Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Pada masa peperangan agama meledak antara kaum Protestan dan Katolik pasca-reformasi, para penyebar infeksi yang sesungguhnya adalah banyak pasukan yang berjuang dalam peperangan sipil.
Selama Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman, separuh penduduk mati mengerikan dalam serangkaian aksi penyiksaan dan terror. Namun bagaimanapun, pembinasaan jutaan warga Jerman itu jauh lebih kurang dibanding pasukan perang yang hidup dari merampok dan merebut tanah dibanding lintah yang dibawa para tentara pada kulit dan seragam mereka.
Pasukan Wallenstein menyebarkan tifus dan disentri ke segala penjuru Pomerania dan Saxony.
Sementara itu, Gustavus Adolphus dan Swedes membawa penyakit itu dari Bavaria ke Polandia. Bahkan, bagi Ibu Brecht, Courage bersama kereta kuda, bacteri jauh lebih mematikan ketimbang bayonet.
Selama bangsa Eropa melancarkan penaklukan atas bangsa Amerika, cacar air termasuk di antara mesin-mesin penghancuran.
Ketika Columbus mendarat di kepulauan Karibia, semua penduduk asli disapuh bersih. Hanya sepersepuluh penduduk Meksiko dan Peru yang mampu bertahan hidup terhadap penyakit impor yang melewati benua itu.
Ini tidak berarti taktik terror yang biasa dalam peperangan tidak digunakan. Dalam pembunuhan massal yang dilakukan Alvarado terhadap para penari suci di Tenochtitlan, kini Kota Meksiko, para sejarahwan Aztec mencatatkan kisah mengerikan itu.
Para tentara Spanyol menyerang para penabuh genderang kemudian memotong lengan mereka.
Mereka kemudian memenggal kepala para korban, membiarkannya berguling di lantai. Semua penari juga diserang, ‘menikam perut, menombak, memenggal mereka dengan pedang.
Mereka menarik keluar beberapa korban dari balik tembok sehingga terjatuh ke tanah dengan isi perut terburai. Beberapa penari dipenggal kepalanya dan tengkorak mereka dicacah berkeping-keping.
Pasukan Spanyol ‘menghantam lengan para penari lainnya, sehingga tangan terlepas dari tubuh para korban yang tak berdaya.
Mereka terluka di paha dan sebagian lagi di betis.’ Lebih banyak lagi penari yang perutnya dirobek menganga.
‘Beberapa penari berupaya melarikan diri, tetapi isi perut mereka terburai ketika berlari. Nampaknya, kaki mereka terikat isi perut mereka sendiri. Terlepas dari upaya mereka menyelamatkan diri, mereka tidak bisa menemukan jalan keluar.’
Para tentara Spanyol sebaliknya, terpaksa menyaksikan pengorbanan sahabat-sahabat mereka yang ditikam dengan pisau oleh bangsa Aztek.
Sebanyak 153 tahanan Spanyol dan empat kuda mereka dipenggal menganga oleh para imam Meksiko, yang mengeluarkan jantung mereka, memenggal kepala dan menancapkannya ke tiang-tiang serta menghadapkannya ke matahari, dengan kepala kuda terletak di bawah kepala manusia.
Piramida korban bangsa Aztek nampak mengukuhkan kebenaran penguasaan Kristen. Gomara, yang kemudian menjadi sekretaris Cortez, mengakui bahwa tengkorak 136.000 para korban dipajangkan di dekat piramida paling besar bangsa Tenochitian.
Pintu kuil dipahatkan ‘berbentuk mulut ular, dicat menyala mengerikan, dengan taring serta geligi terbuka lebar, yang menakuti semua orang yang memasukinya, khususnya orang Kristen.’
Setiap kapela di dalam kuil itu dilepoti darah beraroma busuk korban manusia.
Meski besi menaklukan kerajaan batu Meksiko dan Peru, namun penggunaan binatang dari Eropa, kuda dan anjing memperkenalkan hal paling mengerikan dalam diri bangsa Indian Amerika.
Ketika Ponce de Leon menaklukan sebuah perlawanan di Puerto Rico, dia mempunyai seorang anjing jenis hound yang paling ganas bernama Bezerillo, yang mampu merobek orang-orang Indian dan mengetahui ‘manakah dari mereka yang berseteru dan mana yang damai, persis seperti manusia.’
Orang Puerto Rico jauh lebih takut terhadap sepuluh orang Spanyol bersama Bezerillo, ketimbang seratus tentara Spanyol tanpa binatang itu. Dan Bezerillo pun mendapatkan jatah barang rampasan perang sama seperti tentara-tentara yang lain.
Cieza de Leon suatu ketika menemui seorang Portugis, ‘yang memerintahkan potongan-potongan tubuh orang Indian digantungkan di teras rumahnya untuk dijadikan makanan anjingnya, seolah-olah mereka binatang buas.’
Bangsa Indian Amerika melakukan perlawanan terhadap terror biologis dan binatang buas dengan menggunakan panah beracun.
Racun yang dilumurkan pada ujung sumpit suku-suku Amazona pernah dikisahkan dalam legenda Yunani tentang Heracles, yang membunuh Nesus, dengan panah beracun guna menghentikan manusia kuda itu mencabuli isterinya.
Sebaliknya, Heracles dibunuh dengan menggunakan baju pasukan Romawi yang sudah terinfeksi, sebuah metode yang belakangan digunakan kaum Puritan untuk membunuh bangsa Indian di Masachussetts.
Sesungguhnya, panah serta anak panah pahlawan Yunani yang tidak dapat dielakkan dibawa oleh Philoctetes yang menembaki daerah Paris yang landai hingga mengantarkannya kejatuhan Kota Troya.
Para imam Pengembara menggunakan cacar air untuk menghancurkan suku-suku di Massachussetts. Mereka meyakini diri sebagai anak-anak Israel dan alat Tuhan dalam misi kolonial mereka.
Ketika bangsa Indian dilanda infeksi, yang dibawa melewati Lautan Atlantik dalam Mayflower pada 1620, Raja James I dari Inggris menganggap penyakit sampar yang mengerikan di kalangan bangsa asli sebagai berkat ilahi. Ternyata, itu merupakan bentuk perang biologis.
Koloni-koloni pertama ini hanya mampu bertahan hidup seiring dengan kekejaman kapten militer mereka, Miles Standish yang menakuti bangsa Indian lewat penyerangan dan pembunuhan massal serta menggantung siapa saja yang dianggapnya berbahaya.
Kepala seorang pemimpin suku yang terluka parah dipajangkan di atas tiang di Plymouth selama dua puluh tahun.
Ketika Gubernur John Winthrop tiba di Boston, dia mengumumkan,: “Kita akan menyaksikan bahwa Allah Israel berada di antara kita, ketika puluhan dari kita mampu melawan seribu musuh kita, ketika Dia membuat kita dipuji dan dimuliakan.’
Peperangan suci melawan suku-suku Indian dilakukan dengan menggunakan amunisi, kapak dan pembasmian massal. Hanya Roger Williams yang dikucilkan di Providence menentang mengikuti ‘pola bangsa Israel itu’ yang mengarah kepada penindasan dan penghancuran berdarah, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan tidak manusiawi’ dengan menggunakan nama Kristus.
Dalam Perang Pequot, kaum Puritan Inggris serta para sahabat Indian mereka melancarkan pembasmian etnis atas sebagian besar warga New England yang berada di luar kota ‘bangsa Indian yang tengah berdoa,’ dengan menggunakan tiang gantungan, tali penjerat, siksaan bahkan kanibalisme.
Inilah Perang Daud, seorang komandan mengumumkan, karena Saul membunuh ribuan musuh, maka Daud membunuh puluhan ribu musuh.
Ketika seseorang bertumbuh kembang dalam ‘tingginya darah dan dosa melawan manusia dan Allah, maka Dia ‘menyiksa, mencincang mereka serta membantai mereka dengan pedang.’ Sejumlah tahanan Pequot dijadikan budak.
Pada saat itulah para budak Afrika untuk pertama kalinya dibawa ke New England.
Pascaperang yang dilancarkan oleh Raja Philip Bersama federasi Bangsa Indiannya, terjadilah lagi perang yang jauh lebih berdarah-darah. Kepala dan tangan Raja Philip dipotong, tubuhnya dibelah kemudian digantung pada sebatang pohon.
Dan dalam pemberontakan internal yang paling mengancam di Virginia, pada 1672, Nathaniel Bacon mendapatkan dukungan nyaris dari semua koloni melawan Gubernur Berkeley yang ingin ‘menghancurkan dan mengusir keluar semua orang Indian secara keseluruhan, serta semua bentuk perdagangan dengan mereka.’
Pada pertengahan abad delapan belas, ketika aturan-aturan peperangan ditaati di banyak pertempuran bangsa Eropa, kekejaman masih mewarnai bangsa Prancis dan Perang Indian di berbagai medan perang tiga belas koloni.
Berkat bantuan Prancis, Pontiakus menyatukan suku-suku perbatasan untuk merebut kembali Ohio Valley dan kawasan Great Lakes.
Jenderal Inggris Amherst menginginkan agar bangsa Indian diburu dengan anjing sebagaimana bangsa Spanyol melakukannya atas bangsa Aztek. Musuh harus diracuni dengan selimut yang diolesi cacar air guna ’memusnahkan ras yang buruk ini.”
Ironisnya, praktek bangsa Indian menguliti kepala musuh mereka dan mengantung piala-piala berambut ini di pinggang mereka menyebarkan unsur-unsur beracun yang dibawa imigran Eropa jauh lebih baik ketimbang pakaian yang terkontaminasi atau spora anthraks dalam dunia pos modern.
Bersamaan dengan penyebaran koloni di seluruh Amerika Utara, maka Empat Penunggang Kuda yaitu tifus, cacar air, campak dan influenza — membunuh sebagian besar suku-suku yang berada di hadapan mereka.
Meskipun bangsa Indian Sioux dan sekutu-sekutu mereka mengalahkan Jenderal Custer dalam Pertempuran seputar Little Bigh Horn, mereka tidak pernah mampu mengalahkan penyakit mematikan yang dibawa masuk ke tanah mereka yang asri.
Epidemi berkecamuk silih berganti. Seperti ditulis seorang ahli tentang penyebaran penyakit dalam Armies of Pestilence (Pasukan Sampar) ‘Inilah pembunuhan massal berskala besar yang tepat disamakan dengan impian-impian Hitler dan Himmler.’ Kontrateror perang biolgis dalam kota modern Amerika masih menjadi mimpi buruk yang bakal terjadi.**











