Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM— Di halaman depan kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Jombang, berdiri sebuah kedai soto ayam kampung sederhana setiap hari ramai dikunjungi prmbeli.
Di balik kedai itu, ada sosok sederhana bernama Pak Agus, 60, pria asli Lamongan bersama istrinys, Zulaikah, telah mengabdikan dirinya di lingkungan ini selama lebih dari seperempat abad.
Sudah 25 tahun lamanya Pak Agus menjadi tenaga kebersihan dan keamanan di lingkungan kantor DPD Partai Golkar Jombang. Pagi hari sebelum orang lain beraktivitas, ia sudah hadir.
Saat orang lain mulai pulang, ia baru menyelesaikan tugasnya. Sebagai bentuk penghargaan dan kepercayaan, ia diberikan tempat tinggal sederhana di lingkungan kantor partai politik tersebut.
“Saya diberi tempat tinggal, dipercaya menjaga tempat ini, menjaga kebersihan dan keamanan kantor ini. Bekerja dengan jujur dan menjaga amanah, itu cara saya bersyukur,” ucapnya dengan tulus.
Namun hatinya tak sekadar ingin bekerja dan bertahan. Ia ingin memberikan lebih dari sekadar tenaga. Delapan tahun lalu, kesempatan itu datang.
Dari Bakso ke Soto
Sejak 8 tahun lalu, Pak Agus mendapat izin untuk membuka usaha kecil di halaman depan kantor tersebut. Awalnya ia berjualan Bakso Karim. Selama tujuh tahun lebih bakso itu menjadi andalan pembeli.
Namun sekitar 4 bulan lalu, atas saran dan dorongan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Jombang, Andik Basuki Rahmat, Pak Agus beralih menyajikan Soto Ayam Kampung.
Bukan sekadar saran, Ketua DPD Golkar Jombang juga memberikan dukungan nyata berupa bantuan modal Rp1.000.000 untuk memulai perubahan tersebut.
Dengan harga hanya Rp10.000 per mangkuk, Pak Agus tidak sekadar menjual makanan yang mengenyangkan. Kuahnya bening dan gurih, daging ayam kampungnya terasa nyata, porsinya cukup mengenyangkan, dan isinya lengkap: soun, kol, tauge, seledri, bawang goreng, kerupuk, serta sambal yang pas rasanya.
Sederhana saja, tapi justru di sanalah letak kelezatannya. Pembeli datang berulang — bukan hanya karena lapar, tetapi karena mereka tahu makanan ini dibuat dengan hati tulus.
“Saya tidak mengejar keuntungan besar. Yang penting halal, bersih, enak, dan sisanya cukup untuk bisa berbagi,” tuturnya.
Kol berani buka harga Rp10.000/ mangkuk? ” Lha saya ini diberi fasilitas kantor, tempat tidak perlu sewa. Air dan listrik gratis dari kantor, jadi saya buka harga Rp10.000. Disini kan, banyak pekerja kantoran, saya kita hargannya terjangkau!”
Untung rerata berapa? “Ya kirakira Rp250.000 per hari…” kata Agus yang selalu didampingi Zulaikah, istrinya.
Jumat Legi Berkah
Inilah yang paling menyentuh hati. Sejak mulai berjualan — dulu saat masih Bakso Karim, hingga kini menjadi Soto Ayam Kampung — Pak Agus memiliki satu tradisi yang tak pernah ia tinggalkan: setiap sebulan sekali, pada hari Jumat Legi.
Ia membagikan soto ayam secara GRATIS kepada seluruh jamaah yang melaksanakan Sholat Jumat di Masjid Golkar.
“Mengapa Jumat Legi? Karena bagi saya, hari itu terasa istimewa. Ada kedamaian di hari itu. Bukan karena saya kaya, tapi justru karena saya ingin berbagi dari apa yang saya miliki,” jelasnya.
Ia tidak melakukannya untuk dipuji atau dikenal orang. Ia melakukannya karena merasa rezeki yang ia terima setiap hari bukan sepenuhnya miliknya — ada hak orang lain di dalamnya. Dan ia memilih hari yang penuh keberkahan itu untuk menunaikan hak tersebut.
Pak Agus bukan orang kaya. Ia hanyalah pekerja sederhana yang menyempatkan diri berjualan di halaman depan kantor di sela-sela waktunya. Namun dari kesederhanaan itu, ia menemukan kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan uang:
“Berbagi itu tidak harus menunggu kaya. Berbagi justru membuat hati merasa kaya. Jika dari satu mangkuk soto ini ada yang tersentuh hatinya, lalu tergerak untuk berbuat baik, itu sudah lebih dari cukup bagi saya.”
Pelajaran yang luar biasa sederhana namun dalam maknanya: rezeki yang sederhana jika disyukuri dan dibagikan, akan terasa berlimpah.
Dukungan dan kepercayaan dari pimpinan pun bukan sekadar bantuan materi, melainkan dorongan agar kemandirian dan kebaikan terus berjalan beriringan.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali melupakan hal-hal kecil yang bermakna, sosok Pak Agus mengingatkan kita: kebaikan tidak harus dimulai dari hal yang besar.
Satu mangkuk soto, satu hari kebaikan, satu hati yang ikhlas — itu pun sudah cukup untuk membuat dunia sedikit lebih baik.
Terima kasih, Pak Agus. Semoga kebaikan yang Bapak tanam setiap Jumat Legi senantiasa dibalas dengan keberkahan yang berlipat ganda.**











