Menu

Mode Gelap

Headline

Tak Mau Didahului China, NASA Bangun Pangkalan Bulan Presiden Trump

badge-check


					Amerika melalui  NASA mengumumkan akan membangu Pangkalan Bulan Presiden Trump yang diharapkan selesai sebelum masa jabatan Trump berakhir. Foto: Ist Perbesar

Amerika melalui NASA mengumumkan akan membangu Pangkalan Bulan Presiden Trump yang diharapkan selesai sebelum masa jabatan Trump berakhir. Foto: Ist

Penulis: Jocobus E. Lato   |    Editor: Priyo Suwarno

AMERIKA, SWARAJOMBANG.COM- Tidak mau ketinggalan berlomba melawan China, saat ini NASA mengumumkan rencana ambisius untuk membangun “pangkalan bulan Presiden Trump” melalui 81 peluncuran roket selama 10 tahun, mulai tahun 2027.

Administrator Jared Isaacman menyebutnya sebagai pencapaian yang “hampir mustahil.” Untuk mewujudkan impian itu, NASA telah melangkah dengan program tigas fase pembangunan pangkalan bulan Presiden Trump, yaitu:

  • Fase pertama (2025-2028): 25 peluncuran, muatan 8.000 pon untuk membangun akses ke permukaan.
  • Fase kedua (2028-2032): 27 peluncuran, tujuh rover, muatan 120.000 pon untuk membangun infrastruktur dengan dua misi berawak setiap tahun.
  • Fase tiga (2033-2036): 29 peluncuran, muatan 300.000 pon termasuk habitat dan pembangkit listrik.

Namun, apakah pangkalan tersebut akan terwujud sebelum masa jabatan Presiden Trump berakhir masih sangat tidak pasti mengingat riwayat penundaan NASA.

Trump menandatangani perintah eksekutif yang menegaskan AS ingin kembali mendaratkan astronaut ke Bulan paling lambat 2028, melalui program Artemis yang sudah dicanangkan sejak masa jabatan pertamanya.

Perintah itu juga secara eksplisit meminta NASA untuk mulai membangun “elemen awal pos permanen di Bulan” pada sekitar 2030, sebagai basis untuk kehadiran jangka panjang dan persiapan menuju misi Mars.

NASA kini mengumumkan rencana investasi sekitar 20 miliar dolar AS (sekitar Rp300–340 triliun) dalam tujuh tahun ke depan untuk membangun pangkalan permanen di permukaan Bulan, yang akan ditempati secara bergantian oleh astronaut.

Proyek ini diterangkan sebagai jawaban atas perintah eksekutif Trump yang menuntut kehadiran berkelanjutan Amerika di luar angkasa dan peningkatan dominasi AS dalam kompetisi antariksa global, terutama melawan target China yang juga ingin membangun pangkalan permanen di Bulan pada 2030‑an.

NASA juga menggeser fokus dari stasiun luar angkasa di orbit Bulan (Lunar Gateway) ke pangkalan fisik di permukaan Bulan, dengan mengalihkan komponen dan teknologi dari proyek Gateway untuk mendukung infrastruktur di permukaan.

Rencana pemerintahan Trump juga mencakup kemungkinan penggunaan reaktor nuklir di orbit dan di permukaan Bulan sekitar 2030, untuk menyediakan energi besar dan stabil bagi pangkalan dan misi jangka panjang ke Mars.

Jika Anda ingin, saya bisa jabarkan juga: bagaimana tahapan Artemis, lokasi calon pangkalan (misalnya Kutub Selatan Bulan), dan bagaimana keterlibatan perusahaan swasta seperti SpaceX dalam proyek ini. **

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Iran Menahan 2 Tanker Pertamina Senilai Rp 12 T, akibat Indonesia Melelang Tanker Arman 114 Senilai Rp 1,17 T

27 Maret 2026 - 15:58 WIB

Kasus Penipun Black Dolar, Polisi Meringkus Dua WNA Liberia di Jakarta Barat

27 Maret 2026 - 11:42 WIB

Agenda 2 April 2026, Habiburokhman: RDP Komisi III Bahas Kasus Pelecehan Seksual Ustad AM

27 Maret 2026 - 08:35 WIB

Mertua dan Menantu Terjerat Gratifikasi dan TPPU Rp 445 M, Nurhadi Bersumpah: Saya Tanggung Dunia Akhirat

26 Maret 2026 - 23:49 WIB

Demi Keselamatan, Pemkab Jombang Fasilitasi Bus Gratis 300 Warga ke Tujuan Jakarta

26 Maret 2026 - 22:29 WIB

Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari Kurangi Risiko Penyakit Ginjal

26 Maret 2026 - 20:00 WIB

Honda Civic Hantam Truk Fuso di Jalan Juanda, Mobil Hancur Pengemudi Tewas

26 Maret 2026 - 18:42 WIB

Naik Motor 4 Orang Sekeluarga, Kecelakaan di Jalur Klemuk Batu Ayah Meninggal Dunia

25 Maret 2026 - 22:40 WIB

Jaga Learning Loss, Menko PMK Praktikno: Wacana Belajar Daring per April 2026 Dibatalkan

25 Maret 2026 - 21:59 WIB

Trending di Headline