Menu

Mode Gelap

Nasional

Megawati: Soeharto Menolak Pemakaman Bung Karno di TMP Kalibata

badge-check


					Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri (foto.instagram@presidenmegawati) Perbesar

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri (foto.instagram@presidenmegawati)

Penulis: Gandung Kardiyono | Editor: Priyo Suwarno

BLITAR, SWARAJOMBANG.COM – Saat menjadi keynote speaker seminar internasional peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di Blitar, Jawa Timur, Sabtu (1/11/2025),

Megawati Soekarnoputri ceritakan perjuangan tentang ayahnya, Presiden RI pertama Soekarno.

Megawati menyebut bahwa perjuangan Bung Karno soal kebebasan dan kemanusiaan dilakukan sampai akhir hayatnya.

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu mengatakan bahwa Bung Karno adalah pahlawan yang tidak bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Ketika Bung Karno meninggal, pihak keluarga sudah membuat permohonan agar Bapak Proklamator itu bisa dimakamkan di TMP Kalibata.

Namun, dijelaskan Megawati, permohonan tersebut ditolak oleh Soeharto yang saat itu memerintah sebagai Presiden di masa Orde Baru.

“Hanya untuk dimakamkan saja susahnya bukan main, makanya kenapa beliau tidak seperti biasanya dimakamkan di Taman Pahlawan tapi beliau dimakamkan di sini (Blitar),” ucap Megawati.

Hal tersebut yang membuat Megawati menyebut bahwa Bung Karno tetap melakukan perjuangan hingga akhir hayatnya.

“Karena hanya untuk dimakamkan saja, tidak mudah,” tegasnya.

Meski dimakamkan di Blitar, Megawati menyebut bahwa makam ayahnya itu kini populer dengan dikenal sebagai makam Proklamator Bangsa.

“Alhamdulillah tempat ini sekarang menjadi sangat populer dan banyak orang datang ke sini dan ini jadi aneh,” ujar Megawati.

“Taman Makam Pahlawan juga bukan, lebih dikenal dengan yang namanya maka Proklamator Bangsa Bung Karno.

Di Blitar ini Bung Karno menerima pendidikan budi pekerti yang begitu penting bagi pembentukan karakternya,” ucap Megawati.

Presiden ke-5 RI itu juga menyinggung Pancasila sebagai dasar negara Indonesia bisa bersifat universal.

“Lima sila itu benar-benar dapat diaplikasikan, dilaksanakan oleh bangsa manapun juga. Kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan itu yang menjadi nilai-nilai pokok Dasasila Bandung,” ujarnya.**

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Keracunan Makanan PMT di Rawabelang Batang, Puluhan Ibu dan Anak Dirawat di RSUD Kalisari

23 September 2026 - 00:33 WIB

Holi Kejar dan Menabrak Pencuri Motor Hingga Tewas di Ranuyoso, Kasus Hoki Minaya Terulang di Lumajang

22 September 2026 - 20:46 WIB

Emil Dardak: 411 Aset Pemprov Diproteksi dari Mafia Tanah

22 September 2026 - 20:16 WIB

TPPU Rp237 M Libatkan Pejabat, Jenderal dan Ulama: Gus Yazid Cabut Keterangan BAP Letjen Widi Prasetijono

22 September 2026 - 15:13 WIB

Menelisik Akar Terorisme (59): Masyarakat Rahasia Tiongkok

21 September 2026 - 22:45 WIB

Pendukung Mengamuk di PN Tipikor Semarang saat Jaksa Ajukan Tuntutan 8 Tahun dan 6 Bulan terhadap Sudewo

21 September 2026 - 22:25 WIB

Jejak Gatot Heroe Pejabat BC Garong Negara: Simpan Valuta Rp2,8 M di Plafon Rumah Madyopuro Malang

21 September 2026 - 21:03 WIB

Bahlil Siapkan Strategi Olah Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:21 WIB

Walikota Tebingtinggi Copot 5 Kepsep SDN, karena Tolak Serahkan Proyek Revitalisasi Senilai Rp2,44 M

21 September 2026 - 18:16 WIB

Trending di Nasional