Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM — Kontroversi memanas terkait tindakan Kejaksaan Agung yang menetapkan tersangka sekaligus menahan mantan Menteri Pendidikan dan Ristek, Nadiem A. Makarim. Nadiem membela diri dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada satu pun bukti aliran dana yang mengalir kepadanya dalam proyek pembelian Chromebook senilai Rp 9,9 triliun untuk pendidikan di Indonesia.
Namun, pakar hukum Indonesia, Mahfud MD, memberikan penjelasan berbeda. Menurut Mahfud, sebelum Nadiem resmi menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia sudah membahas kerja sama dengan Google terkait proyek Chromebook melalui sebuah grup WhatsApp. Dalam grup tersebut, Nadiem sudah dipanggil “Mas Menteri” meski belum resmi dilantik.
Pernyataan ini disampaikan Mahfud dalam sebuah video wawancara yang diunggah di akun Instagram @ak4ii.hyl0s pada Kamis dini hari, 11 September 2025. Dalam video itu, Mahfud membeberkan alasan mengapa Kejaksaan Agung sudah memiliki bukti yang dianggap cukup lengkap.
Mahfud menilai ada indikasi niat atau mens rea dalam kasus ini, mengingat Chromebook pernah ditolak oleh Menteri Muhadjir Effendi dan bahkan sempat dihentikan di Malaysia pada 2019 karena dianggap tidak bermanfaat. Namun, kebijakan itu tetap diteruskan oleh Nadiem, yang berujung pada masalah hukum.
Menurut Mahfud, cara Nadiem membangun kerja sama dengan Google secara informal sebelum menjabat secara resmi adalah langkah keliru, meskipun ia tetap beranggapan bahwa Nadiem bersih dari korupsi.
Di sisi lain, terkait kerja sama strategis antara Google dan Gojek pada tahun 2025, kedua perusahaan berfokus pada peningkatan pengalaman pemetaan dan navigasi.
Dengan menggabungkan data lapangan real-time dari Gojek dan teknologi geospasial canggih Google Maps, kerja sama ini bertujuan mengoptimalkan rute pengiriman, mengurangi waktu antar, dan meningkatkan efisiensi operasional bagi pengemudi serta konsumen Gojek.
Google dan Gojek juga berupaya memberdayakan mitra pedagang UMKM dengan meningkatkan visibilitas digital mereka melalui Google Maps dan Google Business Profiles. Ini mempermudah konsumen menemukan dan memesan dari mitra pedagang, terutama melalui layanan GoFood. Inisiatif ini mendukung pengembangan ekonomi digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia.
Investasi Google ke Gojek diperkirakan mencapai Rp 16 triliun atau setara dengan 1,2 miliar dolar AS. Investasi ini menjadi bagian dari putaran pendanaan yang melibatkan beberapa investor lain dan bertujuan memperkuat inovasi, memperluas ekosistem digital, serta mendukung pengembangan layanan Gojek, khususnya melalui integrasi teknologi Google seperti Google Maps.
Nilai investasi ini juga menunjukkan kepercayaan Google terhadap model bisnis dan manajemen Gojek serta mempererat kolaborasi strategis kedua perusahaan.
Proyek pengadaan Chromebook yang dipimpin Nadiem dengan anggaran sekitar Rp 9,3 triliun hingga Rp 9,9 triliun mencakup pembelian sekitar 1,2 juta unit laptop. Proyek ini berlangsung pada periode 2019 hingga 2022 dengan tujuan mendukung digitalisasi pendidikan, khususnya bagi anak-anak di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di Indonesia.
Rincian anggaran proyek ini meliputi sekitar Rp 3,58 triliun yang bersumber dari dana satuan pendidikan dan sekitar Rp 6,39 triliun dari Dana Alokasi Khusus (DAK).**











