Menu

Mode Gelap

Nasional

Presiden Trump Perintahkan Serang Iran untuk 60 Hari ke Depan

badge-check


					Presiden Trump telah melapor ke Kongres, untuk melakukan serangan ke Iran, sekama 60 hari ke deoan. Foto: ist Perbesar

Presiden Trump telah melapor ke Kongres, untuk melakukan serangan ke Iran, sekama 60 hari ke deoan. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

WASHINGTON, SWARAJOMBABG.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan tegas dan memaklumkan kesiapan melancarkan serangan militer berkelanjutan terhadap Iran demi menjamin kebebasan dan keamanan jalur strategis Selat Hormuz.

Pernyataan ini disampaikan bersamaan dengan pemberitahuan resmi kepada Kongres terkait kelanjutan operasi militer yang telah dimulai sejak 7 Juli 2026.

“Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras malam ini, besok, dan setiap saat diperlukan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mencegah langkah ini. Selat Hormuz bukan milik satu negara saja, melainkan jalur milik dunia. Kami akan pastikan jalur ini terbuka lebar dan aman bagi kapal dagang seluruh bangsa,” tegas Trump di hadapan awak media, Selasa (14/7/2026) waktu setempat.

Perlu ditegaskan: belum ada deklarasi perang resmi yang dikeluarkan Kongres AS. Langkah yang diambil Trump adalah pemberitahuan kelanjutan operasi militer sesuai Undang‑Undang Kekuasaan Perang, memberikan kewenangan tambahan 60 hari untuk bertindak tanpa persetujuan khusus parlemen terlebih dahulu.

Operasi Militer

Langkah ini diambil setelah Iran dituduh menyerang kapal dagang netral di Selat Hormuz serta melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer AS dan sekutu di Kuwait serta Bahrain.

Trump menegaskan operasi ditujukan melumpuhkan kemampuan militer Iran yang mengancam jalur pelayaran, bukan menyerang warga sipil.

Ia juga mengumumkan pemulihan blokade laut terhadap kapal berbendera Iran serta pengawasan ketat seluruh lalu lintas di selat tersebut.

Respon Iran

Pihak Iran menolak tuduhan tersebut dan menyatakan tindakannya sesuai aturan keamanan wilayah.

Para pengamat memperingatkan eskalasi berisiko meluas ke seluruh kawasan Teluk, mengganggu pasokan energi dunia, serta menaikkan harga minyak. Sementara negara sekutu menyerukan kehati‑hatian namun tetap mendukung kebebasan navigasi.

Hingga kini belum ada keputusan penambahan pasukan darat; operasi difokuskan pada serangan udara, rudal, dan pengawasan laut.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Prof Mahfud Merilis Analisis Skenario Hukum Melindungi Mantan Jampidus Febrie Adriansyah

15 Juli 2026 - 00:39 WIB

Tersangka Ahmad Muzakki Ajukan Praperadilan, dalam Kasus Pembakaran 3 Santri di Ponpes Al Ibrahimy

14 Juli 2026 - 20:05 WIB

Penyidik Polri Datangi Kejagung, Serahkan Dokumentasi Kasus Febrie Adriansyah

14 Juli 2026 - 17:33 WIB

1.225 Mahasiswa UPN Ber-KKN di Jombang, Warsubi: Edukasi Pengolahan Sampah dan Limbah

14 Juli 2026 - 16:17 WIB

Iran Gunakan Misil Baru Serang Posisi Strategis Amerika di Bahrain, Kuwait, Yordania, Oman dan Arab Saudi

14 Juli 2026 - 11:27 WIB

Houthi Klaim Lakukan Serangan Rudal dan Drone ke Bandara Abha Arab Saudi

14 Juli 2026 - 09:40 WIB

Ibu Ini Jual Mobil untuk Transfer Rp250 Juta Pria Dalam Love Scam

13 Juli 2026 - 20:48 WIB

Kapolri Adakan Pertemuan Tertutup dengan Jaksa Agung, Pasca Penggeledahan Jampidsus

13 Juli 2026 - 17:49 WIB

Tragedi Maut di Indramayu, 12 Orang Rombongan Pengantin Tewas Kecelakaan Beruntun

13 Juli 2026 - 17:10 WIB

Trending di Nasional