Penulis: Arief H. Soesatyo | Editor: Priyo Suwarno
JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM — Di tengah gempuran konten digital yang makin meluas, Pemerintah Kabupaten Jombang mengambil langkah nyata menjaga jati diri sekaligus mengasah kemampuan anak bangsa.
Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, hari ini Selasa (12/5) resmi dibuka Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Kabupaten Jombang Tahun 2026 di Pendopo Kabupaten.
Berlangsung selama dua hari hingga Rabu (13/5), ajang ini jadi bukti keseriusan daerah menaikkan indeks literasi yang kini berada di posisi ke-12 Jawa Timur, dan ditargetkan melesat ke 5 besar pada akhir tahun.
Lomba ini bukan sekadar kompetisi biasa: ia menjadi jembatan menghidupkan kembali cerita rakyat, kearifan lokal, dan nilai-nilai leluhur agar tak punah ditelan zaman.
Sebanyak 50 peserta terbaik terpilih dari seluruh kecamatan—naik 25% dari tahun lalu—yang mewakili kelas 4 SD/MI, siap bersaing menunjukkan kelancaran berbahasa, keberanian tampil, dan kreativitas mengolah kisah.
Hari pertama diikuti 25 peserta, sedangkan 25 peserta lainnya akan unjuk kemampuan pada hari kedua.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jombang, Thonsom Pranggono, menyampaikan bahwa ajang ini menjadi pintu gerbang pencarian talenta.
“Tahun ini kami terima 187 pendaftar dari 35 kecamatan, baru 50 yang lolos seleksi awal. Tujuannya bukan cuma menang, tapi membangun kebiasaan membaca, melatih logika berpikir, dan menumbuhkan rasa bangga pada budaya sendiri. Juara nanti otomatis jadi wakil Jombang di tingkat Jawa Timur,” ujarnya.
Acara dibuka secara resmi Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, SH, MSi, mewakili Bupati Warsubi.
Dalam arahannya, ia menegaskan literasi tak bisa berhenti pada buku semata, tapi harus menyatu dengan cara hidup anak-anak masa kini.
“Kami buka akses ke 127 perpustakaan desa, 47 pojok baca di pesantren, dan sediakan 35 ribu buku baru khusus cerita rakyat tahun ini. Lomba bertutur ini cara paling efektif: anak membaca, memahami, lalu menyampaikan ulang dengan gaya sendiri. Menang atau kalah tak masalah, yang paling berharga adalah proses berani bicara di depan umum,” tegasnya.
Turut hadir Bunda Literasi sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten, Yuliati Nugrahani Warsubi, yang menyatakan dukungan penuh.
“Kami bentuk kelompok pendongeng ibu-ibu di setiap desa, agar kebiasaan bercerita kembali jadi tradisi malam hari di rumah. Lewat kegiatan ini, kami harap angka kunjungan ke perpustakaan yang sudah naik 38% sejak awal tahun makin melonjak lagi,” ujarnya.
Suasana makin semarak dengan penampilan monolog pembuka dari Hibah Mahbubiyahtun Nabilah, siswi SMA Negeri 3 Jombang yang sempat mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.
Penilaian berlangsung ketat dan transparan melibatkan dewan juri berkompeten: Anom Antono (Disdikbud), Nina Muthmainnah (Diskominfo), dan budayawan kenamaan Sujai.
Kriteria penilaian meliputi performa panggung, teknik vokal, penguasaan isi cerita, serta orisinalitas penyampaian—dengan aturan khusus: tanpa iringan musik, semua ekspresi dan bunyi pendukung murni berasal dari tubuh sendiri.
Sebagai bentuk apresiasi, total hadiah dan uang pembinaan disiapkan senilai Rp 75 juta.
Pemenang diumumkan dan diserahkan secara resmi pada puncak Festival Literasi Kabupaten Jombang Oktober mendatang, dengan juara pertama langsung ditunjuk mewakili daerah ke kancah provinsi.
“Di era gawai ini, kemampuan bicara yang baik, bercerita yang menyentuh hati, dan mencintai warisan leluhur jadi bekal paling mahal. Semoga dari sini lahir pendongeng hebat, penulis ulung, dan pemimpin masa depan yang tak melupakan akarnya,” pungkas Sekda Agus mengakhiri acara pembukaan.**











