Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-
Rocky Gerung, seorang filsuf dan akademisi yang dikenal sebagai komentator politik, memberikan tanggapan blak-blakan ketika ditanya oleh Rosi Magdalena Silalahi dari Kompas TV mengenai anggapan “sok pintar”. Rosi mengajukan pertanyaan yang menohok tentang apakah banyaknya buku yang dibaca membuat Gerung merasa lebih unggul dari orang lain.
Pertanyaan Rosi Silalahi tersebut adalah, “Bang, abang pernah gak merasa bahwa dengan seluruh buku yang abang baca, abang merasa lebih pintar daripada yang lain, jadi abang agak sok tau gitu?” Gerung langsung menanggapi pertanyaan itu dengan tegas.
Menurut Gerung, sikap tersebut justru diperlukan untuk memajukan diskusi. “Iya, harus begitu,” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa jika seseorang tidak berani menunjukkan keunggulannya, maka sulit untuk menguji kapasitas intelektual mereka.
“Kan kalau Anda nggak posting itu, bagaimana Anda uji kepinteranmu?” tegasnya. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya adu argumen secara langsung.
“Kalau Anda nggak berani minta orang debat, head-on itu harus, tapi dipikiran itu,” kata Gerung, menambahkan bahwa hal tersebut adalah dasar agar “dialektika jalan.”
Untuk memperjelas pandangannya, Gerung menceritakan pengalamannya dengan beberapa tokoh politik, termasuk Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Ia mencontohkan bagaimana Prabowo sering berkunjung sebelum menjadi presiden dan mengamati koleksi bukunya. “Sebelum Pak Prabowo jadi presiden, dia berapa kali mampir ke tempat saya,” kenang Gerung.
Prabowo sempat menanyakan buku Francis Fukuyama hingga melihat koleksi “Das Kapital, Tiga Jilid” milik Gerung.
Melalui interaksi ini, Gerung menyimpulkan ketertarikan Prabowo pada buku. “Dia mengkoleksi buku-buku itu, jadi saya tahu bahwa Prabowo kutu buku,” imbuhnya.
Namun, pengalaman berbeda ia dapatkan ketika dikunjungi oleh Gibran Rakabuming Raka beberapa bulan kemudian. “Ada seseorang datang ke tempat saya, namanya Gibran, serius, ada beritanya,” kata Gerung.
Gibran melihat koleksi buku yang sama, namun sikapnya berbeda. “Dia lihat hal yang sama itu. Dan dia nggak komentar apa-apa,” jelas Gerung.
Perbedaan respons ini menjadi tolok ukur baginya untuk membedakan kategori intelektual.
Di akhir ceritanya, ia menyimpulkan, “Di situ Anda bisa bedakan. Mana kutu buku, mana kutu loncat.”.****











