Air di Kantor Desa Buncitan Sidoarjo

4 Mei 2026 - 07:54 WIB

Kemenag Menutup Ponpes Dholo Kusumo Pati, Pasca Aksi Demo Tuntutan Hukum Tindak Kekerasan Seksual

4 Mei 2026 - 06:18 WIB

Dishub Jombang Ajukan Pintu Penyeberangan KA di Plandi dan Nglele

3 Mei 2026 - 20:19 WIB

Ditargetkan Jalan 2028, BBM Campur Etanol 20 Persen

3 Mei 2026 - 18:55 WIB

Bertepatan May Day, Menteri PU Copot Tujuh Pejabat Eselon I Diganti yang Baru

2 Mei 2026 - 14:27 WIB

Pencuri Sasar Kotak Amal Kuburan, Masjid dan Musala di Sukopinggir Gudo Jombang

2 Mei 2026 - 11:55 WIB

Tanah Longsor Menutup Terowongan Proyek PLTA Cisokan Bandung Barat

2 Mei 2026 - 10:53 WIB

Bupati Jonbang Bagikan Doorprize Umrah, Senam dan Hiburan di Acara Hari Buruh

2 Mei 2026 - 09:56 WIB

Trending di Headline