Penulis: Jacobus E. Lato : Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBABG.COM— Kepanikan melanda pahlawan Troya, Hector ketika Achiles menyerangnya di luar tembok kotanya yang terkepung.
Seperti dinyanyikan Homerus dalam prosa liriknya Illiad, Hector gemetar ketakutan ketika menyaksikan kilatan anak panah debu musuhnya yang menakutkan, yang jubah perang tembaganya berkilau bagai kobaran api atau matahari yang tengah menanjak terik.
Hector pun berlari ke depan sang penuntut balas yang mengejarnya bagaikan elang mengejar merpati betina, “yang terbang dengan penuh ketakutan di hadapannya”; Namun dia bergerak mendekat, berteriak kepadanya sembari menerjang, Berulang-ulang jantungnya mendorongnya untuk membunuh.
Meski menemui ajal, Hector menyesali deraian rasa takut yang menyerangnya di hadapan rakyatnya yang tengah menyaksikannya. Karena itu, dia berusaha membalikkan badan, walau kemudian dibantai dan dipotong berkeping-keping.
Tidak ada kekasih bagi para pahlawan yang mematikan. Medea dari Euripides memaklumkan kata-kata itu ketika mengatakan lebih suka bertempur di medan perang tiga kali ketimbang sekali saja mengendong bayi.
Melahirkan seorang bayi memang jauh lebih menyakitkan dan menakutkan ketimbang berjuang untuk mati. Dan memang, dalam berbagai kisah bangsa Nor yang penuh kepahlawanan atau kisah-kisah cinta Piala, sangat kecil kita temukan rasa nikmat yang melanda pria dan wanita yang dirundung ketakutan.
Harus diakui bahwa para prajurit Denmark pun dilanda ketakutan hebat di Aula Agung mereka sebelum Beowulf tiba di sana menyelamatkan mereka dari tangan para monster malam; Grendel dan keturunannya.
Meski demikian, dalam kisah-kisahnya, bangsa Vikings yang mengamuk meremukkan musuh secara kejam dengan sikap kejam gila-gilaan mereka.
Mereka memang lebih suka membantai seluruh pasukan perang daripada membantai orang yang menyerahkan diri.
Dalam Peperangan Bravellir yang mencengkam, tempat Sigurd Hring menghancurkan pamannya Harald Wartooth.
Pertemuan yang berakhir pada kematian ini , menurut Danish History (Sejarah Denmark) abad keduabelas karya Saxo Grammaticus merupakan akhir dari Armageddon;
Langit seolah hendak runtuh ke bumi. Ladang dan hutan tenggelam ke dalam perut bumi. Semua benda bercampur baur kacau balau.
Keributan lama pun kembali muncul. Surga dan bumi berbenturan dalam huru hara mengerikan. Seluruh bumi pun segera hancur berantakan..
Sedikit sekali waktu untuk membiarkan rasa takut menyergap diri dalam kisah-kisah romantis Piala Suci pun. Upaya balasa dendam memang begitu mengerikan sehingga para ksatria dan pengawal berperang mati-matian hingga orang terakhir.
Mereka takut akan penyiksaan atau pemenggalan kepala terjadi atas mereka. Kata “perang salib” tetap terkutuk dalam Islam karena pesan buas dan penindasannya yang tersembunyi.
Sedikit sekali catatan tentang perasaan orang-orang yang direkrut pada masa perang sebelum abad delapan belas. Padahal, tentara baru mungkin jauh lebih gemetar ketakutan di hadapan para perwiranya ketimbang terhadap musuhnya.
Ketika itu, sejumlah aturan tentang keterlibatan dalam perang diikuti sehingga narapidana bisa diambil menjadi anggota tentara. Teror tentu saja memaksakan adanya disiplin pada masa awal pembentukan angkatan darat dan laut Inggris.
Pada masa itu, pemotongan telinga atau hidung atau memberikan cap pada dahi tentara yang tidak patuh memang dilarang, tetapi mereka tetap saja dilumpuhkan kakinya, dipenjarakan selama berminggu-minggu dalam lubang hitam atau pun harus bersedia menerima lima ratus hukuman cambuk sembari diikat pada roda.
Hukuman terberat adalah berlari dalam barisan pecambuk atau cambukan sekita kapal dan pelaku kejahatan mendatangi (rowed) semua kapal perang untuk menerima dua, tiga, atau lima ratus, atau bahkan seribu cambukan. (Bersambung)











