Penulis: Muslim Zakaria | Editor: Gandung Kardiyono
MOJOKERTO, SWARAJOMBANG.COM – Malam takbiran di Desa Kumitir, Jatirejo, Mojokerto selalu menjadi momen penuh suka cita.
Warga desa berkumpul dengan semangat kebersamaan, menyambut datangnya Idul Fitri 1447H dengan lantunan takbir yang menggema di seluruh penjuru desa.
Anak-anak, remaja, hingga orang tua turut serta dalam pawai obor dan bedug, menciptakan suasana meriah yang khas pedesaan.
Rute perjalanan takbiran Jumat (20/3) berawal dari halaman kantor Desa Kumitir, dimulai pukul 20.00 wib menuju jalan Candi Tikus – Raya Domas berakhir di balai desa.
Tradisi dan Kebersamaan
Tradisi takbiran di Kumitir tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antar warga.
“Kebersamaan ini mencerminkan nilai gotong royong dan kekeluargaan yang masih terjaga kuat di masyarakat,” ujar Lukman, Sekdes Kumitir.
Kreativitas Warga
Selain pawai obor, warga juga menampilkan kreativitas dengan menghias bedug dan membuat miniatur masjid atau pernak-pernik Islami.
“Anak-anak muda berperan aktif dalam mengorganisir acara, memastikan setiap detail berjalan lancar,” lanjutnya.
Kreativitas ini menambah semarak malam takbiran, sekaligus menjadi wadah ekspresi budaya lokal.
Kepala Desa Kumitir, M.Khoirun menjelaskan dibalik kemeriahan, malam takbiran di Desa Kumitir memiliki makna spiritual yang mendalam.
“Lantunan takbir menjadi simbol kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, serta pengingat akan kebesaran Allah SWT.
Warga merasakan kedamaian batin, bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan berharap dapat menyambut Idul Fitri dengan hati yang bersih,” katanya.
Peserta arak-arakan kali ini lebih banyak dari warga dusun Bendo, meskipun jumlah warga tidak banyak namun mampu dioptimalkan.
“Jumlah warga tidak banyak, tapi kami all out semua semangat berpartisipasi kirab takbiran malam ini,” ungkap Nirriawang, Polo Bendo.
Malam takbiran di Desa Kumitir Jatirejo Mojokerto adalah cerminan harmoni antara tradisi, kebersamaan, kreativitas, dan spiritualitas.
Suka cita yang tercipta bukan hanya dirasakan secara lahiriah, tetapi juga memperkuat ikatan batin antar warga.
Inilah yang menjadikan malam takbiran di desa tersebut begitu istimewa dan selalu dinanti setiap tahunnya.**











