Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
SYDNEY, SWARAJOMBANG.COM – Ahmed Al Ahmed, warga Muslim Australia berusia 43 tahun dan pemilik toko buah di Sutherland, Sydney, menjadi pahlawan nasional setelah merebut senjata api dari salah satu pelaku penembakan massal di Pantai Bondi pada 14 Desember 2025.
Insiden ini terjadi saat perayaan Hanukkah yang dihadiri sekitar 1.000 orang, menewaskan 10 orang dan melukai 15 lainnya, termasuk Ahmed yang tertembak lima kali di bahu kiri, lengan, dan dada.
Perayaan Hanukkah di Pantai Bondi Junction berlangsung meriah pukul 19.00 waktu setempat ketika Sajid Akram (55 tahun) dan putranya Naveed Akram (24 tahun) tiba dengan dua senjata berburu berizin—rifle kaliber .308 dan shotgun—yang mereka simpan di properti sewaan di pinggiran Sydney.
Keduanya membuka tembakan secara bersamaan sekitar pukul 19.45, menargetkan kerumunan yang sedang menyalakan lilin Hanukkah.
Sajid menewaskan enam orang di area utama panggung, sementara Naveed bergerak ke arah kerumunan sambil berteriak slogan terkait ISIS, menewaskan empat korban lagi sebelum dihentikan.
Video viral dari saksi mata yang diunggah di platform X (sebelumnya Twitter) menunjukkan Ahmed, tanpa senjata atau pelatihan khusus, menyergap Naveed dari belakang.
Dengan tangan kosong, ia merebut rifle pelaku dan melemparkannya ke pasir, menghentikan serangan lebih lanjut.
Aksi ini berlangsung kurang dari 30 detik, tepat sebelum polisi tiba dan menembak mati kedua pelaku pukul 19.52. Ahmed langsung ambruk karena lima luka tembak: tiga di bahu kiri (risiko amputasi), satu di lengan kanan, dan satu di dada ringan.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut Ahmed sebagai “pahlawan sejati yang menyelamatkan puluhan nyawa” saat mengunjungi St George Hospital, Kogarah, pada 15 Desember 2025.
Premier New South Wales Chris Minns menambahkan pujian serupa, menyatakan, “Tindakannya mencegah korban jiwa mencapai 50 orang.” Albanese mengumumkan bantuan medis penuh dan medali keberanian nasional untuk Ahmed.
Miliarder AS Bill Ackman memulai penggalangan dana di GoFundMe pada 15 Desember, terkumpul US$250.000 (sekitar Rp 3,9 miliar atau 300.000 AUD per 19 Desember 2025), termasuk donasi pribadinya US$75.000 (Rp 1,17 miliar).
Ackman menulis di X: “Ahmed adalah contoh keberanian universal, bukan soal agama.” Klaim “ganjara Rp 4,18 miliar dari masyarakat Australia” belum terverifikasi dan tampaknya berasal dari rumor media sosial; total donasi resmi masih di bawah angka tersebut.
Kondisi Terkini
Ahmed, imigran dari Lebanon yang menjadi warga Australia sejak 2005, adalah ayah dua anak (usia 12 dan 15 tahun) dan menjalankan Sutherland Fruit Market selama 15 tahun. Orang tuanya, yang tinggal di Sydney selatan, mengatakan putranya bertindak atas “naluri melindungi orang lain,” tanpa pengalaman militer atau kepolisian.
Kerabatnya, Mustafa Al Ahmed, melaporkan kondisi stabil pasca-operasi 4 jam pada 15 Desember untuk membersihkan peluru dan mencegah infeksi. Dokter menyebut pemulihan memakan waktu 6-12 bulan, dengan risiko kehilangan fungsi lengan kiri permanen.
Polisi federal Australia (AFP) mengonfirmasi kedua pelaku terkait ISIS melalui pesan terenkripsi di ponsel mereka, ditemukan di properti sewaan. Investigasi berlanjut untuk jejak radikalisasi online. Insiden ini memicu debat nasional soal izin senjata berburu, meski pelaku memenuhi regulasi NSW. **











