Menu

Mode Gelap

Nasional

Wayang Potehi, Warisan Tionghoa yang Kini Jadi Budaya Nasional

badge-check


					Wayang Potehi Perbesar

Wayang Potehi

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Masyarakat Tionghoa telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Salah satu warisan budaya yang turut memberi warna adalah seni pertunjukan wayang potehi, boneka tradisional asal Fujian, Tiongkok Selatan.

Nama potehi sendiri berasal dari kata “pou” (kain), “te” (kantong), dan “hi” (wayang). Secara harfiah berarti wayang berbentuk kantong dari kain, meski beberapa bagian terbuat dari kayu.

Dalam penelitian Dwi Woro Retno Mastuti berjudul “Wayang Potehi: Chinese-Peranakan Performing Arts in Indonesia”, kesenian ini sudah dikenal masyarakat Tiongkok sejak abad ke-7 hingga ke-9 pada masa Dinasti Tang.
Cerita tutur menyebutkan bahwa wayang potehi pertama kali dibuat oleh lima terpidana mati. Untuk mengusir kesedihan, mereka menciptakan boneka dari potongan kain dan memainkannya dengan musik sederhana. Pertunjukan itu menghibur sesama tahanan dan sipir, hingga akhirnya terdengar oleh raja. Karena berhasil menghibur, mereka dibebaskan dari hukuman mati.

Perjalanan ke Nusantara
Wayang potehi dibawa oleh imigran Tiongkok ke Nusantara sekitar abad ke-16. Pertunjukan ini berkembang di kota-kota pesisir utara Jawa, terutama di sekitar kelenteng. Selain hiburan, ia berfungsi sebagai ritual untuk menyampaikan doa dan pujian kepada dewa serta leluhur.

Menurut penelitian Ngesti Lestari dalam “Dari Wayang Potehi ke Wayang Thithi”, boneka potehi dimainkan dengan kelima jari: tiga jari tengah mengendalikan kepala, sementara ibu jari dan kelingking menggerakkan tangan.

Panggung pertunjukan disebut pay low, berbentuk miniatur rumah berwarna merah. Dalang bertugas menyampaikan cerita, sementara asisten menyiapkan busana, senjata, dan tokoh. Dalam satu pementasan bisa digunakan 20–25 wayang.

Musik pengiring dimainkan oleh tiga musisi dengan alat seperti toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), bien siauw* (suling), tong ko (gendang), hingga thua jwee (selompret).

Lakon dan Akulturasi
Beberapa lakon klasik yang sering dibawakan antara lain Cun Hun Cauw Kok, Hong Kian Cun Ciu, Poe Sie Giok, dan Sie Jin Kwie. Bila dipentaskan di luar kelenteng, cerita populer seperti Sun Go Kong, Sam Pek Eng Tay, atau Pendekar Gunung Liang Siang lebih sering dipilih.

Akulturasi dengan budaya Jawa tak terhindarkan. Menurut Hendra Kurniawan dalam Potehi in New Order’s Restraint (International Journal of Humanity Studies, 2017), penggunaan alat musik Jawa seperti bonang, saron, kendang, dan gong mulai masuk. Lagu-lagu Jawa pun kerap dijadikan selingan dengan irama Tiongkok.

Wayang potehi sempat populer pada 1950-an, namun mengalami masa suram sejak 1967 akibat larangan pemerintah terhadap budaya Tionghoa. Bahkan dalam *Buku Petunjuk Museum Wayang Jakarta* (1984), wayang potehi tidak disebutkan sebagai bagian dari budaya nasional.

Sejak era reformasi, kesenian ini kembali menggeliat. Kini wayang potehi dipentaskan di berbagai ruang, termasuk pusat perbelanjaan saat Imlek, dan diakui sebagai bagian dari warisan budaya nasional yang memperkaya khazanah Indonesia.(indonesiakaya.com/***)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Semburan Lumpur Pekat 20 Meter Disertai Bunyi Gemuruh di Oro-oro Kesongo Blora

7 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Senjata yang Ditemukan di Sekolah 995 Senapan Angin

7 Agustus 2026 - 20:23 WIB

Ulah Manusia Sebabkan 120 Hektare Hutan Bromo Hangus

7 Agustus 2026 - 20:03 WIB

Menelisik Akar Terorisme (46): Desalines Dirangsek Hingga Mati, Christhope Bunuh Diri

7 Agustus 2026 - 18:56 WIB

Pulbaket Tim Gabungan: Muncul AngkaTransaksi Rp248 Miliar KPRI Sejahtera Jombang

7 Agustus 2026 - 18:02 WIB

Konsumsi Makanan MBG, 103 Siswa di Rejotangan Tulungagung Keracunan

1 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Wamen Dahnil Ansar Prihatin Ada Ustad dan Pemuka Agama Masuk Kartel dan Mafia Haji

1 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Sopir dan 30 Penumpang Selamat Saat Kebakaran Bus Gunung Harta di Tol Nganjuk

1 Agustus 2026 - 15:38 WIB

Revolusi Jensen Huang 500 Kali Lebih Efisien: Komputasi SaaS Menjadi GaaS

1 Agustus 2026 - 14:08 WIB

Trending di Nasional