Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (42): Boudicca Bantai Orang Romawi di Tiang Gantungan

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist
Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

SWARAJOMBANG.COM— Marlow membawa Kurtz yang kini kembali menuju kapal di sungai, sementara, “cinta terhadap kejahatan dan kebencian mengerikan dari misteri yang dirasuki berjuang memiliki jiwa penuh emosi-emosi primitif, di tengah kegemaran atas popularitas yang menipu, atas perbedaan semu, atas semua penampilan dan kekuasaan yang berhasil.”

Tepian sungai membentang monoton melewati kapal kotor perintis perubahan, penaklukan, perdagangan, pembunuhan sekaligus berkat.

Kurtz mati dengan ekspresi putus asa mendalam tanpa daya dalam wajah dan kata-katanya. “Ketakutan! Ketakutan!.”

Buku Conrad, Heart of Darkness (Inti Kegelapan), tetap menjadi analisis terbaik atas carut marut instik dan ketakutan yang ditemukan oleh bangsa Victorian dalam diri mereka sendiri dalam berbagai perjalanan mereka.

Tidak satu pun orang Inggris mampu menyangkal kenyataan bahwa Boudicca memang membunuh penduduk Romawi London di atas tiang-tiang gantungan bersula atau membakar tawanannya dalam tangan orang-orang keji raksasa.

Orang Victoria tidak dimusnakan dari kalangan orang biadab selama berabad-abad. Mereka tidak pernah mencoba memperlihatkan kecenderungan buas dalam diri berkat peraturan-peraturan perilaku yang kaku.

Yang benar, ketakutan yang Kurtz saksikan di pangkalan semua gejolak nafsu dan misi manusiawi adalah – dorongan jahat untuk menjadi dewa sekaligus binatang buas, untuk mengoyak, mengumpulkan barang, membunuh, mendominasi, membiarkan dirinya sebebas-bebasnya, mengejar, memuaskan dan menemui ajal dalam batas-batas kekuasaan nafsu.

Pelarian diri menuju teror dan hutan-hutan kelam Jerman serta inti diri manusia menjadi solusi akhir terhadap keajaiban Eropa seperti Kurtz.

Para pengikut mereka yang lemah dibiarkan hidup agar dapat mengisahkan sedikit kebohongan peradaban serta melupakan ketakutan dalam akar semua tindakan instinktif manusia.

Dengan kata-kata Arthur Rimbaud, penyair dan pengelana di Asia Timur; “Kami percaya racun. Kami tahu bagaimana menyerahkan seluruh diri kami setiap hari. Dan sekarang, sudah tiba waktunya untuk melakukan pembunuhan”. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Gus Ipul: Fitnah Itu Ada Aliran Dana Rp480 M ke Muktamar NU Jombang, Siapkan Somasi Hukum ke Gus Lilur Cs

23 September 2026 - 22:36 WIB

Keracunan MBG Lagi, 244 Anak Siswa PAUD/TK di Bawang, Diangkut ke Rumah Sakit Batang Jateng

23 September 2026 - 22:00 WIB

Menelisik Akar Terorisme (60): Manifesto Komunis Lahirkan Kaum Bolshevik

23 September 2026 - 21:11 WIB

KPK Operasi Kelima Penggeledahan Sasar Kantor ATR/ BPN Mojokerto

23 September 2026 - 20:50 WIB

Gratis dari TK Hingga Kuliah untuk Sekolah Negeri

23 September 2026 - 20:47 WIB

Hakim Vonis Hukuman Mati kepada Agus Sulaiman, Oknum Polisi Pembunuh Iparnya Mahasiswi UMM

23 September 2026 - 15:48 WIB

Sinergi LSM-Dinas PU: Kawal Proyek Jalan Bluru Ditarget Bermutu Tinggi dan Tepat Waktu

23 September 2026 - 10:33 WIB

Keracunan Makanan PMT di Rawabelang Batang, Puluhan Ibu dan Anak Dirawat di RSUD Kalisari

23 September 2026 - 00:33 WIB

Holi Kejar dan Menabrak Pencuri Motor Hingga Tewas di Ranuyoso, Kasus Hoki Minaya Terulang di Lumajang

22 September 2026 - 20:46 WIB

Trending di Nasional