Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, SURABAYA– Gelombang aksi unjuk rasa dalam tiga pekan terakhir kembali diwarnai bentrokan. Sejumlah korban berjatuhan, baik dari pihak demonstran maupun aparat yang berjaga.
Situasi ini memunculkan keresahan dan mempertebal jarak antara rakyat dengan aparat keamanan.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya Yenny Wahid atau Zannuba Ariffah Chafsoh menyampaikan kritik tajam terhadap pola penanganan aksi.
“Akhir tahun lalu, dalam acara Haul Gustur, saya mengingatkan aparat keamanan kita agar tidak terjebak dalam perilaku trigger,” katanya.
Ia menambahkan, “Tetapi kita juga perlu mengingatkan aparat kopolisian untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh dalam lembaganya,”
Hal ini agar tidak lagi terjangkit fenomena trigger happy atau terlalu mudah menarik pistol, bahkan Yenny menilai, hingga saat ini masih banyak tindakan yang menunjukkan adanya brutalitas.
“Sayangnya, sampai sekarang kita masih melihat begitu banyak kasus brutalitas. Rakyat dipukul, ojol dilindas, bahkan ada yang ditembak. Nyawa rakyat seolah hanya temporal damage,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti maraknya kriminalisasi terhadap gerakan mahasiswa, dengan adanya aktivis dan mahasiswa ditangkap, karena dianggap memprovokasi demonstrasi.
Dampak Grey Divorce: Pernikahan Dijalin Puluhan Tahun, Retak di Usia Senja
“Ini jelas langkah keliru. Dalam demokrasi, menyampaikan aspirasi bukanlah kejahatan,” tegasnya. Menurut Yenny, langkah represif justru memicu gelombang kemarahan yang lebih besar.
Meski demikian, Yenny mengingatkan publik untuk tidak menempatkan aparat kecil sebagai lawan. “Mereka anak-anak muda, baru lulus pendidikan. Gaji mereka hanya 2-3 juta sebulan. jauh dari gaji anggota DPR.” terangnya
Mereka diperintah menghadapi ribuan demonstran. Sementara hidup mereka sendiri pas-pasan. “Jadi, jangan adu rakyat dengan aparat kecil. Dua-duanya sama-sama terjepit.”
Pemilu Sejatinya Tidak Ada di UUD 45, Itu Akal-akalan, Jacob Tobing Ph.D Menjelaskan
Sebagai jalan keluar, Yenny menegaskan perlunya reformasi aparat yang menyeluruh dan adil dan menyentuh akar masalahnya.
Pertama, brutalitas harus dihentikan. Dengan pelatihan HAM yang wajib dilakukan.
Kedua, kesejahteraan aparat kecil harus ditingkatkan.
Ketiga, komando dari atasan harus humanis, bukan represif.
Keempat harus ada akuntabilitas dan transparansi. Aparat yang bersalah harus dihukum. Bukan diberi kenaikan pangkat
Yenny mengingatkan, jika pola lama tetap dipertahankan oleh aparat dan masih terjebak pada brutalitas dan mudah main tangkap, rakyat akan terus marah. “Tapi, kalau aparat berani berubah, hadir untuk melindungi rakyat kecil, maka kepercayaan akan kembali.” jelasnya.
Ia menekankan satu langkah penting yang harus segera dilakukan. yakni bebaskan para aktivis dan mahasiswa yang ditahan. Mereka bukan penjahat. Mereka adalah suara nurani bangsa.
“Kalau ada yang menjarah, silakan di proses hukum. Tapi, jangan kriminalisasi orang-orang yang berani menyuarakan keadilan.” pungkasnya.****











