Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
PONOROGO, SWARAJOMBANG.COM— Inilah isi pidato Direktur sekaligus Pimpinan Tertinggi Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal, pada acara peringatann 100 tahun Pondok Gontor yang dihadiri Presiden Prabowo, Sabtu, 19 Septembe2 2026.
Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, yang saya hormati. Para tamu undangan, para almamater, para santri, dan hadirin sekalian yang dirahmati Allah.
Saya berdiri ini benar-benar rasanya nyaman. Ada kenyamanan karena apa? Yang ada di depan saya ini Bapak Presiden Republik Indonesia.
Pertemuan kita bukan kali pertama. Sudah satu kali, dua kali, tiga kali, sekarang yang keempat kali. Maka saya inshaallah, selama Pak Presiden khusnudzon kepada saya dengan Gontor, insyaallah Gontor khusnudzon kepada Bapak Presiden.
“Kami tetap memilih pendidikan, Bapak Presiden.”
Kami tetap memilih pendidikan. Bukan berarti kami tidak punya alumni di eksekutif, di legislatif, di yudikatif, di mana-mana ada. Tapi kami tetap sama-sama membina umat, membina bangsa kita ini sesuai dengan cita-cita Republik Indonesia.
Gontor singkatan dari ngon-kotor — karena dulu di sini banyak syirik, banyak kufur, banyak maksiat. Tapi hari ini, Gontor menjadi “nggon inspirator” — tempat yang menginspirasi.
Dengan keikhlasan para pendiri: Kiai Haji Ahmad Sahal, Kiai Haji Zainuddin Fanani, Kiai Haji Imam Zarkasyi — dengan ikhlas mewakafkan ide, mewakafkan nilai, mewakafkan sistem, mewakafkan lembaga, mewakafkan cinta kepada pondok ini. Kita tidak menerima keuntungan, kita menerima nilai-nilai Islam.
Dulu luasnya hanya sekitar 1,2 hektare. Sekarang, lihatlah apa yang telah Allah berikan. Semua ini bukan semata bangunan fisik — ini adalah bukti keikhlasan yang diwariskan tiga pendiri kita.
Bung Karno pernah berkata: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Saya membaca buku itu, bergurulah pada sejarah. Tapi Gontor tidak puas. Gontor cerdaslah menyikapi sejarah — karena kita akan membangun sejarah.
Tidak menyerah pada sejarah. Kita belajar dari masa lalu untuk membangun masa depan, bukan untuk berhenti di masa lalu.
Dimana Muka Saya Taruh?
Jujur, saya sempat gelisah. Saya sudah mengelu-elukan Pak Prabowo, sudah saya janjikan ke hadirin. Kalau hari ini beliau tidak datang — nah, muka saya mau taruh di mana? Jadinya saya harus “cari muka”.
Dan ternyata — di zaman sekarang ini, banyak orang yang:
tidak punya ijazah, mencari ijazah. Tidak punya nama, mencari nama. Tidak punya uang, mencari uang. Tidak punya jabatan, mencari jabatan. Tidak punya muka, mencari muka.(diiringi tepuk tangan riuh).
Ini tepuk tangan tidak pada waktunya!
Maaf! Kita bicara serius dulu — baru bertepuk tangan nanti.
Ini yang saya maksud — banyak orang mengejar gelar dan pengakuan padahal belum tentu pantas mendapatkannya.
Gontor bukan milik satu golongan. Anak Muhammadiyah masuk Gontor, keluar Muhammadiyah lagi.
Pimpinan Nahdlatul Ulama menjadi santri Gontor dan memimpin Nahdlatul Ulama. Saya ini orang bebas. Orang bilang: “Itu Muhammadiyah, agak Wahabi sedikit.” Tapi menantu saya NU!
Kalau Allah sudah membuka, tidak ada yang bisa menutup. Kalau Allah sudah mencintai seseorang, tidak ada orang yang akan membencinya. Di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah.
Saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden, boleh disaksikan oleh semua hadirin: “Kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan — lebih daripada santri, boleh diprotes, boleh dikritik, boleh didemo.”
Inilah Gontor. Tidak boleh ada jarak antara pimpinan dan yang dipimpin. Hidup pimpinan harus sama sederhananya dengan para santri.
Ini bukan pesta. Ini peringatan, bukan perayaan. Peringatan untuk mengingat nikmat Allah. Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masalahnya. Setiap masa dan tokoh ada masalahnya. Tapi setiap masalah harus ada solusinya. Kita tidak lari dari masalah — kita cari jalan keluarnya.
Pak Prabowo suka menyetir sendiri, kan? Nah, pendidikan kita pun pakai setir. Tiga bilah setir Gontor: sabar menghadapi proses, ikhlas dalam beramal, ridha menerima hasil. Jangan waktu cepat kamu lambat. Jangan waktu lambat kamu cepat. Sesuaikan langkah dengan waktu.
Kami menyerahkan buku “Gontor untuk Indonesia” — berisi kisah perjuangan dan pengabdian ribuan alumni Gontor di seluruh penjuru negeri. Juga Mushaf Al-Qur’an — ditulis, diperiksa, dan dicetak oleh santri Gontor sendiri.
“Kami tetap memilih pendidikan, Bapak Presiden.” Bukan untuk mundur dari bangsa — tapi untuk mencetak kader-kader terbaik yang membangun bangsa ini dari dalam.
Ya Allah, berikanlah kami kekuatan — untuk ingat, untuk bersyukur, untuk beribadah lebih daripada sebelumnya. Terima kasih, Bapak Presiden. Terima kasih hadirin sekalian. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.**











