Penulis: Saifudin | Editor: Priyo Suwarno
BANGKALAN, SWARAJOMBANG.COM — Sore itu, Kamis 20 November 2025 sekitar pukul 17.00 WIB, kabut duka menyelimuti Desa Parseh, Kecamatan Socah, Bangkalan, Jawa Timur. Enam santri kecil dari pondok pesantren Tahfidz Jabal Qur’an ditemukan tewas tenggelam di kubangan air bekas galian tambang golongan C, sebuah tempat yang sejak lama dilarang untuk mandi.
Anak-anak tersebut, berusia antara 7 hingga 10 tahun, berasal dari berbagai daerah; lima dari luar Madura dan satu berasal dari Bangkalan sendiri.
Mereka yang polos dan penuh semangat terjun ke dalam air yang dalam dan berbahaya, melanggar peringatan dari ustadzah mereka.
Kisah tragis bermula ketika salah satu santri tenggelam lebih dulu. Dalam keberanian yang menyayat hati, lima santri lain mencoba menolong sahabatnya itu. Namun air tak berbelas kasih; satu per satu mereka ikut terbenam dalam kubangan berlumpur penuh maut.
Proses evakuasi berjalan pilu dan lama. Jenazah-jenazah ditemukan satu per satu, dalam posisi telungkup, wajah mereka tertutup lumpur. Seorang pengurus pesantren yang mencoba menyelamatkan para santri juga turut terhempas, kini berjuang di rumah sakit dalam kondisi kritis.
Polisi segera turun tangan, memeriksa saksi dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Jenazah para santri telah diserahkan kepada keluarga yang berduka.
Identitas para korban menggoreskan luka mendalam:
-
Louvin Al Baru (9 tahun), asal Sambikerep, Surabaya.
-
Salman Al Farisi (9 tahun), asal Astapah, Kabupaten Sampang.
-
Rosyid Inul Yakin (10 tahun), asal Tambak Dalem, Surabaya.
-
Reynand Azka Mahardika (9 tahun), asal Sambikerep, Surabaya.
-
Moh Nasiruddin Adrai (9 tahun), asal Panggung, Sidoarjo.
-
Muhammad Akhtar Muzain Ainul Izzi (7 tahun), asal Kalimas Surabaya / Desa Parseh.
Berita duka ini menyisakan pertanyaan dan kesedihan mendalam bagi seluruh keluarga dan pengurus pondok pesantren. Polisi menegaskan kejadian ini murni kecelakaan tragis akibat ketidaktahuan dan pelanggaran larangan mandi di kubangan tersebut.
“Kami sudah mengidentifikasi jenazah dan sebagian sudah dipulangkan dengan permintaan keluarga tanpa autopsi,” kata Kapolsek Socah, Iptu Pariadi.
Ia menegaskan, para korban masih sangat muda, dan tragedi ini menjadi peringatan keras bagi orang tua serta pengasuh agar selalu waspada terhadap keselamatan anak-anak.
Kisah getir ini menambah catatan kelam Bukit Jaddih, yang selama ini dikenal sebagai kawasan wisata sekaligus area bekas tambang kapur berbahaya. Sebuah lubang berair yang secara tragis menjadi saksi bisu kehilangan enam nyawa muda dalam hitungan menit.
Sementara itu, warga dan santri lain terus bergotong royong melakukan evakuasi, membawa jenazah ke Puskesmas Jaddih untuk proses identifikasi dan pemulangan kepada keluarga yang tak henti menangis.
Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan juga panggilan hati dan perhatian bagi semua pihak untuk selalu menjaga dan melindungi masa depan anak-anak, sebelum segala sesuatu terlambat. **











