Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (60): Manifesto Komunis Lahirkan Kaum Bolshevik

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

SWARAJOMBANG.COM— Masyarakat rahasia kaum nasionalis semakin lebih bertujuan internasional setelah masa revolusi-revolusi kota meledak pada 1848. Penganjurnya adalah Karl Marx dan Freidrich Engels.

Kedua pengarang Manifesto Komunis kelahiran Jerman itu mengkotbahkan adanya perang rakyat yang melewati batas-batas nasional. Meskipun demikian, setiap kerusuhan komunis masa datang dilancarkan dalam kerangka kerja negara saja.

Kaum Bolshevik meniru kaum Blanquist menggunakan kelompok-kelompok kecil terlatih revolusioner, mereka kecil namun erat hubungannya satu sama lain.

Kaum Carbonari pun melakukannya ketika mengajukan tuntutan kepada angkatan bersenjata. Demikian juga halnya dengan pemberontak Irlandia ketika mengeksploitasi ketidakpuasan pertanian mereka dan komune-komune Paris ketika mengawasi gerombolan perkotaan.

Terlepas dari klaim mereka merepresentasikan kelompok kerja di manapun, Revolusi Komunis gagal berkembang di seluruh Eropa setelah kaum Bolshevik berhasil di Rusia karena mereka sebetulnya adalah orang Rusia sebelum menjadi manusia dunia.

Para perusuh kelas menengah pada 1884, menghentikan solidaritas bangsa Eropa agar bisa terlibat dalam pertikaian nasional. Demikian juga kaum Bolsheviks menghentikan resolusi di seluruh dunia agar bisa menjadi kuat di tanah kelahiran mereka sendiri.

Semua kalangan yang selalu berupaya melancarakan revolusi yang didapat dari luar negeri adalah kaum anarkis.

Mereka mempercayai adanya proses tindakan langsung yang berkelanjutan dalam tradisi Babeuf dan Blanqui.

Mereka kerap terpaksa bekerja pada jalur-jalur lokal karena tujuan pertama mereka adalah menggulingkan pemerintahan dalam negeri.

Bagaimanapun, filsuf prospektif kaum anarkis, Mikhael Bakhunin, mengajarkan keyakinan Babeuf bahwa Revolusi Prancis “merupakan satu-satunya pionir revolusi lain, yang jauh lebih besar dan agung, yang mungkin menjadi yang terakhir.”

Tanpa disadari, pengalaman Perancis telah melontarkan kelahiran nasionalisme di dunia ketimbang sekedar meniupkan kemerdekaan, kesamaan derajat dan persaudaraan.

Bakhunin adalah seorang aristokrat Rusia yang bekerja dalam pasukan Tsar. Setelah mengupayakan beberapa perubahan dalam negara yang penuh penindasan itu, dia tertarik pada karya seorang radikal Perancis yang juga Freemason, Pierre Joseph Prodhon.

Buku Prodhon berjudul Kontradiksi Ekonomi (Economic Contradiction) dipublikasikan pada 1846 terkenal dengan slogannya, Destruam et Aedificabo, “Saya Menghancurkan dan akan Membangunnya.”

Ketika mengalami pertengkaran yang terus berlanjut dengan Karl Marx, Bakhunim lantas mengatakan tentang mentor Perancisnya itu. Yaitu bahwa Proudhon adalah seorang revolusioner karena instink.

“Dia memuja Setan dan memaklumkan adanya anarki” Sangat mungkin bahwa Marx bisa membangun sebuah sistem kemerdekaan yang jauh lebih rasional, tetapi dia tidak memiliki instink kemerdekaan. Karena itu, dia secara keseluruhan tetap saja; dari kepala hingga kakinya, seorang otoriter.”

Proudhon mengajukan persoalan yang kemudian tidak pernah dapat dijawab oleh kaum Marxis dalam penjelasan ekonomis mereka tentang teror terhadap penduduk melalui “kediktatoran kaum proletariat”.

Pamfletnya yang kenamaan, “What is Property?” (Apa itu harta benda) dimulai dengan pendekatan-pendekatan ini. “Jika saya diminta menjawab pertanyaan berikut: “Apa itu perbudakan?” maka saya harus menjawabnya dengan satu kata, “Itulah pembunuhan.”

Dengan demikian, pengertian saya akan segera dipahami… Karena memperbudak manusia berarti membunuhnya. Kemudian, mengapa, terhadap pertanyaan lain ini: “Apa itu harta milik?” mungkin tidak saya berikan jawaban yang senada, ‘Itulah perampokan?.”

Proudhon melontarkan argumen ekonomi demi kesamaan derajat manusia dalam protes utopia sebelumnya. Baginya, negara justru mempraktekkan pencurian legal.

Doktrin ini menarik minat Bakhunin, yang tidak dapat menerima pemisahan kaum Marxis dalam kelas-kelas sosial yang eksklusif.

‘Kelas social, kekuasaan serta negara,’ tulisnya ‘adalah tiga istilah. Masing-masing mengandaikan dua istilah lainnya. Namun mereka semua dapat didahului oleh kata-kata: penaklukan politik dan eksploitasi ekonomi massa.’

Bakhunin tidak ingin menggunakan prinsip negara dan kekaisaran lama tentang upaya memecah-belah dan memerintah.

Dia ingin menyatukan para mahasiswa dan pekerja serta petani dalam suasana persahabatan, yang mampu berpadu satu dalam pemberontakan instinktif demi kebaikan bersama. (Bersambung

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Gus Ipul: Fitnah Itu Ada Aliran Dana Rp480 M ke Muktamar NU Jombang, Siapkan Somasi Hukum ke Gus Lilur Cs

23 September 2026 - 22:36 WIB

Keracunan MBG Lagi, 244 Anak Siswa PAUD/TK di Bawang, Diangkut ke Rumah Sakit Batang Jateng

23 September 2026 - 22:00 WIB

KPK Operasi Kelima Penggeledahan Sasar Kantor ATR/ BPN Mojokerto

23 September 2026 - 20:50 WIB

Gratis dari TK Hingga Kuliah untuk Sekolah Negeri

23 September 2026 - 20:47 WIB

Hakim Vonis Hukuman Mati kepada Agus Sulaiman, Oknum Polisi Pembunuh Iparnya Mahasiswi UMM

23 September 2026 - 15:48 WIB

Sinergi LSM-Dinas PU: Kawal Proyek Jalan Bluru Ditarget Bermutu Tinggi dan Tepat Waktu

23 September 2026 - 10:33 WIB

Keracunan Makanan PMT di Rawabelang Batang, Puluhan Ibu dan Anak Dirawat di RSUD Kalisari

23 September 2026 - 00:33 WIB

Holi Kejar dan Menabrak Pencuri Motor Hingga Tewas di Ranuyoso, Kasus Hoki Minaya Terulang di Lumajang

22 September 2026 - 20:46 WIB

Emil Dardak: 411 Aset Pemprov Diproteksi dari Mafia Tanah

22 September 2026 - 20:16 WIB

Trending di Nasional