Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

RI Jadi Negara No. 2 di Dunia Penipuan Daring, Mr Bert: Data Pribadi Menteri Meutya Hafid Dijual Rp2.000 di Telegram

badge-check


					Influencer digital Indonesia dengan akun Mr Bert untuk kesekian kali ungkap betapa lemah proteksi negara terhadap data privadi rakyat Indonesia, sehingga RI menjadi negara nomor 2 dibdunia dalam perkara penipuan daring. Foto: instagram@realmrbert Perbesar

Influencer digital Indonesia dengan akun Mr Bert untuk kesekian kali ungkap betapa lemah proteksi negara terhadap data privadi rakyat Indonesia, sehingga RI menjadi negara nomor 2 dibdunia dalam perkara penipuan daring. Foto: instagram@realmrbert

Penulis: Yusran Hakim  |  Editor: Priyo Suwarno

 JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM— Sebuah video berdurasi panjang yang menyebar luas di media sosial menjadi perbincangan hangat, Jumat, 2 Oktober 2026.

Pengunggah yang dikenal sebagai Mr. Bert menyampaikan pesan terbuka kepada Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, dengan nada hormat namun tegas.

Ia menampilkan bukti diduga kebocoran data pribadi menteri — termasuk data keluarga, kata sandi, hingga rincian yang seharusnya rahasia — dan menegaskan bahwa data tersebut dapat dibeli dengan harga hanya Rp2.000.

Berikut adalah kutipan utuh pesannya:

“Benarkah, Ibu? Ini adalah data keluargamu, data anakmu, data suamimu — yang saya tutupi untuk menjaga privasi Ibu. Ini adalah kata sandi Ibu yang jelas semuanya bisa dibaca. Kata sandi seorang Menteri Komdigi.

Ibu yang saya hormati, saya kasih tahu: ini bukan untuk mempermalukan Ibu atau melakukan doxing. Saya tutupi semua bagian yang sangat sensitif. Tapi tujuan saya supaya Ibu sadar: seorang Menteri yang harus menangani kebocoran data, dan di bawah Ibu ada ribuan orang hebat di bidang teknologi informasi — supaya Ibu sadar, kalau ada orang yang melapor bahwa kebocoran data di Indonesia itu baik-baik saja, itu tidak benar.

Kebocoran data kita terjadi secara masif, luar biasa, hampir tidak terkontrol di mana-mana. Negara kita sudah menjadi negara penipu nomor 2 di dunia. Bagaimana jikalau seorang Menteri yang nomor satu yang harusnya peduli dengan kebocoran data, datanya sendiri bocor separah ini? Bagaimana kami — orang-orang kecil di bawah ini?

Tahukah Ibu, kami ini jadi target penipuan tanpa henti dari segala arah? Kami tidak berani lagi mengangkat telepon. Dari sepuluh panggilan yang masuk, begitu banyak yang adalah penipu yang sudah tahu data pribadi kami.

Ketika Ibu dipilih, saya merasa ada harapan baru. Saya berharap kebocoran data bisa berhenti. Saya berkali-kali datang ke Komdigi, saya sampaikan ada lubang keamanan. Bukan soal data siapa yang bocor — itu bukan cari sensasi — supaya ada yang sadar dan melakukan perbaikan. Tapi tidak ada yang dilakukan secara signifikan.

Data Ibu, Menteri Komdigi, bisa dibeli cuma Rp2.000. Saya tidak perlu meretas, cukup beli di Telegram. Setiap minggu ada data baru yang bocor. Profesi yang paling menguntungkan sekarang jadi penipu. Uang rakyat hilang dan susah kembali.

Bagaimana membangun negeri kalau mengangkat telepon saja tidak berani? Bagaimana berbisnis kalau semua dianggap penipu?

Saya tidak minta posisi. Saya minta tindakan. Cari mereka yang peduli, bekerjalah dengan mereka. Lakukan sesuatu, Ibu punya kekuasaan itu. Jangan hapus video ini — ini bukti kepedulian saya untuk Indonesia. Kalau Ibu baru tahu sekarang, lakukan perbaikan. Saya Mr. Bert, salam hormat.”

Fakta Muncul

  • Harga data: Rp2.000 untuk data pribadi seorang Menteri
    ​
  • Sumber pembelian: dapat diperoleh melalui saluran-saluran di aplikasi Telegram
    ​
  • Kasus sebelumnya: Data pelamar kerja di lingkungan Kementerian Komdigi sendiri bocor pada Mei 2026; bot penjual data League Ocean dan Likosin dibongkar Polda Jawa Barat September lalu
    ​
  • Peringkat: Indonesia disebut sebagai negara dengan aktivitas penipuan daring tertinggi kedua di dunia
    ​
  • Dampak: Masyarakat kehilangan kepercayaan, takut mengangkat telepon, kerugian keuangan merata di seluruh lapisan.

Belum ada pernyataan resmi dari Menkomdigi Meutya Hafid maupun Kementerian Komdigi menanggapi pesan terbuka ini.

Publik menantikan: apakah akan ada penyelidikan, penindakan terhadap penjual data, dan perbaikan sistem yang sungguh-sungguh.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Blokade Jl. Jagir Wonokromo Bubar, Pertamina dan GSJT Bertemu BPH Migas 5 Oktober 2026

2 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Gus Ipul Layangkan Somasi ke Gus Lilur, Isinya Minta Dibuktikan Tuduhan Aliran Rp480 M ke Muktamar NU

2 Oktober 2026 - 09:17 WIB

Jadi Tumbal Lapas Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mengundurkan Diri

1 Oktober 2026 - 21:24 WIB

Mulai 1 Oktober Sampai Akhir November 2026, Pemprov Jatim Pemutihan Pajak

1 Oktober 2026 - 21:05 WIB

Kampanye Pariwisata Thaliland Sukses Besar Berkat Lisa BlackPink

1 Oktober 2026 - 18:58 WIB

Komjen Suyudi Sampaikan Visi Misi 9 Fokus Perubahan Polri Bersama Rakyat

1 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Mengenang Pahlawan Nasional Termuda di Indonesia: Ade Irma Suryani Catatan 1-6 Oktober 1965

1 Oktober 2026 - 15:13 WIB

Menelisik Akar Terorisme (63): Konspirasi adalah Ibu Jari Penghubung

1 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Setelah Perabotan, Kini Dirjenpas Hancurkan Bangunan Klaster Mewah di LP Cibinong

1 Oktober 2026 - 13:21 WIB

Trending di Nasional