Penulis: Arief H. Soesatyo | Editor: Priyo Suwarno
JOMBANG, SWARAJOMBABG.COM – Api tidak pernah memilih tempat. Ia bisa muncul dari korsleting listrik, kebocoran gas, atau kelalaian kecil yang luput dari perhatian.
Di rumah sakit, ancamannya terasa lebih serius karena di antara lorong-lorongnya ada pasien, tenaga medis, alat-alat vital, dan ruang-ruang yang tak boleh kehilangan detik sedikit pun.
Karena itulah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang menggelar In House Training Penanggulangan Kebakaran di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung, Selasa (28/4/2026).
Sebanyak 100 peserta dari unsur manajemen rumah sakit hingga tim penanganan darurat mengikuti pelatihan yang berlangsung pukul 09.00-15.20 WIB itu untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi situasi paling buruk yang bisa terjadi kapan saja.
Kalaksa BPBD Jombang, Wiko Birawa Filipe Dias Quintas, S.STP., M.Si., mengatakan kegiatan itu merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab BPBD/Damkar dalam pencegahan bahaya kebakaran.
Ia juga membuka ruang bagi institusi lain yang ingin menggelar kegiatan serupa. “Kami siap membantu,” ujarnya.
Pelatihan dibuka dengan sambutan manajemen rumah sakit yang menegaskan satu hal: keselamatan pasien, tenaga medis, dan pengunjung adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.
Setelah itu, tim BPBD masuk ke materi dasar kebakaran, mulai dari mengenali sumber api, membaca potensi risiko di lingkungan rumah sakit, hingga memahami langkah awal yang harus dilakukan saat kebakaran terjadi.
Risiko di ruang perawatan
Di rumah sakit, api bukan hanya soal nyala yang terlihat di depan mata. Bahayanya bisa berawal dari kabel yang aus, panel listrik yang bermasalah, alat medis yang bekerja tanpa henti, atau tabung dan instalasi gas yang harus diawasi ketat.
Dalam situasi seperti itu, kecepatan membaca tanda bahaya menjadi sama pentingnya dengan kecepatan memadamkan api.
Karena itu, peserta juga mendapat penjelasan soal prosedur evakuasi. Di ruang pelayanan kesehatan, evakuasi tidak bisa dilakukan sembarangan.
Pasien kritis harus didahulukan, akses keluar harus tetap aman, dan jalur evakuasi mesti dipastikan bebas hambatan agar perpindahan orang maupun peralatan medis tidak menambah risiko.
Saat api mulai muncul
Bagian paling menarik dari pelatihan adalah praktik langsung menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Di sini, peserta tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga diajak memahami bagaimana api kecil harus ditangani sejak awal sebelum membesar dan sulit dikendalikan.
Tata cara memadamkan api dengan APAR dimulai dari mengenali sumber nyala dan memastikan situasinya masih aman untuk ditangani.
Setelah itu, petugas mengambil APAR terdekat, lalu melepas pin pengaman. Nozel diarahkan ke pangkal api, bukan ke lidah apinya, karena titik sumber panas adalah sasaran utama yang harus diputus lebih dulu.
Setelah tuas ditekan, bahan pemadam disemprotkan dengan gerakan menyapu ke kiri dan kanan sampai api benar-benar padam.
Dalam praktik lapangan, langkah seperti ini harus dilakukan dengan tenang. Jarak aman perlu dijaga, arah angin diperhatikan, dan sumber listrik harus segera diputus bila kebakaran berasal dari peralatan elektronik.
Bila api sudah terlalu besar, APAR bukan lagi pilihan utama; yang harus dilakukan adalah evakuasi cepat dan meminta bantuan pemadam secara penuh.
Simulasi dan pemeriksaan
Suasana pelatihan menjadi lebih hidup ketika peserta bergantian mempraktikkan penggunaan APAR.
Di hadapan instruktur, mereka mencoba memadamkan api awal dengan teknik yang benar, sambil belajar membaca situasi agar tidak mengambil tindakan yang justru membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Tidak berhenti di situ, tim BPBD juga melakukan inspeksi terhadap APAR, hydrant, dan perlengkapan pemadam yang tersedia di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung.
Pemeriksaan ini penting untuk memastikan seluruh peralatan berada dalam kondisi siap pakai saat dibutuhkan.
Dalam sesi tanya jawab, peserta juga membahas risiko yang lebih spesifik, termasuk kemungkinan kebakaran di area ICU yang memiliki perangkat medis sensitif.
Kehadiran fire pumper truck dan kendaraan operasional damkar memberi gambaran bahwa penanganan kebakaran di rumah sakit menuntut kesiapan yang lebih terukur, karena yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan, tetapi juga keselamatan pasien.
Budaya siaga bencana
Pelatihan ini menunjukkan bahwa pencegahan kebakaran tidak cukup hanya dengan memasang alat.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan siaga, memahami prosedur, dan melatih respons cepat agar semua unsur di rumah sakit dapat bekerja serempak saat keadaan darurat benar-benar datang.
Kepala Seksi Pencegahan BPBD berharap RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung semakin siap menghadapi potensi kebakaran dan mampu meminimalkan risiko korban jiwa.
Dengan pelatihan seperti ini, Jombang memperkuat satu hal yang sering dianggap sepele sampai bencana datang: kesiapsiagaan.**











