Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
PEMALANG, SWARAJOMBANG.COM – Hujan lebat hingga 150 mm/hari sejak akhir Januari 2026 memicu banjir bandang dan longsor dahsyat di lereng Gunung Slamet, merusak rumah warga, wisata Guci, tambak ikan, serta menyapu lumpur dan puing ke wilayah Tegal, Brebes, Pemalang, Banyumas, dan Purbalingga.
Curah hujan ekstrem sejak 23-24 Januari membasahi lereng curam Gunung Slamet dengan tanah latosol yang gembur, aliran DAS padat, dan kemiringan melebihi 64%. Akibatnya, sungai meluap membawa kayu serta batu ke hilir, merusak infrastruktur dan lahan pertanian.
Pemprov Jateng melalui DLHK dan ESDM menyatakan cuaca ekstrem plus kondisi geologi alamiah sebagai penyebab utama, bukan aktivitas tambang, meskipun WALHI menuding deforestasi dan konversi lahan. Upaya rehabilitasi hutan kini digenjot untuk cegah erosi berkelanjutan.
Warga geram atas respons Pemprov Jateng yang terkesan lamban, dengan media sosial dipenuhi tagar “tidak ada gubernurnya” saat bencana melanda Pemalang hingga Purbalingga. Mereka menyoroti minimnya kehadiran Gubernur Ahmad Luthfi. BPBD pun waspada terhadap potensi longsor susulan.
Kunjungan Gubernur
Pada 30 Januari 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi blusukan langsung ke lokasi bencana di lereng Gunung Slamet, terutama Pemalang. Ia klaim penanganan sudah optimal, termasuk pendataan korban dan kerugian, relokasi 80 rumah rusak di Pemalang, serta percepatan di Purbalingga.
Luthfi koordinasi dengan Kementerian Kehutanan usul status Gunung Slamet jadi taman nasional untuk mitigasi jangka panjang.
Ia tekankan pemulihan hutan, perbaikan sawah tergenang, bantuan kesehatan, serta pendidikan anak korban, sambil cek dampak tambang liar yang bukan faktor dominan. Kunjungan ini respons atas keluhan warga soal keterlambatan.
Gubernur Ahmad Luthfi serahkan bantuan simbolis hampir Rp700 juta berupa logistik makanan, non-makanan, pakaian, mainan anak, hunian sementara, dan kebutuhan pokok via BPBD Jateng. Tambahan beras, obat-obatan, serta dana stimulan sudah disalurkan ke korban di Pemalang dan Purbalingga.
Ia janjikan inventarisasi detail korban untuk bantuan lanjutan, pengklaiman asuransi lahan sawah, sekolah darurat, posko kesehatan, serta relokasi ratusan rumah ke huntara dan huntap. Total dari provinsi capai Rp950,3 juta, ditambah Rp225 juta dari Baznas untuk sandang, pangan, dan pengobatan. **











