Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM — Organisasi teroris yang paling menarik perhatian masyarakat dan paling lama bertahan hidup dalam sejarah Amerika Serikat adalah Ku Klux Klan (KKK).
Setelah Perang Sipil, organisasi itu tumbuh menjadi gerakan perlawanan. Namun seusai Perang Dunia I, ia justru menjadi gerakan rasis yang tidak memperlihatkan diri dalam bentuk yang mengerikan tetapi dalam bentuk ejekan.
Saya, di hadapan Hakim Surga dan Bumi yang murni serta atas Penginjil Allah Yang Mahakuasa, bertindak, atas kehendak bebas yang selaras, mendukung kewajiban suci yang menyatukan hal-hal berikut:
1. Kami mendukung keadilan, kemanusiaan, kebebasan konstitusional, sebagaimana diwariskan secara murni kepada kami oleh para bapak pendahulu kami.
2. Kami menentang dan menolak prinsip-prinsip kelompok radikal.
3. Kami berjanji untuk saling membantu satu sama lain dalam sakit, penderitaan dan kesulitan keuangan.
4. Para sahabat wanita, janda dan rumah tangga mereka, akan selalu menjadi sasaran khusus perlindungan kami.
Siapapun anggota yang membuka rahasia atau yang menyebabkan rahasia organisasi terbongkar, kewajiban apa saja yang tengah dilakukan, akan menerima ganjaran hukuman menakutkan serta kematian sebagai pengkhianat, yaitu Mati. Mati! Mati!
Sumpah inisiasi inilah yang diungkapkan seorang anggota Ku Klux Klan kepada komisti penyelidik Senat Amerika Serikat pada tahun 1817.
Pendekatan ini mengungkapkan sejauh mana kaum kulit putih wilayah Selatan menggunakan kejahatan teror melawan para penakluk mereka dari Utara dan bekas budak kulit hitam mereka yang dibebaskan pada akhir Perang Sipil.
Ku Klux Klan dengan demikian menjadi organisasi rahasia kaum kulit putih yang merasa unggul yang berpikir bahwa kekerasan merupakan satu-satunya jawaban terhadap militer dan pemerintahan yang rusak yang diterapkan pada negara-negara Selatan yang kalah.
Awalnya, Klan mengklaim diri sebagai gerakan perlawanan menentang penindasan yang tidak dapat ditoleransi, bahkan jika berniat untuk mengakhirinya sebagai sekedar sarana kebencian, kerakusan dan sadisme.
Pendiri dan pengelola Klan adalah Jenderal Nathan Bedfort Forrest. Spenuhnya ia mengangankan Klan sebagai organisasi gerilya sementara yang hanya bertahan hidup selama para petualang politik Utara dan kaum kulit hitam yang buta huruf serta para pemberontak Selatan yang disebut para bandit, menguasai negara-negara Selatan.
Forrest bertubuh tinggi dengan janggut hitam lebat. Dia menjadi komandan yang mengalami kekalahan maut dan kemulian kavaleri Konfederasi. Prinsipnya demi kemenangan tindakan-tindakan kavaleri adalah: ‘Dengan segala upaya, tibalah di sana paling awal.’
Di samping sebagai komandan perang yang disegani, pada saat bersamaan dia pun menjadi penjual budak yang dia membeli mereka demi kepentingannya sendiri untuk perkebunan kaum aristokrat.
Dia pun didakwa selama Perang Sipil atas pembunuhan kejam di Fort Pillow ketika pasukan-pasukan kulit berwarna yang ditangkap dibunuh semuanya.
Ia tidak bisa menerima prinsip rakyat berkulit hitam merepresentasikan orang kulit di dewan perwakilan rakyat Selatan. (Bersambung)











