Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

Anak Muda dan Game, Sebuah Dilema Modern

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Permainan video kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian banyak anak muda, terutama laki-laki. Lebih dari sekadar hiburan, game juga berfungsi sebagai ruang sosial dan bahkan arena kompetitif. Namun, kehadirannya menimbulkan perdebatan panjang: orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan kerap mengkhawatirkan dampak negatif seperti kecanduan, kekerasan, hingga penarikan diri dari pergaulan.

Penelitian terbaru, termasuk dari Universitas Oxford, menunjukkan bahwa dampak video game tidak sesederhana “baik” atau “buruk.” Hasil penelitian justru bervariasi tergantung bagaimana, mengapa, dan seberapa lama game dimainkan.

Salah satu temuan penting adalah kaitan dengan perkembangan kognitif. Banyak game menuntut konsentrasi, pengambilan keputusan cepat, pengenalan pola, dan strategi. Studi menunjukkan adanya peningkatan koordinasi mata-tangan dan pemrosesan visual pada pemain reguler. Bahkan sesi singkat bermain game dapat meningkatkan keterampilan tertentu.

Interaksi sosial juga menjadi sorotan. Game daring sering melibatkan kerja tim dan komunikasi. Bagi sebagian anak yang kesulitan bersosialisasi di sekolah, game menjadi sarana membangun pertemanan. Meski tidak menggantikan interaksi tatap muka, komunitas game menambah lapisan baru dalam perkembangan sosial.

Dampak pada kesehatan mental lebih kompleks. Bermain berlebihan bisa berkorelasi dengan kecemasan atau depresi, tetapi hal ini biasanya terjadi ketika game menggantikan aktivitas penting lain seperti tidur, sekolah, atau olahraga. Dengan kata lain, pola penggunaan lebih menentukan daripada gamenya.

Analisis New York Times terhadap data nasional di Amerika Serikat menunjukkan bahwa bermain game memberi rasa puas dalam waktu luang, namun juga bisa berbenturan dengan pendidikan dan pekerjaan. Bagi sebagian anak, game menjadi pelarian dari stres, yang bisa adaptif dalam jangka pendek tetapi berisiko jika menjadi bentuk penghindaran tanggung jawab.

Pelajaran utama bagi orang tua adalah pentingnya konteks. Anak yang bermain satu jam sehari dengan tetap menjaga keseimbangan sekolah, tidur, dan aktivitas lain akan berbeda dampaknya dengan anak yang bermain berjam-jam secara kompulsif. Selain itu, jenis game juga berpengaruh: puzzle dan strategi memberi stimulasi kognitif berbeda dibandingkan game aksi cepat.

Kesimpulannya, video game tidak selalu berbahaya. Jika dipantau dan diseimbangkan dengan aktivitas lain, game bisa menjadi sumber kesenangan, koneksi sosial, dan stimulasi kognitif. Tantangannya adalah memastikan pola penggunaan tetap sehat dan tidak mengorbankan aspek kehidupan lain.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (62): Ideologi Anarki merupakan Reaksi Kejam Melawan Aturan yang Mapan

28 September 2026 - 17:54 WIB

Anarkis

Dirjen Lapas Mashudi: 13 dari 16 Rumah Klaster Mewah di LP Cibinonng tidak Masuk Milik Negara

28 September 2026 - 17:15 WIB

RDP di DPR RI, Kalapas Cibinong Sengaja Tidak Pasang CCTV dan Bongkar Perabot Mewah Pasca Sidak Ombudsman

28 September 2026 - 15:43 WIB

SPPG di Bawang Batang Langgar SOP: 589 Anak dan Ibu Keracunan, 127 Korban Masih Dirawat

27 September 2026 - 20:22 WIB

Polisi, Komdigi dan Praktisi Talkshow ‘Jangan Asal Viral’ Peluncuran Media APPI di Surabaya

26 September 2026 - 23:07 WIB

Lima Kebohongan Kalapas Cibinong Saat Disidak Ombudsman dan Inspektur Jenderal Imipas

26 September 2026 - 22:12 WIB

Inspektur Imipas Nonaktifkan Lima Pejabat LP Cibinong, Pasca Sidak Ombudsman

26 September 2026 - 18:40 WIB

Yusril Dorong Ombudsman Buka seluruh Temuan dan Izinkan Jurnalis Masuk LP CIbinong

26 September 2026 - 17:56 WIB

Komdigi Bantah Surat Pemadaman Internet Nasional 3 Hari

25 September 2026 - 21:23 WIB

Trending di Nasional