Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
SWARAJOMBANG.COM— Haiti membuka jalan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan lama. Namun, para tirani kejam yang menghayati epos kemenangannya atas orang-orang yang ditindasnya menghancurkan inisiatif bangsa itu.
Kaisar gadungan, Jacques Desalines hanya berkuasa selama dua tahun sebelum dirangsek hingga mati.
Penggantinya, Raja Henry Christophe yang kejam dipaksa bunuh diri setelah tiga belas tahun memerintah secara ngawur.
Keduanyanya bakal tetap menjadi contoh terburuk bagi banyak pimpinan pemerintahan paskakolonial.
Bangsa Portugis telah memulai perdagangan budak sebagai perang salib. Dan, Inggeris mengakhirinya sebagai perang salib lainnya guna menghapus dosa-dosa masa silam.
Setelah Parlemen London memaklumkan penjualan manusia sebagai tindakan illegal pada 1807, orang-orang asing tidak diizinkan untuk mencari uang dari apa yang terpaksa dibatalkan oleh masyarakat Liverpool.
Dalam enam puluh pertama abad kesembilan belas, Inggeris senantiasa mengirimkan satu atau dua skadron fregat ke pantai barat Afrika untuk menghancurkan perdagangan manusia.
Blokade tetap ini mendorong pemimpin lokal menghentikan perdagangan tawanan mereka sehingga menghancurkan para perantara Afrika Barat, kecuali yang bekerja dalam bidang minyak kurma di Nigeria.
Kehadiran Inggeris di Afrika Barat pun dikurangi hingga hanya tersisa tiga tempat pertahanan kecil tentara pejalan kaki yang tidak terawat yang kurang penting.
Benua itu pun lantas dihapuskan dari peta investasi. Hanya Afrika Selatan yang masih bermasalah, karena koloni-koloni bangsa kulit putihnya dan posisinya yang strategis dalam perjalanan menuju India. Bahkan di antara para reformator, berakhirnya perdagangan budak menyebabkan menghilangnya minat terhadap Afrika.
Gubernur Sierra Leone memperingatkan masalah ini pada awal 1807; “Penghapusan perdagangan budak tidak bertujuan menghapus nafsu-nafsu buas yang kini justru menemukan jalan keluarnya dalam arah tertentu. Jika perdagangan budak berhenti maka kemiskinan Afrika bakal muncul dari penyebab-penyebab lain. Namun tidak dapat diartikan bahwa Afrika menjadi kurang beruntung nasibnya. Kawasan itu bahkan mungkin tidak terlampau malang nasibnya namun menjadi buas dan tidak beradab.”
Yang berbeda adalah bahwa Sultan Turki karena meminta dukungan Inggeris dalam Perang Krimea melawan Rusia sepakat menghapuskan perdagangan budak di Kekaisaran Ottoman pada tahun 1855, bahkan sebelum praktek menyedihkan itu berakhir di Amerika Serikat.
Bangsa Arab yang memberontak di Propinsi Hijaz dekat Mekkah dan Medina menggunakan emansipasi ini sebagai alasan untuk melancarkan revolusi. Sheik lokal mengeluarkan fatwa. Larangan perdagangan budak dinilai bertentangan dengan hukum suci Islam.
Dengan demikian, Bangsa Turki dianggap bidaah. Jihad pun kini dapat diserukan melawan mereka dan mereka pun dapat dijadikan budak.
Para sultan Ottoman mengecualikan Arabia dari larangan perdagangan budak yang terus berlanjut dalam bentuk bawah tanah hingga masa kini meski revolusi berhasil ditaklukan.
Walau terlambat, upaya perbaikan masih diperjuangkan di Amerika Serikat, karena perdagangan ini dilakukan dalam suasana penuh ketakutan, yang nyaris semuanya berakhir pada abad sembilan belas.
Tidak seorang pun dapat disebutkan namanya. Sejarah memang memiliki kejahatannya sendiri. Dia pun tidak memaafkannya.
Sebagai metode perdagangan atau pemerintahan, teror negara hanya dibayar dengan kebencian yang luas terhadap masa lalu dan harapan terhadap penampilan yang lebih baik pada masa datang. (Bersambung)











