Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM-– Orang terakhir yang merusak pemerintahan dinasti Ming adalah Chang Hsien-chung. Nyaris tidak ada yang dapat diketahui seputar sejarahnya.
Ia datang dari Cina utara pada masa akhir pemerintahan dinasti Ming, menghancurkan provinsi kaya Sxzechuan dengan membunuh jutaan orang dalam jangka waktu beberapa bulan saja.
Dia baru berusia dua puluh sembilan tahun ketika memerintahkan pembunuhan semua cendekawan ibukotanya di Cheng Du, karena mereka memperdebatkan gelarnya, Raja dari Kerajaan Barat Yang Agung.
Setelah menghancurkan kaum terpelajar, Chang merencanakan aksi pembunuhan terhadap para pedagang, kemudian kaum wanita diikuti para pegawai.
Pada tahap terakhir, dia memerintahkan prajuritnya sendiri agar bersedia saling bunuh diri.
Dia memerintahkan kaki istri para pegawainya dipotong kemudian ditumpukkan menjulang tinggi. Pada puncak tumpukan itu, dia meletakkan kaki selir kesayangannya.
Setelah aksi berdarah itu terlaksana, dia menghitung jumlah telinga dan kaki yang dipotong oleh para pengawalnya dari tubuh para penduduk desa kawasan terpencil.
Ia pun mengungkapkan alasannya sendiri melakukan aksi pembunuhan itu pada sebuah loh batu, yang dimintanya agar didirikan sebagai kenangan kepadanya.
Surga memberikan banyak hal untuk mendukung manusia. Manusia tidak memiliki satu barang pun untuk memberikan kompensasi kepada Surga.
Bunuh. Bunuh. Bunuh. Bunuh. Bunuh. Bunuh. Bunuh.
Setelah Chang meninggal dunia, keping batu itu dibalik dan ditempelkan di dinding.
Diyakini orang bahwa jika kepingan batu itu dibaca lagi, maka dia bakal menggembar-gemborkan penghancuran massal lainnya.
Masyarakat rahasia Cina, termasuk Triads bawah tanah terus berupaya menyerang penguasa di Peking lewat serangkaian kerusuhan yang dilancarkan oleh para petani.
Pergolakan luar biasa dipimpin oleh cendekiawan Canton, Hung Hsiu-ch’ uan. Pada 1837, dia memperoleh serangkaian penampakan ilahi, yang dijelaskan kepadanya ketika dia membaca kitab Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Cina.
Sepuluh Perintah Allah nampak bagi Hung bertujuan meratifikasi visinya. Bahkan jauh lebih cepat daripada para rasul perdana, Hung kemudian menyebarluaskan keyakinan Protestan primitifnya di antara petani Cina selatan yang tidak puas.
Masyarakat Penyembah Allah bentukannya atau T’ai P’ings merebut Nanking, ibukota kawasan selatan dari kekaisaran Manchu termasuk mengancam pelabuhan besar Eropa serta Cina utara jauh melewati Sungai Yangtze.
Hung menggunakan gelar-gelar Saudara Muda Yesus serta Raja Surgawi, yang datang untuk membangun Dinasti Surgawi yang Sangat Damai.
Pada awalnya, penguasa Eropa mendukung pemberontakan berwarna Kristen yang luar biasa itu.
Uskup Anglikan Victoria juga meminta dukungan Hong Kong, memaklumkan bahwa kerusuhan T’ai P’ing merupakan wajah lain perang salib.
Pasukan mereka tidak memperkosa atau menjarah para wanita. Mereka melarang perdagangan candu dan kebiasaan mengikat kaki kaum perempuan.
Satu-satunya tindakan merusak yang mereka lakukan adalah merusak semua ikonoklasme Protestan awal, menggulingkan patung-patung ilahi Budha atau Tao. Mereka bahkan membagikan semua Alkitab, yang kini diterjemahkan ke dalam bahasa Cina.
Sebagai Mesias atau Muhammad yang lain, Hung Hsiu-ch’uan nampaknya dibaiat untuk membawa versi Injilnya bagi tanah kelahirannya yang reaksioner.
Bagaimanapun, penguasa Eropa hadir di Cina lebih banyak untuk berdagang ketimbang untuk berdoa. Mereka menyerang pemerintah Manchu yang mulai melemah.
Pada tahun 1960, Peking berhasil direbut dan dihancurkan. Seorang tenaga mekanik Kerajaan Inggeris, Kapten Charles George Gordon menjadi salah satu perusak Kerajaan Musim Panas yang mengagumkan.
“Kami keluar dan setelah menjarahnya” dia menulis surat kepada ibunya, “membakar seluruh tempat itu, menghancurkan bangunan paling berharga itu seperti perbuatan seorang Vandal … Itulah pekerjaan yang paling merusak moral pasukan—. Semua orang sunggguh-sungguh menjarah.”
Para penguasa Eropa pun kemudian mengalihkan simpati mereka dari T’ai P’ings setelah Kaisar Manchu mengadakan perdamaian yang sangat didambakan; ia menawarkan sejumlah besar ganti rugi dan konsensi perdagangan. Akibatnya, Hung Hsiu-ch’uan kini dikecam sebagai nabi sesat.
Agama Kristen seharusnya hanya mencapai Cina melalui para misionaris Eropa, bukan melalui pemimpin perang yang mengklaim memperoleh penampakan ilahi seperti Musa.
Pasukan-pasukan swasta yang disubsidi pedagang Shanghai dan dukungan angkatan laut Inggris dikirim untuk membantu pasukan Manchu.
Ekspedisi pertama dipimpin oleh seorang petualang Amerika, Frederick Ward, kemudian dipimpin oleh George Gordon yang mengambil alih 3.000 anggota pasukan “Pasukan Yang Pernah Memenangkan Perang.”
Kekejaman kini pun diperlihatkan oleh kedua belah pihak. Para pemberontak membawa kepala-kepala para perwira Manchu yang ditusukkan pada tombak-tombak mereka.
Sementerara itu, ratusan pengikut T’ai P’ing dipenggal kepalanya di Tsingpu hingga jalanan dibanjiri darah.
Pemberontakan Hung berakhir mengerikan seperti terjadi pada banyak perang salib lainnya. (Bersambung).











