Penulis: Mulawarman | Editor: Priyo Suwarno
MALUKU UTARA, SWARAJOMBANG.COM– Di Desa Bobo, Kecamatan Obi Selatan, Halmahera Selatan, Maluku Utara, puluhan anak-anak SD Negeri 240 setiap hari menghadapi tantangan besar hanya untuk sampai ke sekolah.
Mereka harus melewati Sungai Gosora dan Sungai Peda, dua sungai yang kerap banjir dan tidak memiliki jembatan penghubung. Arus deras dan ketinggian air yang bisa menyentuh lutut orang dewasa membuat perjalanan mereka berbahaya.
Kami, guru dan warga setempat, telah berulang kali menyaksikan betapa sulitnya anak-anak melewati sungai dan berusaha keras menjaga keselamatan mereka.
Dua guru di sekolah itu, Yosna Yunita dan Ernal Tamadarage, berbagi pengalamannya tentang kondisi belajar yang penuh tantangan, terutama saat musim hujan tiba. Kami harus saling membantu menggendong siswa agar tidak terbawa arus saat menyeberang.
Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi beban yang berat bagi keluarga serta sekolah.
“Kami berharap pemerintah segera memperhatikan keadaan darurat ini dengan membangun jembatan penghubung yang sangat dibutuhkan demi keamanan dan kelancaran anak-anak dalam mengakses pendidikan,” tutur ibu guru Erna Tamadarage.
Di Desa Bobo sendiri, tidak hanya SD Negeri 240 yang terdampak. Total ada delapan sekolah yang mengalami kesulitan serupa akibat tidak adanya jembatan, terdiri dari tiga SD, tiga PAUD, satu SMP, dan satu SMK. Setiap hari, 17 siswa terpaksa melewati bahaya ini dengan pengawasan ketat dari guru dan warga agar selamat sampai di sekolah.
Kami sangat menantikan tindakan cepat dari pemerintah daerah agar akses menuju sekolah menjadi aman dan tidak mengancam nyawa anak-anak. Pendidikan adalah hak mereka, dan kami semua tidak ingin risiko berbahaya ini terus berlanjut.**











