Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Di berbagai dataran tinggi Skotlandia dan Irlandia, ada banyak dukungan terhadap Deklarasi Kemerdekaan Amerika.
‘Di sini tidak ada orang lain, selain para pemberontak,’ seorang klerik Gereja Irlandia membalas surat Wakil Menlu Urusan Negara-Negara Jajahan di London pada 1775, berkenaan dengan peristiwa Revolusi Amerika.
‘Semua surat-kabar kita benar-benar sadar mendukung pemberontak. Raja dikecam, menteri dikutuk dan agama pun diinjak-injak.’
Pada awal perjuangan, Letnan Muda Ridsdale menginformasikan kepada Hiberman Magazine, bahwa pasukan-pasukan yang ‘mempertahankan semangat dan hidup para pemberontak sepenuhnya adalah orang Skotlandia dan Irlandia.’
Dan seperti dicatat Ebenezer Wild dalam Valley Forge, Perayaan Hari Raya St. Patrick menimbulkan perubahan yang pantas dikenang di kamp-kamp tentara.
Ia menjadi perayaan yang dilakukan orang-orang Irlandia kelahiran Amerika atau para pemukim di sana yang diperkuat oleh para tentara disersi dari pasukan-pasukan Inggris.
Meski resimen-resimen Skotlandia di bawah perwira Inggris sebetulnya memerangi sesama mereka senegara dalam perang kolonial, seperti dilakukan sejumlah Relawan Loyalis Irlandia, namun ada enam pemberontakan kecil di antara pasukan Skotlandia melawan Amerika yang menyebabkan para tahanan pemerintah dilepaskan.
Tidak diragukan lagi bahwa deklarasi Kemerdekaan Amerika mendapat dukungan kuat dari bangsa-bangsa Keltic (Gaelic Nations).
‘Di sini, banyak atau sedikit, kami bersimpati kepada bangsa Amerika,’ seorang anggota parlemen Irlandia menulis surat dari Dublin. ‘Kami berada di dalam cat air sedangkan mereka berada di lukisan dinding. ’
“Kesulitan Inggris merupakan peluang bagi Irlandia,’ telah lama menjadi menjadi kebajikan politik.
Pada 1778, ketika Prancis memasuki Perang Amerika, Irlandia yang protestan membentuk kelompok milisi bernama Para Relawan.
Mereka adalah sebuah pasukan berkekuatan 80.000 orang bersenjata lengkap dibawa pimpinan para ksatria Protestan.
Inggris sangat mengkhawatirkan kemungkinan adanya revolusi Irlandia. Soalnya, tuntutannya dicurigai sama dengan tuntutan Amerika atas.
Yaitu tuntutan, ‘Tidak ada pajak tanpa perwakilan,’ Pemerintah Inggeris karena itu memberikan jaminan kekuasaan sendiri bagi parlemen Irlandia.
Meskipun demikian, konsesi ini sekedar berarti bahwa 1.000.000 kaum Protestan kini menguasai 3.000.000 kaum Katolik yang tidak terwakili di Irlandia.
Sejarahwan Lecky melukiskan system itu pemerintahan melalui wilayah-wilayah yang rusak ‘oleh para tuan Irlandia, khususnya oleh kelas tuan tanah.’
Seperti kemudian dituliskan Theobald Wolfe Tone, pemimpin kaum nasionalis kelompok rahasia pertama di Irlandia; ‘Inilah revolusi ketika satu pukulan justru melipatgandakan nilai tiap pemimpin wilayah perkotaan di kerajaan, yang meninggalkan tiga perempat budak pedesaan kita… dan Pemerintah Irlandia lewat tangan-tangan hina dan keji serta pantas dikecam menghabiskan hidup mereka dengan merendahkan dan merampas tanah itu habis-habisan.’
Dalam bayang-bayang kemerdekaan ini, Para Relawan mulai membuat daftar relawan kalangan Katolik pekerja kemudian bertahap memilah-milah mereka.
Pada 1785, Henry Gattan, seroang pemimpin Protestan dalam Parlemen Irlandia memprotes: ‘Para relawan tua, yang sebenarnya pantas dihormati karena merepresentasikan kekayaan negara, namun ada upaya untuk mempersenjatai orang-orang miskin kerajaan. Mereka pada dasarnya merupakan barang bersenjata: akankah mereka menjadi pengemis bersenjata?’
Di sini, sebagaimana juga di Amerika Serikat, kemerdekaan tidak berarti revolusi sosial.
Para Relawan dipilah-pilah dalam kelompok-kelompok bersenjata, termasuk Para Pemuda Peep o’ Days dan Para Pembela Katolik.
Pada 1790-an, kredo dan contoh Revolusi Prancis memberikan inspirasi segar kepada kaum Katolik Irlandia.
Mereka pun menemukan seorang pemimpin dalam diri pengacara dan pembuat pamphlet muda, Wolfe Tone yang memaklumkan bahwa: “Guna mengubah tirani pemerintahan kita yang benar-benar jahat, untuk menghancurkan hubungan dengan Inggeris… dan guna menegaskan kemerdekaan negara saya— inilah sasaran saya.
Untuk mempersatukan seluruh bangsa Irlandia… untuk menggantikan nama umum pria Irlandia, di tempat denominasi Protestan, Katolik dan pembangkang— inilah maksud saya.’
Wolfe Tone dengan demikian telah merumuskan metode yang mungkin dapat digunakan kaum nasionalis untuk meraih kemerdekaan bagi negara yang tertindas dan terpecah belah.
Di Belfast, dia menyusun resolusi pembentukan Masyarakat Irlandia Bersatu yang menuntut emansipasi Katolik dalam satu Irlandia bersatu yang dikuasai Parlemen yang sudah direformasi.
Sesuai deklarasi Belfast, cabang masyarakat Dublin menambahkan tekad untuk menekan dilakukannya reformasi parlemen melalui ‘afeksi persaudaraan, identitas kepentingan, persatuan hak-hak dan kesatuan kekuasaan di antara orang Irlandia dari semua kelompok keagamaan.’(Bersambung).











