Menu ✖

Mode Gelap

Ekonomi

Poktan dan PPL Mernung Kidul Jombang Perang Lawan Pernyakit Kresek untuk Atasi Gagal Panen

badge-check


					Inilah contoh sawah terkena infeksi bakteri Xanthomanas Oryzae (Penyakit kresek), menyebabkan tanaman padi kering hingga gagal panen. Foto: istimewa Perbesar

Inilah contoh sawah terkena infeksi bakteri Xanthomanas Oryzae (Penyakit kresek), menyebabkan tanaman padi kering hingga gagal panen. Foto: istimewa

JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM- Setelah Mojowarno, Senin 7 Juli 2025 di , dilakukan Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (Gerdal OPT) Xanthomanas Oryzae (Penyakit kresek), di Poktan Mernung Kidul, desa Sumbernongko kecamatan Ngusikan, Jombang.

Gerakan ini dilakukan sebagai upaya untuk mengantisipasi serangan penyakit kresek pada tanaman padi agar tidak meluas. Penyakit kresek di Poktan ini mulai terdekteksi pada kisaran umur tanaman 35-40 hst (setelah hari tanam).

Risiko penyakit kresek akibat bakteri Xanthomonas oryzae terhadap tanaman padi sangat signifikan dan dapat menyebabkan kerugian besar pada hasil panen. Berikut rincian risiko dan dampaknya:

  • Penurunan hasil panen: Serangan penyakit kresek dapat menurunkan hasil panen hingga 21-29% pada musim hujan dan 18-28% pada musim kemarau. Dalam kasus serangan berat, kerugian bisa mencapai 50-70%, bahkan menyebabkan gagal panen (puso).
  • Kerusakan tanaman pada semua fase pertumbuhan: Bakteri ini dapat menginfeksi tanaman padi sejak fase persemaian hingga menjelang panen, menyerang daun melalui luka atau stomata, merusak klorofil, dan menghambat fotosintesis. Jika serangan terjadi pada fase awal pertumbuhan, tanaman bisa layu dan mati (gejala kresek). Jika terjadi saat berbunga, pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menghasilkan bulir padi yang tidak terisi penuh atau hampa.
  • Gejala fisik: Awalnya muncul bercak abu-abu kekuningan di tepi daun yang meluas menjadi hawar memanjang, daun mengering sementara tulang daun tetap segar. Daun yang terinfeksi bisa berubah warna menjadi putih keabu-abuan dan kering.
  • Faktor lingkungan dan budidaya yang memperparah serangan: Kelembaban tinggi, suhu hangat (25-30°C), penggunaan pupuk nitrogen berlebihan tanpa diimbangi pupuk kalium, serta sistem irigasi yang tidak terkontrol meningkatkan kerentanan tanaman terhadap infeksi bakteri ini.
  • Sumber penyebaran: Bakteri dapat bertahan dan menyebar melalui bekas jerami, benih padi yang terinfeksi, gulma, air, angin, dan alat pertanian yang terkontaminasi, sehingga memudahkan penularan penyakit ke areal budidaya lain.
  • Dampak ekonomi: Selain kerugian hasil panen yang besar, biaya pengendalian penyakit ini juga tinggi karena memerlukan penggunaan bakterisida dan praktik budidaya intensif. Jika tidak dikendalikan, penyakit ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani padi.

Penyakit kresek  merupakan ancaman serius bagi produksi padi, menurunkan hasil panen secara drastis dan memerlukan deteksi serta pengendalian dini untuk mencegah penyebaran dan kerugian lebih lanjut.

PPL, Poktan dan POPT

Pengamatan berkala yang dilakukan oleh petani di lapangan sangat penting untuk dilakukan. Dari pengamatan yang dilakukan ditemukan ada gejala serangan penyakit kresek ini. Langkah selanjutnya Ketua Poktan segera melakukan pelaporan kepada PPL WiBi.

Laporan segera PPL berkoordinasi dengan POPT Kecamatan Ngusikan, Arina Miftahu Rahmah. Bersama-sama petani, PPL dan POPT melakukan pengamatan lanjutan tanaman di lapangan. Dari hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa ditemukan gejala serangan penyakit kresek.

“Penyebaran penyakit kresek harus segera diantisipasi dengan dilakukan Gerdal bersama-sama seluruh anggota Poktan. Kami akan segera melaporkan dan berkoordinasi kepada bidang terkait untuk pengajuan bahan pengendalian untuk diberikan kepada petani agar bisa melakukan Gerdal secepat mungkin,” kata dia.

“Penyakit kresek ini disebabkan oleh bakteri yang penyebaran atau penularannya sangat cepat. Sehingga harus segera diambil langkah antisipasi yang tepat dengan bahan pengendali yang tepat,” jelas Arina selaku POPT.

Kegiatan Gerdal dihadiri oleh POPT, PPL, Kepala Dusun dan Ketua Poktan beserta anggota. Petani cukup antusias dengan adanya kegiatan Gerdal ini.

Petani datang dengan membawa perlengkapan yang dibutuhkan diantaranya tangki semprot, sendok takar, sabit dan timba. Untuk bahan pengendali disediakan dari Dinas Pertanian Kabupaten Jombang berupa bakterisida berbahahan aktif tembaga oksida.

“Gerdal ini dilaksanakan bertujuan untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit kresek. Pengendalian tidak hanya dilakukan 1 kali saja, tapi perlu ada tindakan lanjutan. Bapak-bapak disini harus rajin melakukan pengamatan, agar bisa mengetahui bagaimana kondisi tanaman padinya. Jadi nanti bisa tahu jika masih diperlukan pengendalian lagi atau tidak”, jelas Suliyani selaku PPL WiBi.

POPT dan PPL selanjutnya dilakukan pembagian bahan pengendali yang dibantu oleh Kepala Dusun dan Ketua Poktan. Selanjutnya petani yang sudah mendapatkan bahan pengendali segera melakukan penyemprotan di lahan masing-masing. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

ESDM Tegaskan Harga Tetap, Isu Pertalite Naik Hoaks

25 September 2026 - 21:41 WIB

Komdigi Bantah Surat Pemadaman Internet Nasional 3 Hari

25 September 2026 - 21:23 WIB

451.000 Nyawa di Dunia Terancam Melayang Akibat Gelombang Panas Super El Niño

25 September 2026 - 21:06 WIB

O Smach RS Misterius untuk Ambil Organ Migran secara Paksa, Ada Ruang Mirip Markas Polri

25 September 2026 - 19:40 WIB

Komisi C DPRD Jombang Soroti Proyek Revitalisasi 120 PAUD- SMP Anggaran Rp77,5 Miliar

25 September 2026 - 12:32 WIB

Menelisik Akar Terorisme (61): Nechayev Sang Teroris Muda Kharismatik

25 September 2026 - 11:58 WIB

KPK Geledah Tiga Lokasi Sekalihus, Terkait Kasus OTT Lampri di ATR/BTN Bogor

25 September 2026 - 11:35 WIB

Yetty Krystianti Kakantah ATR/ BTN Mojokerto Menghilang sejak Kantornya Digeledah KPK

25 September 2026 - 00:09 WIB

Oknum Diknas Bangkalan Dilaporkan Palak 10% dari Rp38 Juta Anggaran Revitalisasi 180 SD/SMP

24 September 2026 - 21:15 WIB

Trending di Nasional