Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
SWARAJOMBANG.COM, JAKARTA-Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) fase pertama rute Stasiun Surabaya Gubeng-Stasiun Sidoarjo rampung pada 2029.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan proyek kereta rel listrik (KRL) Surabaya Raya fase 1A sepanjang 37 kilometer tersebut mulai dikerjakan oleh para pemangku kepentingan dan diharapkan selesai dalam kurun waktu 4 tahun ke depan.
Saat ini, pengerjaan masuk dalam tahap penyusunan detail engineering design (DED) oleh firma konsultan teknik sipil asal Jepang, Chodai Co., Ltd., sejak awal tahun ini. Proyek strategis ini dibiayai oleh Bank Pembangunan Jerman atau Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) Development Bank dengan nilai kontrak €230 juta atau sekitar Rp4,7 triliun (kurs Rp20.712 per euro).
Dudy mengungkapkan, perkembangan terbaru proyek ini didapatkan dari laporan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak berdasarkan hasil high level meeting di Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan, Surabaya, belum lama ini.
“Kita sudah mulai tahapannya. Mulai Januari tadi Pak Wagub [Emil Dardak] juga sudah menyampaikan update high level meeting perkembangan kereta Surabaya–Sidoarjo [SRRL fase 1A]. Kita sudah mulai dengan pembuatan DED. Itu menandakan proyek ini sudah berjalan,” ujar Dudy di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (15/7/2026).
Dudy berharap penyusunan DED selesai tepat waktu agar proses tender konstruksi dapat segera dilaksanakan sesuai tahapan. Adapun, cakupan DED tersebut meliputi perencanaan infrastruktur, rencana pengembangan jalur, peningkatan keselamatan pada perlintasan sebidang, hingga rekomendasi teknis pembangunan.
“Harapannya pada 2029 proyek ini bisa selesai dan bisa dimanfaatkan khususnya oleh masyarakat Surabaya dan sekitarnya,” imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan pengerjaan DED telah berlangsung sejak Februari 2026 dan ditargetkan rampung pada awal tahun depan.
“Ditargetkan bahwa memang pada awal 2027 kita bisa punya desain yang siap untuk dijadikan acuan bagi kontraktor yang akan mengerjakan ini,” ujar Emil di Surabaya, Kamis (10/7/2026).
Emil menjelaskan pada tahap pertama atau 1A, proyek SRRL akan mencakup jalur Stasiun Surabaya Gubeng-Sidoarjo dengan panjang rute mencapai 37 kilometer.
Menurut dia, proyek SRRL sangat mendesak karena infrastruktur rel yang terbangun di kawasan Surabaya-Sidoarjo saat ini masih didominasi jalur tunggal (single track). Hal tersebut, lanjut Emil, yang ditengarai menghambat integrasi layanan transportasi publik di wilayah Surabaya Raya.
Emil berharap realisasi pembangunan jalur ganda sistem komuter di wilayah aglomerasi Jatim dapat mengadopsi KRL Jabodetabek yang telah berjalan optimal.
“Layanan komuternya belum optimal, jika nanti jalur ganda layanannya dapat seperti konsep di Jabodetabek,” ucap Emil.
Tak hanya jalur ganda, Emil juga menekankan pentingnya pengembangan Depo Sidotopo. Keberadaan fasilitas tersebut dinilainya sentral agar sistem jalur komuter dapat terintegrasi dalam jangka panjang.
Dari sisi pembiayaan, proyek SRRL tahap 1A akan ditopang oleh Bank Pembangunan Jerman atau Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) Development Bank, dengan nilai kontrak mencapai sebesar €230 juta atau sekitar Rp4,7 triliun (kurs Rp20.712 per euro).
Emil memaparkan kalkulasi proyek menggunakan acuan mata uang euro lantaran setiap komponen pembangunan rel ganda hingga elektrifikasi rel berasal dari luar negeri melalui pembiayaan Jerman.
“Karena anggarannya menggunakan mata uang euro, insyaallah pengadaan komponen yang didatangkan dari luar negeri tidak akan terkendala fluktuasi kurs. Risiko kekurangan dana seluruhnya dapat termitigasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan mengungkapkan dalam proses DED, pemangku kepentingan terkait saat ini tengah menghitung proyeksi permintaan penumpang hingga rancangan bangunan dari masing-masing stasiun yang akan dilewati.
Denny mengatakan, seluruh pihak sepakat bahwa pelaksanaan proyek secara menyeluruh harus sesuai linimasa yang ditetapkan, termasuk DED yang saat ini sedang berjalan.
“Seluruhnya harus sesuai sampai tahapan konstruksi bahkan saat implementasi proyek,” jelasnya.
Ia menambahkan sejumlah isu strategis mengenai pengerjaan SRRL juga secara beriringan dibahas, mulai dari pengadaan lahan hingga persoalan teknis pengadaan saran.
“Hasil DED ini akan sangat dibutuhkan oleh teman-teman operator untuk pengadaan sarana, apakah nantinya sarananya dari Jerman, atau Jepang, atau Korea, ini juga menjadi isu terkait jumlah sarananya,” kata Denny.
Lebih lanjut, ia memastikan evaluasi secara berkala juga akan dilakukan berdasarkan hasil monitoring di lapangan agar pengerjaan SRRL dapat berjalan selaras dengan peta jalan yang disepakati.
“Nantinya setiap 3 bulan akan ada evaluasi. Manakala nantinya ditemukan kendala, akan dapat diidentifikasi dan tindaklanjutnya seperti apa,” ujarnya.***











