Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Nilai tukar rupiah kembali mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dua hari menjelang libur panjang Nyepi dan Lebaran.
Senin (16/3), kurs rupiah di pasar spot hari ini melemah ke Rp 16.997 per dolar AS. Rupiah spot melemah Rp 39 atau 0,23% dan mencapai level penutupan paling lemah sepanjang masa.
Rupiah sempat menembus level tertinggi Rp 17.019 per dolar AS pada 9 Maret lalu pukul 9.00 WIB. Saat itu, rupiah akhirnya ditutup di bawah level tersebut.
Kurs rupiah Jisdor hari ini melemah Rp 56 atau 0,33% menjadi Rp 16.990 per dolar AS. Ini adalah level rupiah Jisdor paling lemah.
Tak hanya rupiah, pasar saham dan obligasi juga tertekan di tengah kabar bahwa defisit anggaran akan melewati aturan 3% dari produk domestik bruto. Para menteri dalam kabinet Prabowo Subianto mengatakan bahwa defisit anggaran 3% sulit dipatuhi.
Rupiah tertekan dalam empat hari perdagangan berturut-turut. Sementara imbal hasil obligasi melonjak ke level tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Yield surat berharga negara tenor 10 tahun naik menjadi 6,89%.
Rupiah melemah bersama sebagian kecil mata uang Asia. Baht Thailand memimpin pelemahan sebesar 0,65%.
Peso Filipina melemah 0,25%. Dolar Taiwan melemah 0,07%. Dolar Hong Kong melemah 0,03%.
Sedangkan yen Jepang menguat 0,24%. Ringgit Malaysia menguat 0,21%. Dolar Singapura menguat 0,14%.
Won korea menguat 0,07%. Yuan China menguat 0,05%. Rupee India menguat 0,04%.
Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia melemah 0,08% menjadi 100,28. Indeks dolar telah berada di atas level 100 dalam dua hari perdagangan terakhir.
Indikator volatilitas pasar mata uang telah melonjak ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Perang Iran meningkatkan ketidakpastian investor. Deutsche Bank FX volatility indicator melonjak berada di level tinggi sejak akhir Januari, tetapi makin tinggi lagi setelah memasuki Maret.
Moh Siong Sim, ahli strategi valuta asing di OCBC Bank Singapura mengatakan bahwa jika harga energi tetap tinggi, kerusakan pertumbuhan di Eropa dan Asia dapat memicu pergolakan mata uang yang lebih intensif.
Tak cuma mata uang, volatilitas obligasi pemerintah AS yang diukur oleh ICE BofA juga melonjak ke level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir pekan lalu. Sementara volatilitas saham VIX naik ke level tertinggi sejak April.***











