Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM– Budaya literasi makin tumbuh dan berkembang di Jombang, Jawa Timur, sebagai bagian untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM).
Untuk tujuan itulah, selama tiga hari di pendopo Kabupaten Jombang dalam peringatan Hari Jadi ke-116. Festival Literasi 2026, acara dibuka Selasa, 13 Oktober 2026.
Puluhan judul karya penulis lokal dipajang, diluncurkan, dan didiskusikan, mulai dari sejarah desa, kisah tokoh, cerita rakyat, hingga dokumentasi kekayaan kuliner khas yang selama ini jarang tertulis.
Buku Kuliner Warisan di Meja Kekinian: Gastronomi nJombang Jilid 1 merupakan karya Dimas Bagus Aditya dkk, diterbitkan oleh Perpusnas Press pada 2026
Yang paling mencuri perhatian pada hari pertama adalah peluncuran dan bedah buku utama:
“Gastronomi: Warisan Kuliner Jombang di Meja Kekinian” — buku spesial yang memotret resep turun-temurun dan cerita di balik hidangan khas Jombang, dipandu langsung oleh Gus Didin.
Selain buku utama tersebut, pengunjung juga disuguhi beragam bentuk karya tulis lainnya:
– Buku sejarah dan arsip daerah — jejak perjalanan desa, tokoh, dan peristiwa penting di Kabupaten Jombang
– Cerita rakyat dan dongeng lokal — kisah turun-temurun yang kini terangkum rapi dalam tulisan
– Karya sastra anak — puisi, cerita pendek, dan karangan buatan anak-anak serta guru se-Jombang
– Naskah drama dan karya teater — naskah orisinil yang kemudian juga dipentaskan di panggung festival
– Esai dan tulisan kreatif — hasil lomba literasi yang memuat gagasan, pemikiran, dan harapan masyarakat terhadap Jombang.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jombang, Thonsom Pranggono, A.P., M.E., menyampaikan bahwa keberagaman karya ini sengaja dihadirkan agar masyarakat melihat: literasi bukan hanya soal membaca pelajaran sekolah, melainkan segala hal yang hidup di sekitar kita.
“Festival ini menjadi ruang untuk mempertemukan, menampilkan, dan mengapresiasi berbagai kreativitas masyarakat. Semua yang ada di sekitar kita — makanan, cerita, sejarah, budaya — layak ditulis dan dibaca.”
Bunda Literasi
Bunda Literasi Kabupaten Jombang, Hj. Yuliati Nugrahani Warsubi, menegaskan bahwa pameran buku hanyalah permulaan. Tujuan sesungguhnya adalah dua hal: mendorong masyarakat — terutama generasi muda — gemar membaca sekaligus berani menjadi penulis bagi lingkungannya sendiri.
“Jangan hanya menggunakan gawai untuk hiburan semata. Manfaatkan untuk belajar, mencari pengetahuan, dan mulai menuliskan apa yang kita ketahui. Jombang memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan tradisi yang luar biasa. Jika tidak kita tulis, lama-lama bisa hilang begitu saja.”
Hj Yuliati berharap buku-buku yang ditampilkan di festival ini akan menginspirasi lebih banyak warga untuk mulai mendokumentasikan potensi daerahnya.
“Semakin banyak karya yang lahir dari tangan anak Jombang sendiri, semakin jelas jejak identitas kita di mata generasi mendatang.”
Rangkaian Acara
* Selasa, 13 Okt Pembukaan, launching & bedah buku Gastronomi, santunan anak yatim, pameran karya penulis lokal
* Rabu, 14 Okt Workshop mendongeng, diskusi sastra, pertunjukan teater berdasarkan naskah karya warga
* Kamis, 15 Okt Penyerahan penghargaan lomba literasi dan penutupan
Festival Literasi 2026 mengajarkan satu hal sederhana namun bermakna besar: kekayaan Jombang bukan hanya di sawah, pasar, atau bangunan bersejarah — ia juga ada di halaman-halaman buku yang ditulis oleh warganya sendiri.
“Ketika satu buku lahir, satu kisah terselamatkan. Ketika satu anak membacanya, satu harapan tumbuh untuk menjaga kisah itu tetap hidup.**












