Menu

Mode Gelap

Nasional

Semburan Lumpur Pekat 20 Meter Disertai Bunyi Gemuruh di Oro-oro Kesongo Blora

badge-check


					Dua kali lebih kuat dari biasanya, semburan lumpur pekat dari dalam bumi hingga mencapai ketinggian 20 meter, terjadi di Oro-Oro Kesongo, Desa Tempuran, Kecamatan Kunduran, Blora Jawa Tengah, terjadi Jumat 7 Agustus 2026. Foto: ist Perbesar

Dua kali lebih kuat dari biasanya, semburan lumpur pekat dari dalam bumi hingga mencapai ketinggian 20 meter, terjadi di Oro-Oro Kesongo, Desa Tempuran, Kecamatan Kunduran, Blora Jawa Tengah, terjadi Jumat 7 Agustus 2026. Foto: ist

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

BLORA,  SWARAJOMBANG.COM– Terjadi semburan lumpur pekat hingga ketinggian mencapai 8 hingga 20 meter, disertai suara gemuruh terdengar jelas dari dalam tanah.

Kasus ini merupakan fenomena alam berupa semburan lumpur pekat sejak 1978 hingga saat ini terus terjadi di kawasan Oro-Oro Kesongo, Desa Tempuran, Kecamatan Kunduran, Blora Jawa Tengah.

Kondisi ini memancing kekaguman sekaligus kewaspadaan warga sekitar. Peristiwa ini bukanlah fenomena alam yang baru muncul tiba-tiba. Akan tetapi yang terjadi Jumat, 7 Agustus 2026, lebih keras dua kali lipat dibanding kebiasaanya.

Secara turun-temurun warga sudah mengetahui karakter wilayah ini, namun secara resmi tercatat dan ditetapkan sebagai zona geologi aktif yang dipantau sejak tahun 1978.

Rongga Bawah Tanah

Sejak masa itu mulai terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan gelembung gas dan lumpur, yang dari waktu ke waktu semakin terlihat jelas seiring melebarnya rongga di lapisan bawah tanah.

Sepanjang sejarah pemantauan, aktivitasnya bergerak naik turun: sempat tercatat meningkat pada tahun 1995, kembali cukup kuat pada 2006, lalu pada 2018 semburan pernah mencapai ketinggian sekitar 10 meter.

Awal gejala yang mengarah pada kejadian hari ini mulai terlihat sejak pertengahan Juli 2026, hingga mencapai 20 meter.

Warga dan petugas pengamat mulai merasakan suhu tanah yang lebih hangat dari biasanya, jumlah gelembung di sekitar titik aliran makin banyak, dan suara gemuruh samar yang makin sering terdengar.

Puncaknya terjadi Jumat ini, 7 Agustus 2026, di mana letupan berulang kali terjadi dalam sehari, menyemburkan lumpur pekat ke udara dengan ketinggian yang jauh melampaui rata-rata yang biasa terlihat.

Menurut keterangan Drs. H. Bambang Prasetyo, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blora, tim gabungan segera diturunkan ke lokasi begitu laporan masuk.

“Kami sudah memantau sejak dini hari. Memang frekuensi dan ketinggian semburan lebih tinggi dari hari-hari biasanya, namun sampai saat ini masih berada dalam karakteristik alami wilayah tersebut. Kami tetap memantau setiap jam guna memastikan tidak ada perubahan yang menyimpang.”

Dorongan Air Hujan

Ir. Suharto, Peneliti Badan Geologi Wilayah Jawa Tengah, menjelaskan alasan terjadi peningkatan ini.

“Secara geologis kawasan ini memiliki akumulasi gas dan air tanah yang terperangkap di bawah lapisan batuan berpori. Curah hujan yang cukup deras dan terus menerus beberapa pekan belakangan menambah beban dan tekanan dari atas, sehingga mendorong cairan di bawah dengan kekuatan yang lebih besar ke permukaan.”

“Ini berbeda sepenuhnya dengan karakter semburan lumpur di daerah lain, mekanismenya murni didorong tekanan fluida alamiah.”

Di tingkat lapangan, Sumarno, Kepala Desa Tempuran, telah mengerahkan aparat desa dan tokoh masyarakat untuk menjaga situasi serta memberikan pemahaman kepada warga.

“Warga sempat panik karena suaranya sangat keras dan tampak dahsyat. Kami sudah pasang batas aman sejauh 50 meter dari titik teraktif, mengimbau agar tidak mendekat, apalagi membawa anak-anak bermain di sana. Orang tua kami dulu sudah berpesan tempat ini memang begini sifatnya: kadang diam berbulan-bulan, kadang aktif kembali.”

Sampai berita ini disusun, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan, lahan pertanian, maupun korban jiwa. Belum juga diterbitkan perintah evakuasi pemukiman. Akses jalan menuju lokasi terdekat dibatasi sementara demi keselamatan.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tetap tenang, namun senantiasa melapor segera jika melihat tanda baru seperti retakan tanah yang memanjang, munculnya mata air di tempat tak biasa, atau perubahan bau yang menyengat.

Fenomena ini mengingatkan kembali bahwa setiap wilayah memiliki karakter alamnya sendiri, dan kewaspadaan bukan berarti kepanikan, melainkan langkah bijak hidup berdampingan dengan potensi kekuatan bumi.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (59): Masyarakat Rahasia Tiongkok

21 September 2026 - 22:45 WIB

Pendukung Mengamuk di PN Tipikor Semarang saat Jaksa Ajukan Tuntutan 8 Tahun dan 6 Bulan terhadap Sudewo

21 September 2026 - 22:25 WIB

Jejak Gatot Heroe Pejabat BC Garong Negara: Simpan Valuta Rp2,8 M di Plafon Rumah Madyopuro Malang

21 September 2026 - 21:03 WIB

Bahlil Siapkan Strategi Olah Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:21 WIB

Walikota Tebingtinggi Copot 5 Kepsep SDN, karena Tolak Serahkan Proyek Revitalisasi Senilai Rp2,44 M

21 September 2026 - 18:16 WIB

Diduga Gunakan Sistem Ponzi Rekrut 4.000 Jamaah Umrah, PT Annisa Ahmada Wajib Kembalikan Dana Rp120 M

21 September 2026 - 10:36 WIB

100 Tahun Pondok Gontor, KH Abdullah Sahal: Bapak Presiden, Kami Tetap Memilih Pendidikan!

20 September 2026 - 23:48 WIB

AI Menghabiskan Miliaran Air dan Listrisk Setara Jepang

20 September 2026 - 17:56 WIB

Rudal Houthi Serang Riyadh, Rudal Sasar Bandara King Khaled dan Meledak di Fasilitas Aramco

20 September 2026 - 09:09 WIB

Trending di Nasional