Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, CHINA – China unggul dalam perlombaan jet tempur generasi ke-6 lewat J-36, prototipe revolusioner dari Chengdu Aerospace Corporation yang dijuluki “komandan siluman berbasis AI otonom”.
Pesawat ini bukan hanya mesin pembunuh udara, tapi pusat komando pintar yang beroperasi mandiri, mengubah wajah perang modern.
J-36 mengadopsi desain tailless berbasis sayap delta ganda dengan konfigurasi trijet, panjang 22,5 meter, lebar sayap 24 meter, luas sayap 248 m², dan berat lepas landas maksimum 55 ton. Ini memungkinkan muatan senjata serta bahan bakar internal besar untuk misi jarak jauh.
Keunggulan siluman multi-domain membuatnya hampir tak terdeteksi:
-
Radar: Bentuk sudut, material penyerap radar (RAM) generasi baru, serta lapisan plasma aktif yang membelokkan sinar.
-
Inframerah: Nozzle variabel mendinginkan gas buang dengan udara bypass, plus pendingin adaptif untuk permukaan kulit.
-
Elektronik dan jaringan: Komunikasi laser serta link quantum aman, mesh network terenkripsi dengan AI prediktif untuk hindari deteksi.
Hasilnya, J-36 bisa tembus pertahanan seperti S-500 atau Aegis tanpa jejak.
Otonomi AI
Ditenagai tiga mesin WS-19 (atau varian WS-15/WS-10) dengan thrust vectoring, J-36 tembus Mach 2.5 (3.087 km/jam), radius tempur 3.000-4.000 km berkat intake udara efisien. Sistem fly-by-wire, radar AESA, serta EOTS pastikan stabilitas dan targeting presisi tanpa stabilisator vertikal.
Ruang senjata internal muat 4-8 rudal (PL-15/PL-17 udara-ke-udara, YJ-12 antikapal), drone loyal wingman, serta laser directed-energy weapon (DEW) untuk pertahanan.
AI mutakhirnya izinkan pengambilan keputusan real-time, koordinasi swarm ratusan drone, dan pimpin formasi tanpa pilot manusia—kurangi risiko korban serta tingkatkan efisiensi di medan kompleks.
Di Indo-Pasifik, J-36 ubah paradigma superioritas udara, paksa rival seperti AS investasi triliunan untuk kontra-teknologi hipersonik. Namun, otonomi AI picu dilema etis: risiko kesalahan kalkulasi yang eskalasi konflik geopolitik.
J-36 jadi benchmark baru, dorong persaingan sengit antar kekuatan besar.











