Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Sejarah Terorisme (3): Teror Perang Suci dan Teks Kitab Suci

badge-check

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi. S. Purwanto

SWARAJOMBANG.COM– Ada tiga agama diperhitungkan bakal terus berkembang dari Timur Tengah yaitu, Judaisme, Kekristenan serta Islam. Dari ketiga-tiganya, hanya agama Yahudi yang membangun Israel dari pembunuhan massal.

Musa bahkan mengatakan Tuhan memerintahkan pemusnahan dan penaklukan penduduk asli Kanaan dalam sebuah perang suci. Kitab Bilangan mengungkapkannya seperti berikut;

Ketika Tuhan Allahmu hendak mengantarkanmu memasuki tanah yang hendak kaumiliki, dan telah menundukkan banyak negeri ke hadapanmu, kaum Hetit, Girgashit, Amorit, Kanaan dan Perizzit serta Hevit serta Yebusit, tujuh negeri yang jauh lebih kuat dan berkuasa daripadamu.

Dan ketika Tuhan Allahmu akan membebaskan mereka di hadapanmu, maka engkau hendaklah membunuh dan menghancurkan mereka hingga tuntas, tidak akan mengadakan perjanjian dengan mereka atau memperlihatkan belas kasihan kepada mereka.

Karena engkau adalah bangsa yang suci bagi Tuhan Allahmu: Allah Tuhanmu telah memilihmu menjadi banga khusus bagi Dirinya sendiri, di atas semua bangsa yang berada di muka bumi ini.

Yoshua benar-benar mempraktekkan kebijakan pembasmian etnis seperti yang dapat dibaca dalam kisah alkitabiah tentang kekuasaannya.

Yaitu, ketika dia membunuh penduduk Ai, pria dan wanita sekaligus hingga 12.000 orang serta membakar kota mereka. ‘Karena Yoshua tidak boleh menarik kembali tangannya, ketika melemparkan lembing hingga benar-benar menghancurkan semua penduduk Ai…Dan Yoshua membumihanguskan kawasan Ai serta menimbunnnya selama-lamanya bahkan menjadikannya tanah tandus hingga kini.’

Ia membunuh raja satu demi satu serta suku demi suku, khususnya di Hebron. ‘Dan mereka membawanya, memukulnya dengan punggung pedang. Kemudian raja, semua kota-kota dan semua jiwa yang ada di dalamnya,; tidak dibiarkannya tersisa.’

Ketika bangsa Israel berkembang menjadi jauh lebih manusiawi, agama Yahudi selalu menghayati semangat militan ini seiring dengan tindakan Raja Daud memerangi warganegara Yesubit dari Yerusalemnya yang baru.

Meskipun demikian, pembalasan dendam terjadi atas bangsa Yahudi akibat pemusnahan awal musuh mereka oleh Raja Tiglath-Pilezer III dari Assyria bersama pasukannya.

Sepuluh suku di utara Yudea ditaklukkan, diperbudak serta lenyap tak berbekas, tidak pernah terlihat lagi kecuali dalam khayalan-khayalan yang kemudian muncul di kalangan bangsa Israel berdarah Inggris serta para pengkotbah fundamentalis Amerika.

Bencana kedua melanda Yudea adalah penjarahan atas Bait Allah yang dibangun oleh Salomon serta pengusiran dua suku Israel yang tersisa dari negaranya ke Babilon pada 589 sebelum masehi menjelang kehancuran Yerusalem. Bagaimanapun, mereka dibiarkan hidup di ghetto-gheto pertama serta menjalankan agama mereka.

Lalu, Medes dan bangsa Persia menaklukan bangsa kafir kemudian Cyrus mengijinkan bangsa Yahudi kembali ke tanah mereka membangun kembali Bait Allah.

Pembangunan mereka lakukan dengan pedang di satu tangan serta skop di tangan lain. Tindakan ini menginspirasi para anggota Freemanson untuk datang ke negeri itu.

Berbeda dari iman Yahudi yang agresif, paradoks Kekristenan adalah bahwa Yesus menderita akibat teror negara. Dia disalibkan sebagai kurban dan perantara antara dunia yang kejam dengan surga yang penuh belas kasih.

Demikian pula, paradoks Islam adalah bahwa Nabi Muhammad adalah seorang jenderal, yang menduduki Mekah yang kafir pada masa-masa kritis, ketika kota itu munggkin saja jatuh ke tangan pasukan Abesinia yang Kristen dan beralih kepada iman yang lain.

Kekristenan dimulai sebagai korban budaya, mengalami penderitaan biadab. Juga diorganisasikan sebagai masyarakat rahasia dengan sistem sel, yang kemudian menjadi kapel-kapel

Ia pun memiliki kata-kata rahasia seperti tanda ikan, arti Ichtheos dalam huruf Yunani namun sebaliknya diterjemahkan sebagai akronim untuk ‘Yesus Kristus, Putera Allah, Penyelamat.’

Pemerintahan Romawi menganggap misioner Kristen sebagai bidaah penentang agama Kaisar yang mulia di antara para dewa lainnya.

Penyebaran kultus itu di antara para budak mendorong munculnya pemberontakan seperti pemberontakan Spartakus yang juga disalibkan bersama para pengikutnya.

Meskipun demikian, kaum Kristen subversif nampaknya didorong oleh suatu kompleks atau semangat untuk mati syahid. Bahkan jika berhadapan dengan siksaan atau serangan binatang buas dalam Circus Maximus, orang Kristen melihat kurban diri mereka sebagai pengampunan penuh yang dilalui dengan siksaan mengerikan dalam perjalanan menuju surga.

Penderitaan mereka dengan demikian merupakan kemenangan mereka. Mereka merupakan para serdadu Kristus, yang tewas begitu mengerikan dalam perang suci melawan para musuh Allah.

Seperti Yudaisme dan Islam, problem terbesar agama apapun adalah ketika ia beralih dari kemiskinan menuju kekuasaan. Ketika kaum beriman diyakinkan bahwa mereka kini berkuasa lewat para pemimpinnya, balas dendam mengerikan dilancarkan terhadap semua yang tidak menyetujui mereka.

Walau Romawi lama jatuh ke dalam tangan bangsa tidak beradab, Roma Kedua dari Byzantium bangkit. Kerajaan Byzantium, kemudian diberi nama Konstantinopel sesuai nama Kaisar Kristen pertama, Konstantinus.

Penerus para rasul pemberontak menjadi uskup dan santo dari kekuasaan baru, yang menjembatani Eropa dan Asia.

Kebiadaban mereka yang paling mengerikan dilancarkan pada orang-orang yang membicarakan persoalan-persoalan remeh seputar hakikat communio (persaudaraan) atau Trinitas. Perbedaan-perbedaan doktrinal menjadi pembunuhan masal yang nyata.

Ketika sebuah kelompok revolusioner mengambil alih kekuasaan negara, maka ia membunuh kelompok-kelompok pemberontak lainnya untuk mengamankan buah revolusi perdana.

Selama penyebaran Kekristenan perdana, ada banyak sekali penafsiran atas apa yang dimaksudkan oleh Taurat dan Injil.

Banyak teks Gnostik ini disingkirkan dari Injil yang ada sekarang. Salah satu dari teks ini “Surat-surat kepada kaum Rheginos’ dimulai dengan mengatakan bahwa ada beberapa orang yang ingin banyak belajar, namun mereka dirasuki oleh pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.

Mereka tidak bertahan pada Sabda atau Logos Kebenaran. Mereka mengupayakan solusi mereka sendiri, yang hanya dapat dicapai melalui Yesus Kristus, yang menolak kematian, yang menjadi hukum umat manusia. ‘Semua yang hidup akan mati.

Bagaimana mereka hidup dalam ilusi? Orang kaya menjadi miskin dan para raja digulingkan; semuanya harus berubah. Kosmos adalah ilusi.’

Semuanya merupakan proses, suatu transformasi benda menjadi yang baru, yang mampu menciptakan surga dari suatu masyarakat yang rusak.

Para pengarang teks-teks Gnostik lebih memilih wawasan berpikir ketimbang berbagai kotbah para uskup Kristen perdana untuk menginterpretasi Injil-injil serta untuk memahami revelasi.

Mereka pun ditentang pada akhir abad kedua oleh St Ireneus, Uskup Lyon berkenaan dengan masalah ini, karena ‘menemukan sesuatu yang baru setiap hari.’

Sasaran utamanya adalah Yustinus Martir, yang menjadi penganut Stoa dan Plato sebelum menjadi filsuf Kristen.
Yustinus menyanjung-nyanjung ajaran bidaah

Simon Magus, sang tukang sihir dan musuh Santo Paulus, sementara Kristus diperlakukannya sebagai Logos atau Sabda, yang memediasi dunia yang penuh dosa dengan cahaya surgawi.

Inspirasi ini disebut Logos, yang kini berarti visi pribadi, suatu persepsi yang bersifat langsung dan individual atas kebenaran.

Penampakan pertama Yesus kepada Maria Magdalena di taman setelah PenyalibanNya diterjemahkan dalam Injil apokrifalnya bukan sebagai peristiwa nyata atau bahkan penerangan spiritual.

Dia melihatNya dalam pikirannya sendiri. Penglihatan itu dia kisahkan kepada para murid Yesus. Mereka kini mampu melihat melihat Kristus yang dibangkitkan seperti dia, sehingga semua orang beriman dapat melihatNya.

Tentu saja, pendekatan langsung terhadap revelasi Kristen menimbukan keraguan bagi semua otoritas agama. Mengapa mendengarkan uskup jika suara batin dapat memberitahu anda, apa yang Kristus ingin anda lakukan?

Dalam Injil St. Markus, dikatakan bahwa Yesus memberikan kepada para muridnya rahasia kerajaan Allah, ketika Dia berbicara kepada sebagian besar dunia melalui perumpamaan.

Ketika St. Petrus dan Paulus mengaku meneruskan rahasia ini kepada gereja-gereja yang dibangun kemudian di Roma dan Byzantium, Injil Gnostik ini mengklaim bahwa Yesus yang hidup dapat saja memperlihatkan misteri-misteriNya yang tersembunyi kepada wanita yang bukan muridNya, kepada Maria Magdalena, yang merepresentasikan prinsip generasi wanita kuno serta kepada Sofia, dewi Kebijaksanaan.

Dia juga dapat memperlihatkan diriNya sendiri kepada orang yang pantas melihat dan mendengarkan pesan-pesan ilahi. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Deteksi Dini Kanker Kini Lebih Mudah Lewat Sampel Darah

29 April 2026 - 20:01 WIB

Tiga Perjalanan KA Surabaya-Jakarta Dibatalkan KAI Daop 8 Surabaya

29 April 2026 - 19:39 WIB

Sebagian Sudah Memasuki Kemrau, Cuaca RI Panas Mendidih Selama April

29 April 2026 - 19:25 WIB

Bangun Flyover di 1.800 Titik Perlintasan KA, Prabowo: Rp 4 Triliun Bantuan dari Presiden Ya!

29 April 2026 - 15:43 WIB

Ketika Rumah Aman Berubah Jadi Menyeramkan, Mengapa Kasus Little Aresha Terjadi Begitu Lama?

29 April 2026 - 11:33 WIB

Pro-Kontra 302 Kades Dapat Fasilitas Motor Baru, Pemkab Jombang Cairkan Anggaran Rp 12 Miliar

29 April 2026 - 09:13 WIB

KA Dhoho Hantam Truk Pasir Mogok di Rel Sananwetan Blitar, Sopir dan Kernet Loncat

29 April 2026 - 01:49 WIB

Kriminologi 500 Tahun Jakarta (Seri-10): Prostitusi Batavia Kota yang Membeli Tubuh

28 April 2026 - 21:22 WIB

BRIN akan Riset Kekuatan Tak Terlihat di Perlintasan KA

28 April 2026 - 20:24 WIB

Trending di Nasional