Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (68): 550.000 Penunggang Kuda Berwajah Pucat

badge-check

Penulis: Jacobus E. Lato   |   Editor: Hadi S. Purwanto

SWARAJOMBANG.COM— Ratusan kaum Veteran Konfederasi, yang tidak berbuat banyak selama kejatuhan ekonomi seusai perang, bersatu berniat melakukan perlawanan.

Pada tahun 1865, enam orang muda di Pulaski, Tennessee membentuk sebuah masyarakat pencemooh pengganggu yang berkerudung yang menyebut diri sebagai Ku Klux Klan, berasal dari bahasa Yunan kuklos yang berarti ‘lingkaran’ dan kata Skotlandia ‘clan’.

Kemanapun, anggota Klan sejati bepergian malam hari, mereka menggunakan kerudung dengan menunggang kuda.

Mereka juga berkerudung melihat bahwa kaum kulit hitam yang kerapkali tidak terpelajar dan percaya takhayul sangat ketakutan dengan para pengunjung aneh yang mengaku sebagai hantu Konfederasi yang mati.

Ia yang berniat meminum satu gallon air dengan sekali tegukan dan mengeluarkan kerangka tangan dari lengan-lengan baju mereka untuk mencengkram telapak tangan para korbannya.

Forrest langsung melihat kemungkinan menggunakan lelucon praktis ini guna menteror pedesaan Selatan.

Dia mengaku ada 550 ribu penunggang kuda berkerudung pada tahun 1868 dengan nama Para Pria Klan, Palefaces (Wajah-wajah Pucat), Persaudaraan Kulit Putih, Liga Kulit Putih, atau Ksatria Camellia Putih.

Meski dibantu bekas perwira Konfederasi lain, dia tidak memiliki organisasi militer yang sesuai serta tidak mampu menguasai orang-orang ini.

Dia mungkin berniat menjadi seorang Robin Hood, seperti diperlihatkan oleh sumpah Klan sebelumnya, dan mungkin mencoba melindungi kaum lemah terhadap para mantan pejuang yang bebas berkeliaran yang mengatasnamakan pemerintah.

Tetapi Klan-klan lokal segera merosot menjadi kelompok gang, ditolak oleh para pendiri Klan yang kerapkali terdiri dari ‘orang jahat, kurang akal dan kurang berpikir’

Gang-gang ini dengan menunggang kuda bepergian malam hari melancarkan aksi balas dendam pribadi, untuk mendapatkan keuntungan atau melakukan tindakan yang menyeramkan.

Siapapun bangsat kulit hitam atau kulit putih dapat mengenakan kerudung menutup wajah menyembunyikan semua tanggung jawab mereka.

Akibatnya, kerahasiaan yang merupakan kekuatan Klan awalnya berubah menjadi kelemahan. Misteri teror yang terorganisasi memalsukan izin untuk melakukan pembalasan terhadap para penjahat anarkis.

Angka pembunuhan dan kekerasan dilakukan Klan sebelum 1972 tidak mungkin mampu dipetakan.

Setiap penjahat atau orang yang ingin melakukan aksi balas dendam berdarah mengenakan kerudung. Nyaris di semua daerah Selatan, terjadi perang sporadis antara milisi kulit hitam kaum Republik bersenjata melawan para veteran perang Selatan.

Kedua belah pihak sama-sama menggunakan teror, meskipun tidak dapat disangkal bahwa kaum kulit hitam paling menderita dampaknya.

Komisi Senat menemukan bukti bahwa di sembilan daerah di South Carolina, selama masa enam bulan, Klan menghukum mati tanpa proses pengadilan membunuh 35 laki-laki, mencambuk lebih dari tiga ratus pria dan wanita dan sebaliknya bertindak kejam, menembak, memutilasi, memperkosa atau membakar ratusan orang lainnya.

Selama masa itu, kaum kulit hitam membunuh empat pria, memukul satu orang dan melakukan 16 tindakan kejam lainnya. Tidak ada kasus perkosaan wanita kulit putih yang diketahui.

Orang kulit putih Selatan membunuh atau menyerang kaum kulit hitam dalam nyaris ribuan pembunuhan yang terjadi di Selatan dalam decade setelah Perang Sipil.

Motif ledakan kekewasan itu sederhana, guna mempertahankan kaum kulit hitam di tempatnya jauh dari masyarakat utama—polls. W. E. Du Bois, salah satu pemimpin dan sejarahwan kulit hitam kenamaan merangkum alasan “sangat beragam’ bagi kekejaman Klan:

‘para korbannya harus menderita sebagai balas dendam atas pembunuhan, atas sejumlah kasus pembakaran rumah; mereka kaum Republik; mereka kaum radikal; mereka berupaya mengikuti Pemilu, mereka membawa senjata api, mereka ‘negro’; mereka ‘orang negro terkutuk;’ mereka membanggakan diri akan memiliki tanah sendiri.

Mereka dicambuk karena utang piutang, karena bergaul dengan para wanita kulit putih dan berupaya untuk memberika suara dalam Pemilu.’ (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kasus Keracunan MBG Terus Terjadi, Kini Menimpa 63 Siswa SD dan SMA di Konawe

14 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Penyaluran Bantuan Makanan Melalui Kopdes. Kecuali Wilayah yang Belum Terjangkau

14 Oktober 2026 - 20:30 WIB

Pinisi yang Tangguh Tenggelam Akibat Modifikasi

14 Oktober 2026 - 20:11 WIB

SAR dan Nelayan Selamatan 29 Orang Satu Korban Hilang, KM Feronia Terbalik Dihantam Ombak Labuhan Bajo

14 Oktober 2026 - 16:07 WIB

Sampan Terbalik di Laut Mentawai, Perahu Nelayan Selamatkan 37 Siswa SMAN 1 Pagai

14 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Festival Literasi Jombang 2026, Ny Yuliati Warsubi Dorong Generasi Muda Berkarya Tulis!

14 Oktober 2026 - 09:52 WIB

Jombang Bersholawat Hadirkan Gus Iqdam dan Hadrah Sabilu Taubah, Alunalun Dibanjiri Puluhan Ribu Warga

14 Oktober 2026 - 08:50 WIB

KPK Operasi Tangkap Tangan: Ringkus 14 Pejabat BNPB dan Pengusaha

13 Oktober 2026 - 23:30 WIB

Israel Melarang Pesawat Ethiopia Mendarat di Tel Aviv, karena Pilotnya Warga Negara Indonesia

13 Oktober 2026 - 23:02 WIB

Trending di Nasional