Penulis: Tanasyafria Libas Tirani | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM – Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan komitmennya mendukung inovasi bahan bakar ramah lingkungan yang dikembangkan anak bangsa, sekaligus menekankan pentingnya proses uji kelayakan yang ketat sebelum produk BBM baru beredar di pasaran.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menyampaikan apresiasi tinggi atas lahirnya produk BBM bernama Bobibos, hasil inovasi riset panjang M. Ikhlas Thamrin dan timnya yang merupakan karya anak negeri.
Namun, ia menegaskan bahwa keselamatan dan kualitas bahan bakar tetap menjadi prioritas utama yang dijaga melalui serangkaian pengujian yang bisa memakan waktu hingga delapan bulan.
“Proses evaluasi untuk memastikan BBM layak digunakan membutuhkan waktu dan tahapan panjang, bisa mencapai delapan bulan,” ujarnya dalam konferensi di kantor Kementerian ESDM, Jumat, 7 November 2025.
Pernyataan ini dikeluarkan sebagai bentuk tanggapan resmi atas ramainya perhatian terhadap produk Bobibos di media sosial.
Inovasi Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, didukung penuh sebagai langkah maju menuju kemandirian energi nasional dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar impor.
Produk yang diproduksi dari tanaman lokal yang tumbuh subur di berbagai wilayah Indonesia itu memiliki varian bensin dan solar dengan RON hingga 98, sesuai dengan standar sertifikasi resmi.
Peluncuran resmi pada 2 November 2025 di Bumi Sultan Jonggol, Kabupaten Bogor, mendapat sambutan positif dari tokoh nasional seperti Anggota DPR RI Mulyadi, yang menegaskan bahwa Bobibos bukan hanya teknologi, tapi juga gerakan rakyat menuju energi yang lebih bersih dan terjangkau.
Kementerian ESDM akan terus memfasilitasi inovasi teknologi dalam energi, dengan menjaga prosedur evaluasi agar masyarakat dapat menggunakan bahan bakar yang aman dan berkualitas, sekaligus mempromosikan produk lokal yang mendukung kemandirian dan ketahanan nasional.**











