Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
DENMARK, SWARAJOMBANG.COM-
Influencer asal Indonesia yang kini menetap di Denmark, Salsa Erwina Hutagalung, mengaku merasa mendapat intimidasi setelah melontarkan kritik pedas kepada anggota DPR RI, Ahmad Sahroni.
Sebelumnya, Ahmad Sahroni menuai sorotan karena menyebut rakyat Indonesia “tolol” jika menginginkan DPR RI dibubarkan. Dalam sebuah pernyataan di Polda Sumut, Jumat (22/8/2025), ia berkata:
“Mental manusia yang begitu adalah mental manusia tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma mental bilang bubarin DPR, itu adalah orang tolol sedunia.”
Ucapan tersebut memicu kecaman luas, mengingat Sahroni merupakan politisi NasDem yang sudah hampir tiga periode duduk di kursi parlemen dengan gaji dari rakyat.
Salah satu kritikan tajam datang dari Salsa Erwina. Bahkan, ia menantang Sahroni untuk berdebat terbuka, terutama mengenai tunjangan rumah DPR yang menurutnya tidak pantas.
Namun, usai video kritiknya viral, Salsa mengaku merasa terintimidasi. Hal ini lantaran Ahmad Sahroni sempat menyinggung soal ajakan untuk “main” ke rumah orang tuanya di Pamulang. Ia menuliskan di Instagram Story: “Oke kita mainkan,” yang kemudian dianggap Salsa sebagai ancaman.
“Rumah keluarga saya ada di Pamulang. Kalau dia nekat melakukan intimidasi, saya juga bisa nekat,” kata Salsa.
Tak berhenti di situ, Salsa juga menyuarakan keresahan rakyat Indonesia ke dunia internasional. Dalam sebuah video berbahasa Inggris, ia menggambarkan kondisi tanah air yang penuh ketidakadilan.
“I live in Denmark, surrounded by peace, safety, and comfort. Every time I open the news from Indonesia, my heart shatters.” kata Salsa di Instagramnya 28 Agustus 2025.
(Saya tinggal di Denmark, dikelilingi kedamaian, keamanan, dan kenyamanan. Namun setiap kali membaca berita dari Indonesia, hati saya hancur.)
Salsa menyoroti insiden seorang pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi, serta kebijakan pemerintah yang dinilai tak berpihak pada rakyat.
“Civilians murdered for daring to ask for justice to their government.”
(Warga sipil dibunuh hanya karena berani menuntut keadilan kepada pemerintah.)
Ia juga menyinggung soal rencana kenaikan pajak di tengah 68 persen rakyat masih hidup dengan kurang dari delapan dolar AS per hari, sementara gaji anggota DPR justru terus dinaikkan.
“At the same time, they want to raise the parliament’s salary, which is already 38 times higher than the average monthly income of Indonesian society.”
(Dalam waktu yang sama, mereka ingin menaikkan gaji parlemen yang sudah 38 kali lipat lebih tinggi dari rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia.)
Lebih lanjut, Salsa menuding pemerintah dan aparat menutup mata terhadap penderitaan rakyat.
“They are silent in their palaces and mansions, while my brother and sister are silenced, crushed, and killed on the street.”
(Mereka diam di istana dan rumah mewah, sementara saudara-saudara saya dibungkam, dilindas, dan dibunuh di jalanan.)
Ia pun menyerukan pesan kuat kepada dunia internasional:
“Share our story. Stand with Indonesia. Because justice for Indonesia is justice for humanity.”
(Bagikan cerita kami. Berdirilah bersama Indonesia. Karena keadilan untuk Indonesia adalah keadilan bagi kemanusiaan.)
Pernyataan keras Salsa Erwina ini sontak menuai perhatian publik, baik di dalam maupun luar negeri. Ia menegaskan bahwa meski tinggal jauh di Eropa, hatinya tetap berpihak pada rakyat Indonesia yang berjuang menuntut keadilan.****











